BEKASIMEDIA.COM – Lembaga pendidikan merupakan wadah bagi siapapun yang ingin menimba ilmu. Seiring berjalannya waktu, lembaga pendidikan kini sudah berkembang pesat. Mulai dari sekolah yang mempunyai fasilitas modern hingga yang bertaraf internasional. Lembaga pendidikan dibentuk untuk menjadi salah satu tempat yang dapat memberikan keilmuan lebih luas dan dalam.
Melahirkan seseorang yang berintelektual serta dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara. Namun, berbagai permasalahan muncul di kalangan masyarakat luas, mulai dari pergaulan bebas remaja saat ini yang merusak moral sebagai seorang pelajar hingga banyak dari para orang tua yang mengeluhkan mengenai biaya masuk untuk mengemban ilmu, serta sulit ditemukannya lembaga pendidikan yang memiliki kualitas tinggi, karena tidak semua masyarakat menyanggupi untuk membayar biaya yang bertarif cukup tinggi.
Infranstruktur yang tidak merata menjadi salah satu alasan sulitnya lembaga pendidikan yang memiliki fasilitas modern ditemukan. Sekolah atau lembaga pendidikan yang memiliki fasilitas lengkap serta standar internasional biasanya hanya berada di tengah perkotaan. Sebagian besar dari mereka memiliki pendapatan di atas rata-rata, sehingga sangat mungkin dapat bersekolah di lembaga pendidikan tersebut. Berbeda dengan masyarakat yang memiliki pendapatan kurang dari rata-rata, mereka hanya sekedar menyekolahkan anaknya tanpa melihat kualitas sekolah tersebut dan tentunya dengan biaya yang murah. Tidak jarang dari mereka terpaksa putus sekolah karena kurangnya biaya.
Pondok pesantren hadir sebagai jawaban dari segala keresahan masyarakat sekaligus memberikan solusi yang tepat bagi anak-anak mereka dalam mencari ilmu. Pondok pesantren memang tidak asing di telinga masyarakat, sejak abad ke-14 pondok pesantren telah menjadi salah satu tempat untuk memperdalam ilmu agama. Dulu, Pondok pesantren menjadi wadah menuntut ilmu bagi siapapun yang ingin memperdalam agama. Mereka disuguhkan berbagai pembelajaran mengenai agama islam, serta bagaimana cara untuk menyebarkan dakwah islam ke pelosok negeri. Perbedaan pondok pesantren memang sangat signifikan dengan lembaga pendidikan pada umumnya. Jika lembaga pendidikan umum memfokuskan kepada keilmuan umum, pondok pesantren fokus kepada keilmuan agama islam. Sehingga terdapat perbedaan pendapat melihat sistem pendidikan antara kedua tempat pendidikan tersebut.
Masyarakat menganggap pondok pesantren sebagai sekolah yang kuno, karena menghindari pembelajaran umum dan hanya fokus pada pembelajaran agama. Mereka yang mengemban ilmu di pesantren tidak akan mendapatkan tanda lulusan atau ijazah sekolah, karena mereka tidak terdaftar sebagai pelajar di suatu instansi. Pemikiran anak pesantren pun dianggap kuno, tidak modern seperti anak-anak yang bersekolah di sekolah umum, karena mereka menutup dari perkembangan dunia luar. Hal ini membuat pesantren terlihat buruk di mata masyarakat, sehingga kepercayaan mereka untuk menitipkan anaknya di pondok pesantren menurun.
Pada zaman dulu, corak pesantren memang dekat dengan kebudayaan tradisional. Pondok pesantren pertama kali tumbuh pada masa Raden Rahmat dan Sunan Ampel, ketradisional yang dipegang teguh memang sudah melekat dalam proses pembelajaran di pondok pesantren. Pondok pesantren memang didirikan untuk menjadi wadah belajar ilmu agama lebih dalam di tengah krisisnya keilmuan tentang islam pada masa tersebut. Sehingga para wali songo membuat pondok pesantrean sebagai wadah bagi siapapun yang menginginkan ilmu agama islam lebih dalam. Saat itu, tidak ada fasilitas yang mendukung namun, hal tersebut tidak menghalangi para santri untuk belajar islam kepada wali songo. Para santri memang menfokuskan diri mereka untuk memperdalam agama islam. Tidak heran, jika corak pondok pesantren yang dekat dengan ketradisionalan tersebut terbawa hingga saat ini.
Globalisasi saat ini sudah memperngaruhi berbagai sektor kehidupan termasuk Pendidikan. Globalisasi memberikan kemudahan kita dalam belajar, dan mengubah sistem pendidikan sesuai dengan zamannya. Tidak terkecuali pondok pesantren, karena globalisasi tidak sepenuhnya berisikan hal negatif, hal tersebut yang dimanfaatkan oleh pondok pesantren untuk melakukan pembaharuan, Mengubah sistem pembelajaran namun tetap mempertahankan asas asas pondok.
Mengubah bentuk pesantren menjadi lebih modern dan terbuka terhadap keilmuan selain ilmu agama. Melahirkan santri-santri yang berfikir moderat, memiliki rasa toleransi tinggi, dan dapat bersaing di kancah internasional, namun tetap memegang teguh syari’at agama. Santri dididik menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab. Mereka dibiasakan untuk memimpin agar kelak bisa menjadi seorang pemimpin yang akan bermanfaat di masyarakat hingga pemerintahan.
