fbpx

Pengamat UGM: Jenuh dengan Figur Politisi, Sekarang Eranya Jualan Program dan Kekuatan Jaringan

BEKASIMEDIA.COM – Pengamat politik lulusan Universitas Gadjah Mada, Adi Susila menyatakan di era digital sekarang kekuatan program dan jaringan menjadi keunggulan tersendiri bagi seorang politisi maupun sebuah organisasi partai politik yang dipimpinnya.

Menurut Adi, figur seseorang bisa saja sampai pada titik kejenuhan bagi kader dan pendukungnya, itulah sebabnya kaderisasi kepemimpinan menjadi sebuah keniscayaan. Kendati demikian masih bisa bertahan eksistensinya jika memiliki dua kekuatan tadi.

“Kalo dari sisi figur mungkin orang sekarang juga sudah mulai jenuh, tinggal Bang Pepennya bisa tidak dia menciptakan program yang menarik dan mampu membangun jaringan. Kalau ini bisa dia bangun mungkin dia masih bisa eksis,” ujar Adi Susila kepada bekasimedia.com, Ahad, (28/6/2020) menanggapi munculnya kembali nama Rahmat Effendi (Pepen-red) dalam perhelatan Musda Golkar.

Menurutnya, banyak faktor agar Partai Golkar (PG) bisa bagus kedepannya. Misalkan dari segi figur, kedua dari segi program dan jaringan. “Mungkin kalau dari sisi figur calon lain pada takut karena figur Rahmat Effendi ini sangat mendominasi, akibatnya tidak ada tokoh dibawah dia yang muncul,” tukasnya.

Akan tetapi kalau Bang Pepen, sapaan akrabnya, tetap masih mau memimpin Partai Golkar berarti dia harus mempunyai 2 hal untuk bisa menaikkan PG-nya. Pertama adalah programnya harus lebih bagus dan yang kedua jaringannya harus lebih kuat, katanya.

“Karena memang teorinya seperti itu, sekarang ini kan eranya digital apapun itu baik dia bisnis maupun lainnya semua poin pentingnya ada di kekuatan jaringan dan kekuatan program programnya,” sambung dosen Unisma yang juga alumnus Universitas Gadjah Mada tahun 1995 ini.

“Misalnya kita mau jualan, sepanjang yang kita jual kualitas produknya bagus kemudian ditambah kita mempunyai kekuatan jaringan pasti laku dagangan kita.”

Biasanya, kata Adi, kalau di organisasi dia anteng atau tidak, itu tergantung nanti apakah dia mampu mengakomodir atau tidak. “Nah kayaknya beliau ini akomodatif, seperti halnya dulu pak Harto ia didukung terus karena dia piawai dalam mengakomodir kalangan di internal partainya,” lanjutnya.

“Kalau sepanjang ia mampu mengakomodir seluruh komponen di internal partainya, lalu kemudian kader kader lainnya bisa menerima saya kira tidak ada friksi, artinya tidak ada orang yang mau mencoba menggantikan kecuali yang bersangkutan mengundurkan diri atau lengser,” katanya.

“Dan sepertinya beliau akan menjadi king maker,” pungkasnya. (denis)

%d blogger menyukai ini: