BEKASIMEDIA.COM, Jamkesnews – Cahyo Ogi Samanto (34), merupakan seorang pekerja yang telah terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari segmen Pekerja Penerima Upah (PPU). Pada saat ditemui oleh Tim Jamkesnews pada Rabu (22/11/2023), pria yang akrab disapa Ogi ini menceritakan pengalamannya selama menjadi peserta program JKN.
“Saya terdaftar sebagai peserta JKN yang dikelola oleh BPJS Kesehatan ini sudah cukup lama, waktu itu saya didaftarkan oleh perusahaan tempat saya bekerja karena setiap perusahaan kan wajib mendaftarkan pegawainya menjadi peserta BPJS Kesehatan agar para pegawainya mendapat perlindungan kesehatan bagi pekerja dan keluarganya,” ungkapnya.
Ogi menyampaikan pengalamannya saat harus menemani istrinya menjalani perawatan di rumah sakit, istrinya didiagnosa mengalami penyakit hipertiroid. Pada saat istrinya menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di Jakarta, ia menjelaskan bahwa pelayanan yang diterima oleh istrinya sangat baik, cepat dan tidak dibedakan dengan pasien lain.
“Kejadiannya sudah beberapa tahun yang lalu sih, waktu itu kondisi istri saya tiba-tiba drop, berat badannya turun drastis, matanya seperti orang melotot, tangannya gemetar tremor dan denyut jantungnya berdebar cepat. Langsung saya bawa ke IGD, setelah melakukan beberapa tes darah, dokter mengatakan kalau istri saya terkena penyakit hipertiroid dan akhirnya saya diminta untuk mengurus ke bagian rawat inap dan setelah kondisi nya membaik dokter memperbolehkan dia untuk pulang,” ungkapnya.
Perawatan tidak selesai sampai disitu, istrinya juga harus rutin melakukan pemeriksaan darah FT4 dan TSH selama tiga bulan sekali. Ia mengatakan bahwa berita yang beredar tentang perawatan peserta JKN hanya dibatasi selama tiga hari itu tidak benar, karena pada saat itu istrinya dirawat selama seminggu di rumah sakit dan dokter memperbolehkan pulang pada saat kondisinya sudah membaik.
Pemeriksaan yang telah dilakukan selama lebih dari empat tahun ini tidak mengeluarkan biaya sama sekali. Mulai dari pemeriksaan dokter, pengambilan sample darah sampai dengan pemberian obat semua ditanggung oleh program JKN ini.
“Kalau gak salah waktu itu istri saya di rawat sampai seminggu. Waktu itu sempat khawatir karena banyak berita kalau pasien peserta JKN cuma boleh dirawat selama 3 hari, tapi alhamdulillah sampai dengan kondisi istri saya membaik baru diperbolehkan pulang. Istri saya harus menjalani pemeriksaan darah FT4 dan TSH untuk mengevaluasi fungsi kelenjar tiroid dan mengidentifikasi gangguan tiroidnya. Begitu hasil laboratorium sudah keluar, baru bisa ketemu dokter untuk membaca hasil, kemudian menerima resep obat. Selama bertahun-tahun begitu saja rutinitasnya, tapi alhamdulillah kami tidak mengeluarkan biaya sepeserpun untuk pengobatan istri saya,” ungkapnya.
Dirinya menyampaikan secara pribadi bahwa program JKN ini sangat bermanfaat, baik untuk dirinya, keluarganya maupun masyarakat pada umumnya. Ia mengaku Program JKN yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan ini sangat membantu masyarakat saat membutuhkan pelayanan kesehatan.
“Hadirnya BPJS Kesehatan ini memberikan kemudahan dan pertolongan masyarakat untuk berobat seperti membuka akses masyarakat ke fasilitas kesehatan karena sebelum adanya program ini seperti susah ke fasilitas kesehatan, terbentur biaya. Saya sudah menggunakan kartu ini, semuanya dijamin asal kita mau mengikuti prosedurnya,” ungkapnya.
Diakhir perbincangan, Ogi mengajak kepada seluruh masyarakat baik untuk anak-anak maupun orang dewasa yang belum mendaftarkan diri sebagai peserta JKN untuk segera mendaftarkan diri dan keluarganya, sebab kita tidak tahu kapan kita akan sakit. Tidak perlu ragu lagi menjadi peserta JKN karena banyak sekali manfaat pelayanan kesehatan yang akan diperoleh. (VM/dw)











