BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 29 Des 2018 14:36 WIB ·

Satu Kampung Selamat dari Tsunami Selat Sunda


 Satu Kampung Selamat dari Tsunami Selat Sunda Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Perjalanan pulang dari Sumur, Ujung Kulon, Pandeglang, Banten, saya sempat memeriksa daerah pesisir. Di sana ada sebuah kampung bernama Kalapa Koneng, Banyuasih, Cigeulis, kabupaten Pandeglang. Letaknya sangat dekat dengan pantai dan merupakan salah satu jalur dari dan menuju daerah Sumur, Ujung Kulon yang terdampak tsunami.

Kampung tersebut berisi 35 Kepala Keluarga. Rumah-rumah mereka memang 70 persen rusak karena tsunami. Namun, semuanya selamat dari terjangan ombak yang kata masyarakat konon mencapai lebih dari 5 meter. Warga sih mengaku tingginya sampai 10 meter.

Dudung, warga setempat dan warga lainnya selamat dari terjangan air bah itu.
Dudung menjelaskan bagaimana ia bisa selamat di saat terjadinya Tsunami Selat Sunda.

Saat itu, ia sedang duduk bersama warga lainnya sekitar 200 meter dari pantai.
Ia tidak menyangka akan ada tsunami. Karena kalau mendengar bunyi air yang mengenai karang pantai sudah biasa.

Hal yang ia ingat, gemuruh saat itu berbeda. Seperti suara kendaraan besar yang membawa alat berat. Ketika air bah itu melebihi tinggi rumah, baru ia sadar akan bahayanya.

Kata Dudung, air itu menghancurkan rumah-rumah yang di dekat pantai. “Tsunami-tsunami!” teriaknya sambil mengajak tetangganya lari ke bukit yang tak jauh dari kampung.

Berbeda dengan Dudung, warga lain bernama Emi Masfufah saat itu mengaku sedang bersama suaminya di dalam rumah.

Ia sempat juga mendengar seperti yang dikatakan Dudung. Gemuruh seperti suara kendaaraan alat berat lewat.

Saat itu ia mendengar kucing mengeong-ngeong di luar rumahnya. Anehnya, kucing itu terus bersuara seperti ingin masuk ke rumah.
Karena tidak tega, ia membuka pintu rumahnya dan mengambil kucing tersebut. Bersamaan itu air masuk ke rumah.

Ia sadar bahwa saat itu ombak besar yang menerpa kampungnya. Tanda-tanda bahaya ini seperti sudah dikenalnya.

Segera ia mencari suami dan anaknya untuk meninggalkan rumah.

Ia sempat melihat ke belakang saat berlari, “Allahu Akbar, Laillahaillahu,” serunya. Ia sadar pasti ia akan terkena ombak besar lagi tinggi.

Namun, Allah masih menyelamatkan ia dan warga kampung Kalapa Koneng.

Air itu, akunya, hanya sedikit mengempaskan dan menghancurkan rumahnya.

Ia selamat dan berhasil naik ke daerah perbukitan, berdiam diri hingga amukan air mereda.

Warga kampung bersyukur mereka tidak menjadi korban tsunami yang diduga akibat aktivitas vulkanik anak Krakatau tersebut.

Saya jadi heran, mengapa para warga terlihat ikhlas dan tidak mengeluh karena rumahnya rusak terkena tsunami? Oh, mungkin karena mereka bersyukur Allah masih selamatkan diri mereka meski harta benda sudah rusak dan lenyap terbawa air.

Satu lagi yang luar biasa, masjid Kampung Kalapa Koneng juga masih tetap berdiri. Tidak rusak sedikitpun. (Ilham)

Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Wali Kota Bekasi Tegaskan Aparatur bukan hanya Administrator tapi juga Eksekutor

21 April 2025 - 12:06 WIB

Trending di Berita Terbaru