Selasa, September 21, 2021
Beranda Inspirasi Pentingnya Cuti Saat Pandemi Covid-19 Makin Parah

Pentingnya Cuti Saat Pandemi Covid-19 Makin Parah

Buat yang sudah bekerja dan masih work from home alias WFH, mungkin merasakan jika di kerja di rumah sama dengan libur. Meski di rumah, WFH tentu berbeda dengan libur. Kita tetap bekerja, buka email, menghubungi klien hingga mengecek update tentang pekerjaan lainnya.

Ketika orang mulai bekerja dari rumah, karena pandemi virus corona, tidak ada yang benar-benar mengantisipasi berapa lama pandemi dan pembatasan akan berlangsung.

Masuk akal jika tidak ingin terburu-buru menggunakan cuti pada awal wabah COVID-19. Namun, jika sudah WFH sejak awal pandemi Maret lalu dan bahkan sebelumnya pun juga sudah terus bekerja dengan sedikit atau tanpa hari libur sama sekali, inilah waktunya untuk rehat sejenak atau mengambil cuti.

Saat ini mungkin membutuhkan waktu istirahat lebih banyak untuk kesehatan mental, karena ketika bekerja dari rumah, lebih sulit untuk menetapkan batasan antara waktu kerja dan pribadi. Hal ini dapat mengakibatkan jam kerja lebih lama atau merasa kamu harus bekerja bahkan saat kamu tidak bekerja.
Kenapa Butuh Cuti WFH.

Konsultan dan HRD PT Karya Nusa Ilmu, Ika Ramadhani menyarankan untuk mengambil cuti selama WFH, karena itu merupakan hak karyawan. Ia memandang mungkin selama WFH tingkat kecemasan lebih tinggi, karena terkurung di rumah dan tidak kemana-mana.

“Apalagi dengan peningkatan covid19 pastinya tidak bisa menyalurkan emosi dan jiwa seperti pergi ke bioskop, berolahraga di luar, atau menghadiri pesta. Jadi mengambil cuti adalah liburan untuk merawat diri, terutama selama pendemi COVID-19,” katanya.

Meski demikian di tiap perusahaan berbeda-beda dalam cuti karyawan. Ada yang menggantikan cuti dengan pemberian insentif atau gaji, ada yang benar-benar mewajibkan cuti kepada karyawan.

“Di pabrik misalnya, ada sebagian perusahaan harus menggantikan cuti karyawan dengan insentif, karena tidak mungkin meminta seluruh karyawan untuk WFH. Sedangkan di perusahaan seperti di Bank ada kewajiban untuk mengambil cuti, kalau tidak hangus,” katanya.

Presiden FSPMI Riden Hatam Aziz berpandangan di saat pandemi ini dari awal sudah menggaungkan untuk memberikan pengurangan waktu bagi pekerja, salah satunya adalah cuti buruh.
“Namun, sampai saat ini hanya bagian kantor dan bagian tertentu. Di bagian produksi banyak yang tidak melakukan, karena bisa terganggu operasional,” katanya.

Apalagi total karyawan di sebuah perusahaan Industri itu bisa tiga belas ribu orang. Untuk itu ia meminta perusahaan memberikan cuti pada karyawan.

“Bagi yang belum mengambil cuti di situasi hari ini, untuk mengurangi intensitas memutus rantai covid 19,” katanya.

Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan European Foundation for the Improvement of Living and Working (2017), menyebutkan, 41% karyawan yang bekerja jarak jauh melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja di kantor, yang sebesar 25%. Tekanan psikologis karena pekerjaan dapat memicu depresi.

Bila Cuti Apa yang Harus dilakukan

Yang bisa dilakukan selama cuti di rumah saja menurut Ika adalah mematikan ponsel Ini merupakan detoksifikasi dari segala “gangguan” yang mungkin muncul terkait pekerjaan.

Kedua, adalah jalan-jalan dengan prokes.

“Berjalan-jalan bermanfaat bagi kesehatan mental dan kesehatan fisik. Jalan kaki secara teratur dan cepat dapat membantu meningkatkan suasana hati.

“Selain jalan-jalan mungkin bisa menonton televisi atau mencoba beberapa gerakan olahraga di rumah,” katanya.

Kedua, kata Dia, Selama cuti, bisa melakukan hal-hal yang disenangi.

Misalnya memasak, membaca buku, atau mungkin menonton serial drama Korea.

Jika cara ini tak cukup banyak membantu kondisi psikologis.

“Manfaatkan layanan konsultasi online terkait kesehatan mental,” katanya. (Lam)

RELATED ARTICLES

Most Popular