fbpx

Wakil Rektor LSPR: Mahasiswa Sudah Bisa Adaptasi dengan E-Learning

BEKASIMEDIA.COM – London School Public Relations (LSPR) baru saja meresmikan program pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau E-Learning. Taufan Akbar selaku Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan menyatakan bagi LSPR e-learning bukan hal baru, oleh karena itu, di masa pandemi seperti ini LSPR dan mahasiswa sudah bisa beradaptasi dengan kegiatan belajar jarak jauh secara daring.

“Dari sisi kemahasiswaan ini kita sedang dalam fase transisi. Ada dua jenis karakter mahasiswa dari analog ke digital. Masa SMP dan SMA adalah masa analog dan baru menyentuh digital masa kuliah sehingga mereka menyesuaikan dan cukup ada effort yang besar di sana,” jelas Taufan.

Sementara untuk generasi yang baru mau kuliah, 100 persen sudah menghabiskan hidup di era teknologi. Sudah tahu, sudah dengar dan merasakan. Dan saat ini, kata Taufan masyarakat Indonesia berada pada satu situasi antara institusi dan mahasiswa belajar beradaptasi di tengah fenomena baru.

“karakeristik mahasiswa itu pun mengikuti perubahan yang ada di kampus.
Generasi mereka, generasi digital.
harusnya sih bisa menyesuaikan,” jelasnya.

Adapun konsep E-Learning, kata Taufan disesuaikan dengan karakeristik mahasiswa. Kendati demikian ia tidak menampik adanya trial and error.

“Itu ada tapi itu bagian dari perubahan,” ujarnya.

Taufan juga menyatakan karakteristik mahasiswa itu berbeda dan makin sulit ditebak arahnya ke mana. Mereka secara mental sudah memprediksi mereka akan hidup dengan percepatan teknologi. Itu dunia mereka, dari segi kecanggihan, fitur, lebih update dan biasanya mahasiswa lebih tahu. Dosen menjadi fasilitator dan mentor bukan lagi eksekutor satu arah di depan kelas. Peran pengajar saat ini bergeser di tengah-tengah bersama mereka,” tukasnya.

Saat ini, kata Taufan dosen dituntut untuk lebih update agar bisa mengimbangi apa yang mahasiswa mau dan apa yang mahasiswa tahu.

“Yang membedakan cuma wisdom sama experience mereka saja. Akses informasi sama. Mereka (mahasiswa) tahu lebih banyak dari kita.
Dosen tinggal mengimbangi apa yang mahasiswa mau dan apa yang mahasiswa tahu. Untuk dosen, ini lebih ke tantangan agar mahasiswa tidak bosan. Contoh yang relevan seperti apa karena yang diinginkan mahasiswa adalah relevansi,” ujarnya.

Selain tantangan bagi dosen, kata Taufan situasi ini menjadi challenge tersendiri bagi institusi pendidikan saat ini.

Meskipun semua beralih ke platform digital, Taufan menyatakan ukuran evaluasi kinerja bidang pendidikan kemahasiswaan tetap berjalan semestinya sehingga pihaknya mereformasi bentuk-bentuk kegiatan offline ke online.

“Kita 3 bulan ini mencoba dan antusiasme mahasiswa baik. Konsentrasi dan fokus juga lebih baik. Mereka sudah dalam fase menyesuaikan, semua sudah fase normal Adaptasi Kebiasaan Baru. Tinggal mereka menyesuaikan dengan apa yang institusi mau,” tukasnya.

Peralihan dari analog ke digital ini, kata Taufan tidak lantas menghilangkan fungsi kampus sebagai tempat mahasiswa berjejaring dan berkolaborasi. Karena teknologi digital hanya media saja.

“Karena yang penting dari unsur pendidikan adalah interaksi sosial. Interaksi sosial tatap muka itu tidak boleh hilang,” pungkasnya. (denis)

%d blogger menyukai ini: