BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Gaya Hidup · 13 Mei 2023 22:25 WIB ·

Terapi Karya Seni Sebagai Media Penyaluran Emosi 


 Terapi Karya Seni Sebagai Media Penyaluran Emosi  Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Menurut survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), satu dari tiga remaja Indonesia memiliki kesehatan mental. Sementara satu dari dua puluh remaja Indonesia memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir.

Disebutkan juga bahwa hanya 2,6% remaja memilih berkonsultasi dengan tenaga ahli untuk membantu mereka mengatasi masalah kesehatan mental dan selebihnya mereka memilih untuk menyelesaikannya sendiri. Salah satu masalah kesehatan mental tersebut adalah krisis identitas yang dialami oleh generasi muda karena pengaruh globalisasi dan teknologi.

Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa Ilmu Komunikasi President University mengadakan kegiatan talk show bertajuk “Who am I: Kenali Potensimu” yang merupakan bagian dari CommStride di Living Plaza, Jababeka, Cikarang, pada Sabtu (13/5/2023). Acara ini dihadiri oleh generasi muda usia 18-25 tahun yang sedang bingung untuk menentukan potensi dan emosi yang dimilikinya.

Dalam acara ini terdapat sesi art therapy, sebuah terapi dengan menggunakan karya seni untuk melepaskan konflik batin dan emosi yang terpendam di dalam dirinya (Haniatussa’adah & Purwanto, 2022). Pada sesi ini mereka menggambar sesuatu di sebuah kertas kosong untuk mengekspresikan keadaan yang sedang dialaminya. Melalui sesi ini, secara tidak sadar mereka menunjukkan emosi terpendam yang sedang dirasakannya.

Sabrina Maidah sebagai Psikolog Klinis mengatakan dalam sesi talk show ini bahwa art therapy dapat dilakukan dalam berbagai media, baik secara interaksi langsung maupun interaksi online. Esensi dari kegiatan ini adalah sebagai sarana untuk menuangkan ekspresi yang sedang kita rasakan.

“Dengan kita menuliskan, sebelum kita menggambar, kita melakukan sesuatu, kita jadi lebih memahami apa yang aku rasain gitu. Oh ternyata mungkin, aku lagi butuh di dengerin ya. Oh ternyata mungkin aku lagi butuh punya temen deket ya, kaya gitu,” ujar Sabrina Maidah.

Sabrina Maidah juga menambahkan cara memandang krisis identitas agar tidak menjurus ke hal negatif, yaitu dengan mencari teman untuk berbicara, baik sahabat, orang terdekat, dan psikolog.

“Kalau emang dirasa sahabat gak bisa, temen curhat gak ada solusi, datang ke psikolog gitu. Karena bisa jadi yang kamu butuhkan adalah teman untuk memahami diri kamu secara utuh dan brainstorming diri kamu,” tutup Sabrina Maidah.

 

Artikel ini telah dibaca 43 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

EIMA 2025: HIMAKOM LSPR Bersama Bank Mayapada Ajak Anak Marginal Gapai Asa Lewat Bahasa

26 April 2025 - 21:52 WIB

Chicken Pepper Menu Andalanku Di Waroeng Steak & Shake Juanda Bekasi

14 November 2024 - 05:14 WIB

Pemuda Maju Bareng Gelar Festival Tasyakuran 79 Tahun Kemerdekaan RI

18 Agustus 2024 - 12:40 WIB

Giga Indonesia Kritik Keras Aturan Pemerintah Soal Penyediaan Alat Kontrasepsi Bagi Anak Sekolah

6 Agustus 2024 - 21:42 WIB

Grand Opening Jus Masaki Signature Bekasi Meriah Bagi-bagi Voucher Makan Kepada Pengunjung

22 Juli 2024 - 19:36 WIB

Samsung Galaxy S24 Hadir dengan Galaxy AI, Platform Kecerdasan Buatan Generatif

20 Februari 2024 - 16:25 WIB

Trending di Gaya Hidup