BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Gaya Hidup · 24 Des 2023 15:00 WIB ·

Cara Menyikapi Tahun Baru Masehi Menurut Islam


 Cara Menyikapi Tahun Baru Masehi Menurut Islam Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Tahun baru masehi adalah moment yang dinantikan oleh kebanyakan orang. tidak hanya non Islam, bahkan orang Islam pun banyak yang menantikan dan ikut merayakan tahun baru mesehi. Tahun baru dirayakan pada tanggal 1 januari, hari pertama dimulainya tahun pada kalender Gregorius modern dan juga kalender Julius.

Dilihat dari sejarahnya, asal usul perayaan tahun baru masehi dimulai sejak 4000 tahun lalu atau 2000 tahun sebelum masehi. Perayaan tersebut dicetuskan oleh bangsa Babilonia kuno untuk menghormati kedatangan tahun baru.

Perayaan tahun baru dalam rangka menghormati kedatangan tahun baru yang dilakukan oleh bangsa Babilonia (1696 M-1654 M), tradisi yang dilakukan oleh bangsa Babilonia ini dilakukan dengan mengikuti penanggalan pada bulan pertama vernal equinox (perputaran lingkaran ekuator dan eklipita).

Kalender masehi juga dikenal sebagai kalender Gregorian. Pertama kali dikenalkan pada tahun 1582. Kalender masehi pertama kali digunakan di benua Eropa dan sistem penanggalan ini berdasarkan perhitungan waktu perputaran bumi terhadap matahari.

Tahun baru masehi merupakan perayaan bagi umat kristiani sebagai penanda untuk hari perayaan atas penamaan dan penyunatan yesus. Dalam pandangan Islam sendiri, hal tersebut merupakan suatu hal yang dilarang dalam agama, karena selain tidak ada manfaatnya, banyak mudharatnya dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh nabi Muhammad saw. dalam Hadits yang berbunyi:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Daud Al-Libas, 3512 Al-Albany berkata dalam Shahih Abu Daud, Hasan Shahih no. 3401)

Setiap agama mempunyai hari besar dan peringatan masing-masing. Hadits di atas dapat dipahami bahwa dalam ajaran Islam sendiri kita tidak diperbolehkan untuk ikut serta merayakan apa yang tidak ada dalam ajaran agama kita, cukup sekedar menghormatinya sebagai bentuk dari sikap toleransi terhadap agama lain tanpa harus ikut serta didalamnya.

Memakai kalender masehi itu boleh, namun jika mengikuti ritual, Ibadah, budaya seperti meniup terompet, berfoya-foya, dan menyalankan lilin di malam tahun baru, hal tersebut tidak diperbolehkan, karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam.

Adapun beberapa dampak negatif bagi perayaan tahun baru masehi bagi umat Islam adalah:

Dengan ikut sertanya umat Islam dalam perayaan tahun baru, sama dengan meniru-niru orang kafir/tasyabbah, begadang setelah Isya’ yang tidak ada manfaatnya adalah hal yang dibenci oleh Allah Swt., merayakan tahun baru dengan menyalakan petasan, meniup/menyalakan terompet atau suara bising lainnya, dapat menjadi suatu hal yang dzolim, karena dapat menganggu kenyaman orang lain, dan yang terakhir, maksiat yang paling banyak terjadi pada malam tahun baru adalah ikhtilat (bercampur-baurnya Perempuan dan laki-laki yang bukan mahram) yang dapat menyebabkan maksiat yang lebih besar yaitu perzinaan.

Adapun beberapa cara menyikapi tahun baru menurut Islam agar kita dapat terhindar dari maksiat dan perbuatan yang dilarang adalah:

Tidak minum-minuman yang beralkohol, tidak makan-makanan yang diharamkan dalam Islam, tidak membuat perkumpulan yang menimbulkan kekacauan dan kemaksiatan, tidak menyalakan kembang api dan petasan karena bisa menganggu kenyamaanan orang lain, dan mengisi tahun baru dengan mengadakan kajian Islami, untuk meminimalisir keluarnya orang- orang Islam untuk merayakan tahun baru masehi.

Setiap datang tahun baru, bulan yang baru, baik itu terkait personal kelahiran pribadi ataupun tahun berganti dalam kehidupan, baik masehi maupun hijriah, maka nabi memberi satu contoh yang kuat agar setiap waktu, hari dan tahun yang berganti, agar kita mengoreksi diri untuk meningkatkan amal sholeh, karena itu yang menentukan kebahagian dunia dan akhirat. Dan selalu meyakini bahwa maut itu bisa datang kapan saja.

Koreksi diri dari yang salah, tinggalkan hal-hal yang Allah larang dan kembali kepada jalan kebaikan yang ditunjukan dalam Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Semoga Allah menerima apa yang kita kerjakan di masa lalu sampai detik ini dan Allah membimbing apa yang kita lakukan di masa yang akan datang. (Ayu Pebrina/Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Artikel ini telah dibaca 246 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

EIMA 2025: HIMAKOM LSPR Bersama Bank Mayapada Ajak Anak Marginal Gapai Asa Lewat Bahasa

26 April 2025 - 21:52 WIB

Chicken Pepper Menu Andalanku Di Waroeng Steak & Shake Juanda Bekasi

14 November 2024 - 05:14 WIB

Pemuda Maju Bareng Gelar Festival Tasyakuran 79 Tahun Kemerdekaan RI

18 Agustus 2024 - 12:40 WIB

Giga Indonesia Kritik Keras Aturan Pemerintah Soal Penyediaan Alat Kontrasepsi Bagi Anak Sekolah

6 Agustus 2024 - 21:42 WIB

Grand Opening Jus Masaki Signature Bekasi Meriah Bagi-bagi Voucher Makan Kepada Pengunjung

22 Juli 2024 - 19:36 WIB

Samsung Galaxy S24 Hadir dengan Galaxy AI, Platform Kecerdasan Buatan Generatif

20 Februari 2024 - 16:25 WIB

Trending di Gaya Hidup