BEKASIMEDIA.COM – Memasuki bulan Maret 2023 ini, cuaca seringkali tidak bersahabat. Sering turun hujan tidak menyurutkan niat sebagian orang untuk mencari rezeki. Sore itu selepas hujan turun, Jamkesnews berkesempatan berbincang dengan salah satu ojek online bernama Edi (41). Sambil melepaskan jas hujan yang melindungi dirinya dari basah, Edi pun mulai bercerita.
Edi merupakan seorang bapak yang sehari-hari bekerja sebagai supir pribadi, namun di waktu senggang dirinya juga bekerja sebagai ojek online di daerah Jabodetabek. Ia mengatakan, dalam kondisi ekonomi yang semakin mahal, ia berusaha tetap berjuang untuk menguliahkan anaknya serta memastikan keluarganya selalu terlindungi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Walaupun hanya bekerja sebagai seorang ojek online, Edi dengan ulet menabung sedikit demi sedikit rupiah yang terkumpul dengan menghabiskan waktunya sehari-hari di jalan. Edi bertekad membayar iuran dengan tepat waktu. Ia menyiasati pembayaran iuran dengan menyisihkan penghasilannya setiap hari. Menabung menjadi cara paling jitu baginya agar tak terlambat membayar iuran. Ia juga sangat menyayangkan masyarakat yang menunda pembayaran iuran secara rutin hanya karena merasa belum butuh.
“Memang kalau jadi ojek online sekedar sampingan, kalau pekerjaan utama sebagai supir pribadi. Tetapi kan terkadang kalau bos lagi pergi keluar kota, jadi waktu saya bisa diisi dengan jadi ojek online. Lumayan mas, sekarang semua serba mahal. Anak saya mau masuk kuliah, adiknya tahun depan kuliah juga, jadi harus lebih giat bekerja. Sebagai seorang bapak tentu ingin keluarganya memiliki jaminan kesehatan, makanya sejak lama saya sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan. Kalau dapat uang, saya utamakan untuk selalu bayar iuran sehingga diusahakan tidak menunggak,” jelasnya, Jumat (10/03).
Setelah berbincang beberapa saat ternyata hingga saat ini Edi belum pernah menggunakan kartu JKN untuk berobat sampai ke rumah sakit. Meski begitu, ia tetap berkomitmen rutin membayar iuran setiap bulannya. Menurutnya, Program JKN ini suatu saat akan menjadi kartu penyelamat ketika sakit. Tentu ia tak mengharapkan sakit. Namun Edi percaya, walaupun ia tidak sakit, iurannya akan membantu peserta JKN lainnya yang sedang sakit, sebagaimana asas gotong royong semua tertolong.
“Meski saya dan keluarga belum pernah menggunakan sampai untuk berobat ke rumah sakit, kami ikhlas membayar iuran. Karena sepengetahuan saya, program ini mengusung konsep gotong royong. Jadi iuran saya bisa digunakan membiayai peserta lainnya yang sedang dirawat dan lain sebagainya. Ini akan menjadi lahan ibadah membantu sesama. Insyaallah bisa menjadi pahala untuk saya dan keluarga nanti. Saya terdaftar di kelas III, jadi bisa nabung sedikit-sedikit per hari. Karena sakit itu kita sendiri tidak tahu kapan datangnya, maka ya kita berusaha mengantisipasi dengan jadi peserta JKN selagi masih sehat. Kalau sakit, kita bisa mengandalkan kartu ini nantinya,” ujarnya.
Edi menambahkan bahwa tidak dipungkiri masih ada beberapa temannya yang sudah terdaftar ke dalam Program JKN namun tidak rajin membayar iuran. Menurutnya hal itu justru bisa membawa kerugian bagi diri sendiri. Selain tunggakan iurannya akan terakumulasi hingga membengkak, juga bisa tidak mendapatkan pelayanan saat sakit. Ia pun cukup prihatin apabila ada temannya yang kesulitan membayar rumah sakit, padahal sebetulnya bisa gratis apabila kartu JKN-nya aktif.
“Ada beberapa teman yang tidak rajin membayar, jadi kartunya tidak aktif. Padahal kalau rutin membayar kan tidak berat per bulannya, daripada menunggak malah jadi berat untuk melunasinya. Pernah kejadian teman saya kesulitan bayar saat sudah dirawat dirumah sakit. Padahal sudah punya kartu BPJS Kesehatan, cuma tidak aktif karena menunggak. Seandainya saja dia rajin bayar kan bisa gratis pas dirawat kemarin,” ungkapnya. (BS/pm)











