fbpx

Refleksi HSN Memaknai Peran Besar Ulama dan Santri dalam Kemerdekaan

BEKASIMEDIA.COM – Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 di Mesjid Istiqlal Jakarta menetapkan Hari Santri Nasional (HSN). Dari tahun ke tahun, peringatan HSN semakin semarak, tak terkecuali di tahun 2020 ini. Sebelumnya yang mengenang Hari Santri biasanya lebih banyak dari kalangan Ormas Nahdhatul Ulama (NU) atau pesantren NU, kini hampir semua Ormas Islam bahkan partai politik berbasis Islam merayakannya.

Tanggal 22 Oktober 1945, tokoh pahlawan nasional KH Hasyim Asy’ari mencetuskan resolusi jihad, melawan sekutu pasca proklamasi kemerdekaan. KH Hasyim Asy’ari mengumpulkan para ulama untuk menyerukan seruan resolusi jihad bela bangsa bagi semua kaum muslimin di Surabaya dan sekitarnya pada radius 2 marhalah atau radius 90 KM. Inilah kemudian yang menjadi rujukan penetapan HSN.

“Semua para mujahid yang meninggal di Medan laga berstatus Syahid.
Di tengah kebingungan Pak Karno dan Bung Hatta waktu itu karena usia kemerdekaan Republik Indonesia masih muda, dijawab dengan fatwa resolusi jihad sehingga melahirkan 10 November sebagai hari pahlawan. Arek-arek Suroboyo di bawah pimpinan Bung Tomo, seorang santri, menyambut seruan Hadratus Syaikh,” jelas Politisi Partai PKB kota Bekasi, Ahmad Ustuchri, pada Kamis (22/10/2020).

Seruan resolusi jihad ini lantas menggema se-nusantara karena melibatkan para ulama. “Khususnya yang terdekat dari kita waktu itu Ulama Betawi Guru Marzuki di Cipinang Muara. Waktu itu (Cipinang Muara) bagian dari Bekasi. Artinya, Bekasi berperan penting juga dalam resolusi jihad,” ujar Ustuchri.

Ustuchri menilai ada perkembangan pemahaman soal Santri karena sebelumnya kaum santri dimaknai sebagai seseorang yang pernah mondok saja. Sekarang makna santri itu sudah berkembang sebagai seseorang yang ingin, sedang dan terus mendalami ilmu agama.

“Ormas dan Parpol bahkan ikut merayakan hari Santri sebagai sebuah langkah penting dalam kemerdekaan bangsa. Bahwa peran Santri dan ulama sangat sentral.
Oleh karena itu kita berharap ini bukan semata seremonial belaka, tapi semakin meneguhkan memori kolektif bangsa bahwa peran ulama dan santri dan seluruhnya ini berperan besar dalam kemerdekaan republik ini,” jelasnya.

Aleg DPRD Kota Bekasi ini juga berharap saham ulama santri dalam kemerdekaan bisa diterjemahkan mengisi kemerdekaan dan menikmati hasil kemerdekaan.

“Sampai saat ini pesantren belum dapat perhatian dari pemerintah. Memang sudah ada UU santri tapi belum ada implementasi karena PP dan Permennya belum ada,” ulasnya.

Pihaknya mengaku telah menginisiasi Perda Pesantren tetapi belum bisa dilaksanakan dan dibahas dengan tuntas hingga ke langkah operasional.

“Kita berharap Menteri Agama, Presiden, tidak menempatkan Hari Santri sebagai seremonial belaka. Tapi segera menuntaskan Undang-undang Pesantren
yang akan melengkapi UU Sistem Pendidikan Nasional. Sehingga tidak membedakan jenis-jenis pendidikan, negeri dengan swasta, sekolah madrasah, formal dan informal. Agar semua dapat perhatian yang sama,” imbuhnya.

Pihaknya mengaku di Bekasi Perda Pesantren sedang disiapkan. “Tinggal menunggu aba-aba dari pemerintah pusat dan kelengkapan peraturan perundang-undangan. Maka segera Perda kita bahas dan kita jadikan pedoman. Sehingga Pemda tidak ragu membantu pesantren,” ungkapnya.

Selama ini kata Ustuchri Pesantren tidak pernah menuntut banyak kepada pemerintah. Tapi sebagai pemerintah yang menghargai jasa para ulama, sudah sepantasnya memperhatikan pesantren sebagai bentuk penghargaan kepada para ulama yang ikut berjuang memerdekakan bangsa.

“Siapa yang mendidik kita awal mula melek huruf ya guru-guru ngaji kita di surau. Setelah tahun 80-an baru dibangun SD Inpres di kampung-kampung. Sampai hari ini jasa pesantren dibutuhkan ketika ada event-event yang menguji kesatuan negara Republik Indonesia. Maka ulama menjadi katalisator, menjadi jembatan bagi kepentingan yang berbeda. Di sinilah karomah dan wisdom para ulama kita sehingga bangsa kita bisa berulang tahun sampai yang ke-75 dan kita berharap bangsa ini semakin sejahtera dan mampu memberi kemakmuran penduduk lewat penghargaan terhadap jasa para ulama,” pungkasnya. (Denis)

%d blogger menyukai ini: