BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 27 Apr 2026 13:46 WIB ·

Pudarnya Wibawa Guru akibat Hilangnya Adab


 Pudarnya Wibawa Guru akibat Hilangnya Adab Perbesar

Oleh: Desi Nurjanah, S.Pd

(Aktivis Muslimah)

Imam Malik pernah dinasihati ibunya, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Nasihat ini menegaskan bahwa adab adalah fondasi utama dalam proses pendidikan.

Ungkapan lama “guru digugu dan ditiru” kini terasa memudar. Di ruang kelas yang dahulu sakral, muncul ironi: sosok yang mengajarkan adab justru menjadi korban perilaku tidak beradab. Ketika pelecehan terhadap guru dianggap candaan, muncul pertanyaan mendasar—siapa yang akan mengajarkan penghormatan kepada generasi muda?

Guru Dilecehkan

Dunia pendidikan kembali dihebohkan oleh beredarnya video viral yang memperlihatkan perilaku tidak pantas sejumlah siswa terhadap seorang guru di dalam kelas. Dalam video tersebut, terlihat siswa mengejek hingga melakukan gestur tidak sopan yang dinilai melecehkan.

Peristiwa ini terjadi di SMAN 1 Purwakarta dan menuai kecaman luas karena mencerminkan krisis etika di lingkungan pendidikan. Pihak sekolah telah memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan bahwa selama masa skorsing siswa tetap mendapat pembinaan di rumah. Namun, ia juga menilai sanksi tersebut belum tentu efektif dan mengusulkan pendekatan yang lebih edukatif untuk membentuk karakter siswa.

Pudarnya Wibawa Guru

Kasus penghinaan terhadap guru bukanlah yang pertama. Fenomena ini kerap terjadi, bahkan sebagian dilakukan demi konten media sosial atau pencarian validasi. Keinginan tampil “keren” di hadapan teman sebaya sering kali mengalahkan nilai penghormatan terhadap guru.

Maraknya kasus serupa menunjukkan melemahnya wibawa guru. Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah sanksi yang diberikan selama ini kurang tegas, atau justru guru berada dalam posisi serba salah karena khawatir menghadapi konsekuensi hukum saat menegur siswa?

Apa pun penyebabnya, peristiwa di Purwakarta mencerminkan adanya krisis moral akibat diabaikannya adab dalam pendidikan.

Hilangnya Adab dalam Berbagai Faktor

Hilangnya adab tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor:

1. Keluarga
Pola asuh permisif, kurangnya keteladanan, serta sikap orang tua yang merendahkan guru di hadapan anak turut membentuk perilaku serupa pada anak.

2. Media dan Teknologi
Konten digital yang menormalisasi pelecehan, algoritma yang mendorong konten ekstrem menjadi viral, serta minimnya kontrol di ruang digital mempercepat degradasi adab.

3. Sekolah dan Sistem Pendidikan
Guru kerap kehilangan wibawa akibat tekanan sistem, kurikulum yang minim penekanan karakter, serta beban administrasi yang tinggi sehingga mengurangi kedekatan dengan siswa.

4. Sosial Budaya
Terjadi pergeseran makna kritik, komersialisasi pendidikan, serta memudarnya konsep keberkahan ilmu.

5. Individu Siswa
Krisis identitas, kebutuhan akan pengakuan, serta pengaruh lingkungan pertemanan turut mendorong perilaku tidak beradab.

Secara umum, akar masalah terletak pada cara pandang yang tidak lagi menempatkan guru sebagai sosok yang harus dihormati, melainkan sekadar pekerja.

Kritik terhadap Sistem Pendidikan

Pemerintah melalui Kurikulum Merdeka mengusung “Profil Pelajar Pancasila” dengan enam dimensi utama. Namun, kasus di Purwakarta menunjukkan adanya kesenjangan antara konsep dan praktik.

Nilai-nilai tersebut kerap berhenti pada tataran administratif, belum menjadi perilaku nyata. Respons yang muncul pun cenderung reaktif—baru bergerak setelah kasus viral.

Hal ini menunjukkan bahwa indikator keberhasilan pendidikan masih berorientasi pada laporan dan kegiatan, bukan pada perubahan karakter siswa secara nyata.

Peran Negara dalam Pendidikan

Negara memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, antara lain sebagai:

Regulator: menyusun kebijakan dan kurikulum
Fasilitator: menjamin akses pendidikan
Pendana: mengalokasikan anggaran pendidikan
Penjamin mutu: mengawasi kualitas pendidikan
Pelindung: menjaga martabat guru dan keamanan siswa

Konsep Ki Hajar Dewantara—Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani—menegaskan pentingnya keteladanan dalam pendidikan.

Perspektif Islam

Dalam Islam, adab merupakan bagian dari standar perbuatan yang diatur oleh syariat. Menghormati guru adalah kewajiban, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:
Bukan golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang lebih muda.” (HR. Tirmidzi)

Merendahkan guru, meskipun dianggap candaan, tetap termasuk perilaku buruk (su’ul adab). Oleh karena itu, pendidikan harus menanamkan nilai adab berbasis akidah agar terbentuk kepribadian yang berlandaskan moral.

Penutup

Dalam pandangan Islam, guru adalah sosok mulia yang harus dihormati. Al-Qur’an menyatakan:
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Menjaga adab kepada guru bukan sekadar etika, melainkan kewajiban. Tanpa adab, ilmu kehilangan makna. Oleh karena itu, membangun kembali penghormatan kepada guru menjadi langkah penting untuk melahirkan generasi yang berkarakter dan berperadaban.

Wallahu a’lam bisshawab.

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini