fbpx

Jelang New Normal, LSPR Siapkan Lima Protokol Belajar-Mengajar

JAKARTA, 3 Juni 2020 – Dampak pandemi coronavirus terhadap dunia pendidikan memang luar biasa. Data Unesco menyebutkan, pada tahun 2020, ada 1,1 miliar pelajar di seluruh dunia (mulai dari TK hingga perguruan tinggi) menerapkan belajar dari Rumah. Selain itu, ada sekitar 63 juta dosen dan guru di seluruh dunia yang tidak pergi mengajar. Serta ada sebanyak 144 negara yang menerapkan penutupan daerah atau lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Hal itu menunjukkan bahwa krisis Covid-19 bukanlah masalah sederhana dan sekaligus ini merupakan tantangan, terutama bagi pengelola pendidikan, termasuk perguruan tinggi.

Bahkan, untuk kembali normal dibutuhkan waktu yang cukup panjang. Oleh karena itu, rencana pemerintah Indonesia melonggarkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) pada Juni ini, direspon London School Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute dengan mempersiapkan sejumlah protokol belajar-mengajar demi menghadapi masa pelonggaran PSBB sekaligus era New Normal.

Pertimbangan utama dalam protokol ini adalah keamanan kesehatan dan kenyamanan mahasiswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Demikian juga para staf, karyawan dan dosen yang bekerja mendukung dan terlibat dalam proses belajar mengajar tersebut.

Dijelaskan Founder & CEO LSPR Communication & Business Institute Prita Kemal Gani MBA, MCIPR, APR, LSPR sudah mempersiapkan protokol belajar-mengajar sejak sebelum PSBB diberlakukan pada 20 Maret 2020. “Kami sudah menyiapkan dan melakukan pelatihan terkait hal ini. Sebab, LSPR memiliki 5.000 mahasiswa, 325 staf, dan 260 orang pengajar. Tidak mudah untuk membuat semua orang tiba-tiba berubah. Oleh karena itu, kami sudah jauh-jauh hari mempersiapkan hal ini sejak awal Maret 2020. Pada saat WFH (Work From Home), kami juga harus berpikir kreatif untuk merancang strategi dalam menghadapi pandemi ini,” ucapnya.

Beruntung, LSPR sudah memiliki pengalaman dengan e-learning. Lantaran, LSPR sudah memiliki program PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) sejak lima tahun lalu. “Jadi, kami sudah punya learning management system, e-learning strategy, memiliki ratusan modul yang sudah dibuat dalam bentuk online, dan sebagainya. Dengan demikian, bagi LSPR, e-learning memang bukan hal yang baru. Hanya tinggal kami modifikasi saja,” ungkapnya.

Ada lima strategi yang telah dilakukan LSPR pada jelang PSBB hingga New Normal nanti. Berikut ini adalah lima strateginya.

#1 Mempersiapkan Online Learning atau e-Learning.

Online learning yang dipersiapkan LSPR bukan sekadar percepatan teknologi dan mendigitalisasi apa yang ada di class room. “Online learning yang kami persiapkan harus mengandung Wow Effect dan Engagement agar mahasiswa dapat tertarik mengikuti kelas online. Artinya, konten pembelajaran harus dibuat sekreatif mungkin agar menciptakan Wow Effect dan engagement,” jelas Prita.

Oleh karena itu, materi dikemas layaknya program kuis ‘I Want to Be Millioner’, Treasure Hunt, Wheel of Fortune, dan sebagainya. Untuk bisa menyajikan pembelajaran seperti itu, LSPR telah melatih para dosennya agar dapat mengemas materi secara fun berformat games.

#2 Mempersiapkan Rule Selama Mengikuti Kelas Online

LSPR telah menetapkan aturan untuk diikuti oleh mahasiswa dan dosennya ketika kelas online berlangsung, mereka harus rapi layaknya sedang kuliah offline di kampus. “Pada saat kelas online berlangsung, tidak ada yang boleh hanya pakai baju tidur, rambut rapi, background dalam format resmi atau tidak boleh di tempat tidur, dan sebagainya. Dengan demikian, e-learning environment yang menyenangkan dapat mereka rasakan,” imbuhnya.

#3 Mempersiapkan Student Hotline Service

Selain belajar, mahasiswa tentu saja memerlukan bimbingan akademik, bimbingan tesis, hingga konseling masalah studi dan karir mereka. Untuk menjawab kebutuhan itu, LSPR menghadirkan “Student Hotline Services”. Ada 10 orang yang terbagi ke dalam beberapa shif, yang siap menangani Hotline Services ini.

#4 Mempersiapkan Kelas Offline dengan Protokol yang Ketat

Pada masa pelonggaran PSBB dan New Normal, LSPR mempersiapkan ruang kelas offline yang dapat diikuti mahasiswa dengan jumlah separuhnya. Artinya, jika dalam kondisi normal per kelas jumlah maksimal mencapai 36 mahasiswa, maka pada masa saat ini, LSPR hanya izinkan separuhnya saja yang mengikuti kelas atau hanya18 mahasiswa. Sisanya, mengikuti kelas dari rumah.

“Namun, mahasiswa akan digilir untuk mengikuti kelas offline. Misalnya, jika minggu ini sudah kebagian kelas offline, maka minggu depan, mahasiswa akan kebagian kelas online. Namun, mahasiswa yang mengikuti kelas dari rumah, mereka bisa mengikuti kelas online dan melihat secara langsung bagaimana suasana kelas. Jadi, kami menggunakan alat atau teknologi dimana mahasiswa di rumah dapat melihat dan mendengar langsung semua kegiatan di dalam ruangan kelas kampus.

Dengan demikian, class experience bisa mereka dapatkan meski mengikuti dari rumah,” jelas Prita.
Selain itu, durasi di dalam kelas pun tidak bisa selama seperti dalam kondisi normal. Artinya, jika dulu dalam sehari ada tiga shif, maka sekarang LSPR membuatnya dalam 6 shift. Setiap shifnya memang memiliki waktu yang pendek.

#5 Mempersiapkan Protokol Kesehatan dan Physical Distancing

Selama diberlakukan kelas offiline, mahasiswa, pengajar, dan staf yang akan memasuki kampus harus mengikuti standard protokol kesehatan dan physical distancing. Dituturkan Prita, sebelum memasuki kampus, mereka harus melalui chamber (berisi air sabun) terlebih dahulu. Bahkan, sebelum masuk chamber, mereka sudah mengatur jarak fisik dan harus menggunakan handsanitizer yang sudah disediakan. Selanjutnya, begitu keluar dari chamber, mereka harus cuci tangan kembali dengan sabun dan air yang sudah disediakan. Tahap berikutnya, mereka harus melakukan check suhu tubuh dengan perangkat otomatis.

“Mereka juga harus memakai masker yang akan dibagikan, dimana kami sudah menjahit ribuan masker berlogo LSPR. Untuk dosen dan staf, mereka akan menggunakan Face Shield,” tandas Prita, yang menyebutkan bahwa jika mahasiswa tidak memakai masker di kampus akan dikenakan denda.

Termasuk di dalam lift, LSPR juga menerapkan protokol jaga jarak. Jumlah orang yang bisa masuk lift harus setengahnya dengan posisi yang sudah diatur. Begitu juga saat di kantin, jaga jarak ikut diatur dengan mengurangi jumlah kursi. “Bahkan, kami juga sudah tidak menggunakan piring dan menggantinya dengan wadah yang sekali pakai,” ucapnya.

Lebih jauh Prita menegaskan bahwa rule dan protokol tesebut sudah jauh-jauh hari disosialisasikan kepada mahasiswa, dosen, dan staf. Kampanye dan sosialisasi telah dilakukan melalui media sosial seperti Youtube dan Instagram, hingga website resmi kampus. “Bahkan, kami juga punya Tim Gugus Covid-19, yang kami sudah persiapkan betul untuk menangani mereka yang terdeteksi terinfeski Covid-19,” tutup Prita.***

%d blogger menyukai ini: