fbpx

Cerita Pasien Covid19 dari Wisma Atlet: Sekelas Hotel Bintang 3

Sumber Foto: Kompas.com

BEKASIMEDIA.COM – Siapa sih yang ingin sakit dan terpapar virus covid19? Semuanya pasti akan lebih memilih sehat dan tidak dijemput petugas nakes menuju tempat khusus perawatan Covid19, salah satunya ke Rumah Sakit Darurat (RSD) Wisma Atlet di Jakarta.

Namun, jika sudah telanjur positif covid19 ya mau bagaimana lagi? Mau tidak mau harus isolasi mandiri atau jika tidak memungkinkan isolasi mandiri di rumah, opsi lainnya pasti dijemput petugas untuk diantar ke RS atau gedung perawatan lain khusus pasien covid19 di daerah masing-masing, semisal RSD Wisma Atlet. Baik bagi OTG Positif, bergejala ringan maupun berat.

Ya. Belakangan nama Wisma Atlet memang tertanam di benak banyak orang karena asrama para atlet tersebut kini beralih fungsi menjadi RSD Covid19. Yang awalnya hanya menampung puluhan pasien, kini sudah ribuan.

Semakin banyak dibicarakan, banyak pula cerita negatif yang tersebar seputar perawatan di Wisma Atlet saat Covid. Oleh karena itu, akhirnya banyak yang menolak dibawa ke sana. Bahkan banyak yang menolak dites Covid karena katanya takut dibawa ke sana.

Ya. Ketakutan karena ketidaktahuan memang wajar. Padahal banyak kisah “nyaman” dari para pasien covid di RSD Wisma Atlet. Salah satunya dibagikan seorang warga Jakarta bernama Muhamad Hanapi di akun Facebook-nya

https://www.facebook.com/1007523711/posts/10220377073029401/

Dalam unggahannya tersebut, Hanapi menceritakan bahwa awalnya ia juga sempat ragu dan menolak diisolasi di sana. Namun pada akhirnya, ia patuhi peraturan tersebut dan merasakan banyak hal positif selama isolasi. Begini cerita lengkapnya:

JANGAN MAU KE WISMA ATLET !ย ๐Ÿ˜ก
JIKA OGAH ALAMI SPT YG SAYA RASAKAN.ย ๐Ÿ˜Š

Bagi Anda (warga Jakarta) yg sudah menjalani tes swab dan hasilnya positif Covid-19, bisa dipastikan Anda akan diwajibkan isolasi mandiri di Wisma Atlet, Kemayoran. Karena mulai 14 September lalu, Gubernur Anies Baswedan sudah melarang warganya melakukan isolasi mandiri di rumah. Jadi ini hukum nya wajib.

Sebagai OTG POSITIF saya juga diwajibkan isolasi mandiri di sana. Tapi sy menolak dg halus. Sy katakan ke dokter bahwa sy bisa isolasi mandiri di rumah. Bisa jaga jarak dg anak dan istri. Bisa jalankan protokol Covid-19. Punya kamar memadai. Ada persediaan vitamin cukup. Dst…..Pokoknya sy yakinkan ke dokter sy ga perlu lah di bawa ke Wisma Atlet. “Kalo boleh memilih, sy lebih suka di rumah aja dok”, tolak sy dengan halus.

Bukan apa-apa. Setiap mendengar ttg Wisma Atlet entah mengapa yg terbayang adalah hal-hal yg negatif. Seperti antrian panjang ambulan, ruang isolasi jelek, pelayanan kurang bagus dan sebagainya. Fakta bahwa Wisma Atlet khusus utk isolasi pasien Covid-19 saja sudah cukup bikin sy mikir yg bukan-bukan.

Sy juga dengar di beberapa wilayah Jakarta ada pasien yg sampai harus dijemput paksa karena bersikeras tdk mau diisolasi mandiri di Wisma Atlet. Sehingga malah terjadi keributan yg tdk perlu. Hal-hal tsb yg bikin sy tambah ragu dan was-was.

Tapi..Tentu saja dokter mengabaikan itu dan ga akan gegabah menuruti permintaan sy. Bisa-bisa dia nanti yg disalahkan jika membiarkan sy di rumah. Maka akhirnya sy dijadwalkan berangkat ke Wisma Atlet hari Rabu, tgl 23 September Jam 2 siang.

Utk menghindari kesan horor di warga sekitar, sy tidak dijemput dari rumah. Tapi dijemput di PKM Kembangan, bersama dg 7 pasien OTG lainnya. Jadi tetangga sekitar ga tau kalo sy berangkat ke Wisma Atlet.

Lalu..Kira-kira jam 3 sore kami diberangkatkan menggunakan bus sekolah. Tapi tetap diiringi ambulan dan vorjider. Ngebut banget. Bikin perut mual. Makanya dlm waktu kurang dari setengah jam bisa sampe di Wisma Atlet. Gile emang nih sopir.ย ๐Ÿ˜ฃ

Alhamdulillah bangetz, sore itu antrian cukup sepi. Registrasi dan pembagian kamar cuma nunggu 1 jam aja. Jadi jam 5 sore sy sudah check-in kamar 41703. Tower 4 Lt 17 nomer 03.

Kondisi di Wisma Atlet :
> Kondisi Kamar bersih
> AC 1 PK
> Kamar mandi ada air panasnya
> Ada dispenser (tdk semua kamar)
> Wi-Fi gratis kenceng
> Ruang jemur cukup
> Fasilitas Olahraga dan berjemur
> Pakaian cuci sendiri

Makan/Minum
> Makan besar 3 x sehari.
> Snack pagi : roti, susu, kue
> Vitamin C
> Kalo bosen bisa pesan online via ojol

Kegiatan diserahkan kepada masing-masing pasien. Bebas aja. Boleh bersosialisasi dg sesama OTG yg lain.

Karena ini wisma sekelas hotel bintang tiga ya lumayan lah. Overall cukup nyaman utk kegiatan isolasi mandiri. Karena makan dan minum terjamin, kita bisa fokus melakukan kegiatan yg bisa meningkatkan imunitas. Kita bisa berjemur, joging ataupun senam kapan saja kita mau.

Alhamdulillah…Itulah yg sy alami dan sy rasakan ketika isolasi mandiri di Wisma Atlet. Sy bersyukur bisa mendapatkan kesempatan menikmati pelayanan seperti itu. Terimakasih pak Anies. Anda memang Goodbener.ย ๐Ÿ‘๐Ÿ˜€

Akan tetapi, mungkin tidak semua orang mau dan bisa menikmati apa yg sy alami di sana. Sehingga mereka menolak.

Biarin aja. Rugi sendiri sebenarnya. Makanya sy bilang jangan mau ke Wisma Atlet jika memang ogah mendapatkan pelayanan yg menurut sy cukup memuaskan dari pemerintah.

Dah gitu aja. Sory kepanjangan ceritanyaย ๐Ÿ˜€๐Ÿ™

——-
Disclaimer : Sy tdk tanggung jawab apabila ada pihak yg mengalami hal berbeda dari yg sy ceritakan. Karena lain waktu bisa jadi lain kondisinya. Mungkin juga tergantung amal perbuatan masing-masing. He..heย ๐Ÿ™๐Ÿ˜€

Selain Hanafi, sebelumnya juga banyak warganet yang bersedia berkisah di berbagai kanal media sosial soal pengalaman menjadi pasien covid19 di Wisma Atlet.
Kendati demikian, meskipun banyak kisah positif dari sana, alangkah lebih baik mencegah diri kita terkena penyakit. Mari bantu meringankan beban tugas para petugas kesehatan dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. (anr)

%d blogger menyukai ini: