Rabu, Desember 1, 2021
Beranda Berita Kejam, Rumah Yatim Fajar Hidayah Mau Dihancurkan Paksa

Kejam, Rumah Yatim Fajar Hidayah Mau Dihancurkan Paksa

BEKASIMEDIA.COM – Rumah Yatim Fajar Hidayah mau dihancurkan paksa oleh segerombolan orang tidak kenal. Mereka membawa forklift dan mencoba menghancurkan paksa rumah yang sudah ditempati oleh puluhan anak-anak yatim.

Menurut Ketua Yayasan Fajar Hidayah, Mirdas Eka Yora insiden tersebut terjadi pada Kamis (21/10/2021). Sejumlah orang itu, bahkan sempat melukai anak-anak yatim.

“Bahkan ada satu anak yatim kakinya dilindas oleh Forklift secara paksa, sehingga bagian kelingking kakinya mengalami luka. Selain itu, terjadi juga perusakan yakni kendaraan Hyundai bernopol F 1020 TFE di lokasi kejadian,” katanya.

Kronologi

Mirdas mengatakan ihwal sengketa lahan dan bangunan itu berawal dari pembangunan sebuah masjid Fajar Hidayah di Kota Deltamas, Kota Bekasi, pada tahun 2006 silam. Dalam pembangunan itu, dia mempercayakan kepada pemborong bernama Abdul Syukur.

dua bangunan rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh puluhan yatim piatu secara diam-diam telah dilelang oleh PN Cibinong Kelas I A. Ia mengaku punya bukti-bukti kuat bahwa Yayasan Fajar Hidayah pemilik sah dua bangunan yang terletak di komplek Pesona Amsterdam Blok I Kota Wisata.

Namun, masjid yang dibangun itu roboh total. Diduga, sarana beribadah dibangun tidak sesuai dengan standar atau ada malpraktik saat membangunan masjid tersebut.

“Proyek itu mesjidnya rubuh total sehingga, hancurnya mesjid itu belum kita tuntut sama sekali,” ungkap Mirdas.

Tak sampai disitu, Mirdas mengaku, pihaknya didatangi oleh debtcollector dari suplier pemborong. Karena usut punya usut pemborong belum membayar bahan bangunan yang diambilnya.

Namun, kami berhasil membuktikan dan pada akhirnya, Abdul Syukur harus mendekam dibalik jeruji akibat perbuatannya.

“Jadi akhirnya sampai dia pernah bermasalah, sempat masuk penjara, dan istri beliau minta tolong ke saya untuk keluarin, nah saya bantu,” kata Mirdas.

Bukannya berterima kasih, Abdul Syukur malah menuding Yayasan Fajar Hidayah menunggak utang senilai Rp 2,3 miliar kepada pihak pemborong. Tak terima dengan tuduhan itu, kata Mirdas, pihaknya membawa perkara ini ke pihak berwajib dan dilakukan audit oleh lembaga independent. Hasilnya, dinyatakan bahwa pihak Yayasan Fajar Hidayah telah membayar lunas dan tidak hutang ke pihak pemborong.

“Setelah diaudit terbukti kita sudah bayar Rp 3,7 miliar (hasil audit keseluruhan proyek yang pernah Abdul Syukur kerjakan) malah kelebihan 300 juta. Jadi, sudah selesai dengan kondisi proyek tidak sempurna, nah kita tetap masih tidak menuntut,” terang Mirdas.

Abdul Syukur tidak terima dan secara diam-diam, ia memperkarakannya dengan tuduhan pihak Yayasan Fajar Hidayah belum melakukan pembayaran. Akhirnya, pada medio tahun 2017 silam Pengadilan Negeri Cibinong mengirimkan surat yang dikirimkan ke kelurahan bukan ke pihak Yayasan Fajar Hidayah yang jaraknya beberapa meter dari kantor kelurahan.

Sehingga, pihak Yayasan Fajar Hidayah tidak mengetahui perihal surat pemanggilan yang sudah dikirim sebanyak empat kali. Akibatnya, perkara tersebut diputuskan secara pihak dan inkrah tanpa adanya sidang.

“Inkrah langsung nggak ada sidang, dan divonis siap dirampas. Ini perampokan, dibilang rekayasa karena kita hanya lima menit dari kantor desa. Ditujukan ke saya, tapi sampainya ke desa. Pernah ditanya ke desa kenapa nggak dikasih ke saya,” ucap Mirdas.

Mencari Keadilan

Atas kejadian tersebut, Mirdas melakukan perlawanan (verzet) terhadap putusan verstek yang masih diperiksa di Mahkamah Agung (MA). Menurutnya Pengadilan Negeri Cibinong telah melanggar hak-hak hukum yang seharusnya tidak bisa melakukan inkrah tanpa sidang.

“Kita mencari keadilan jangan sampai sekolah Islam dibuat semena-mena mentang-mentang ada yang kuat. Ini perampasan-perampasan seperti ini harus disetop harus, disuarakan tindakan merekayasa seperti menjalani hukum, padahal mafia,” tegas Mirdas.

Untuk diketahui bangunan rumah beserta tanahnya yang ditempati anak-anak yatim  telah beralih kepemilikan atas nama Henricus Samodra. Dalam surat pemberitahuan eksekusi tertera ‘Tanah berikut bangunan berdasarkan Sertifikat Hak Guna bangunan No.6021/Ciangsana, Surat Ukur No.111/Ciangsana/2007 Tgl 28-02-2017, luas 240 m2, nama pemegang hak: HENRICUS SAMODRA, yang terletak di Perumahan Kota Wisata Cluster Amsterdam 111 No.31 Kel. Ciangsana Kec. Gunung Putri Kab. Bogor’.

Kemudian Tanah berikut bangunan berdasarkan Sertifikat Hak Guna bangunan No.6021/Ciangsana, Surat Ukur No.112/Ciangsana/2007 Tgl 28-02-2017, luas 240 m2, nama pemegang hak: HENRICUS SAMODRA, yang terletak di Perumahan Kota Wisata Cluster Amsterdam 112 No.32 Kel. Ciangsana Kec. Gunung Putri Kab. Bogor’.

RELATED ARTICLES

Most Popular