Sistem pondok pesantren modern saat ini mencakup pembelajaran yang juga bertaraf internasional. Terlihat dari program yang diterapkan oleh pondok pesantren saat ini, santri diwajibkan untuk menggunakan dua bahasa asing yaitu bahasa arab dan bahasa inggris setiap hari. Hal ini menjadi bekal bagi para santri untuk bisa berkontribusi di dunia internasional. Kemudian, santri diwajibkan menghafal Al-Qur’an, sebagai pondasi menjalani kehidupan sesungguhnya agar selalu berlandaskan Al-Qur’an dan tetap memegang teguh syari’at agama. selain ilmu agama yang dipelajari, para santri juga mempelajari keilmuan umum, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan lain sebagainya. Hal tersebut agar memberikan pemahaman bagi para santri bahwa keilmuan umum juga sama pentingnya dengan ilmu agama, serta para santri dapat melakukan pembaharuan di bidang keilmuan yang mereka suka.
Kemudian, pondok pesantren juga menjadi wadah untuk belajar ilmu kehidupan, para santri diberi kesempatan untuk memimpin, berdiskusi, mengatur sistem peraturan pondok, dan bertanggung jawab atas amanah memimpin dalam bentuk yaitu organisasi santri. Sehingga para santri terlahir menjadi pribadi yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.
Eksistensi pondok pesantren semakin melejit di era globalisasi saat ini, karena banyak dari para santri yang sudah menjadi seorang pemimpin besar, cendikiawan, dan orang penting lainnya.
Perubahan yang dilakukan pondok pesantren sebagai wadah pendidikan juga berdampak terhadap pemikiran-pemikiran masyarakat yang enggan memasukkan anaknya ke pondok pesantren hanya dikarenakan melahirkan pendidikan yang kuno. Pondok pesantren mampu membuktikan bahwa seorang santri juga bisa berkontribusi di dunia pemerintahan dan bidang umum lainnya, tentunya kurikulum yang dirancang di pesantren mempersiapkan mereka untuk bisa menghadapi tantangan zaman saat ini.
Seorang santri akan menjadi pribadi yang intelektual dengan selalu memegang kokoh pedoman islam dalam kehidupannya. Terbukti beberapa santri yang sukses berkontribusi di bidang pemerintahan yaitu seperti Prof. Dr. (H.C) K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia.
Perkembangan zaman yang begitu pesat juga berpengaruh terhadap gaya hidup serta dampak yang menimpak generasi saat ini. Terutama pada kaum remaja, mereka sudah dikenalkan dengan pergaulan bebas yang tidak ada batasannya.
Bermain dengan waktu yang tidak terbatas, berinteraksi dengan orang dewasa yang membawa pengaruh buruk untuk pertumbuhannya, serta menimbulkan kasus kriminalitas yang ternyata pelaku utamanya adalah seorang remaja di bawah umur. Melihat kejadian seperti ini membuat para orang tua risau terhadap tumbuh kembang anaknya, pondok pesantren dapat menjawab persoalan tersebut.
Kehidupan pondok pesantren jauh lebih aman dibandingkan kehidupan di luar, jika sekolah pada umumnya hanya memantau siswa ketika jam pembelajaran berlangsung, namun pondok pesantren dapat memantau putra-putri kita setiap waktu. Mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali. Peraturan yang diterapkan di pondok pesantren menjadi sebuah batasan bagi para santri dengan konsekuansi dari setiap peraturan di dalamnya, sehingga dapat menumbuhkan rasa disiplin para santri dalam melakukan kegiatan yang tentunya berdampak pada kehidupannya kelak.
Setiap santri harus bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, sehingga tidak tumbuh rasa manja dan lemah dalam kepribadian seorang santri. Mereka memang dilatih untuk bisa hidup mandiri, sehingga tidak akan bergantung dengan kehidupan orang lain.
Sistem Pendidikan di pondok pesantren memisahkan antara laki-laki dengan Perempuan, sehingga tidak akan terjadi pergaulan yang tidak ada batasanya seperti kehidupan bebas di luar.
Memberikan kenyamanan dalam proses pembelajaran, serta jaminan kehidupan yang layak kepada para santri selama mengemban ilmu di pondok pesantren. Biaya pondok pesantren sudah beragam saat ini, mulai yang bertarif murah hingga yang bertarif tinggi, dengan biaya Pendidikan mulai dari Rp. 650, rnamun kualitas tidak tergantung dengan kuantitas. Sehingga penghasilan orang tua yang masih di bawah rata-rata, dapat menyekolahkan anaknya dengan kualitas pendidikan yang sama halnya dengan sekolah yang bertarif tinggi. Pondok pesantren membuktikan menjadi lembaga pendidikan yang layak bagi masyarakat. Tidak hanya layak, namun juga memiliki kualitas tinggi, melahiran seorang pelajar yang berintelektual dan dapat berkontribusi di berbagai bidang, dengan biaya yang terjangkau, serta proses pembelajaran yang nyaman dan terjamin.
Mari kita berikan kualitas Pendidikan terbaik kepada anak-anak kita dengan bersekolah di pondok pesantren. (Nabila Ramdhani Sihab/mahasiswi UIN JAKARTA)











