BEKASIMEDIA.COM – Program JKN dibentuk oleh pemerintah sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat di sektor kesehatan. Selain untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, negara juga menginginkan masyarakatnya memiliki jaminan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau. Dengan Program JKN, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir memikirkan lagi mengenai biaya mahal saat berobat di fasilitas kesehatan nantinya.
Itulah yang dirasakan salah satu peserta Program JKN bernama Ana. Ia mengaku merasa aman dan tenang karena telah menjadi peserta Program JKN yang dikelola BPJS Kesehatan. Ana mengatakan bahwa program ini penting sekali, sebab masyarakat perlu suatu jaminan kesehatan yang dikelola pemerintah dan menjamin manfaat kesehatan mendasar bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Ibu rumah tangga ini pun menjelaskan bahwa saat ini sudah tidak khawatir lagi saat ada anggota keluarganya yang sakit.
“Penting sekali untuk kita ikut jadi peserta JKN ini. Kalau sewaktu-waktu kita sakit, jadi ada jaminannya. Suatu hal yang mendasar di hidup seseorang ialah hidup sehat. Dengan sehat kita bisa beraktivitas apapun. Namun apabila sakit kemudian tidak memiliki uang, dari mana kita bisa berobat untuk menyembuhkan sakit tersebut. Oleh karena itu fungsi dari suatu jaminan ialah di saat kita sakit, sudah tidak perlu memikirkan biayanya, karena sudah ada yang menanggung,” ujar Ana saat ditemui Jamkesnews di kediamannya, Selasa (07/03).
Lebih lanjut, Ana menceritakan bahwa ia sangat mengapresiasi prinsip gotong royong yang ada di dalam Program JKN. Gotong royong merupakan sesuatu hal yang sangat mendasar di masyarakat Indonesia sejak lama. Tanpa disadari bahwa negara ini berdiri karena sikap gotong royong yang sangat kuat di setiap lapisan masyarakat. Selain sifatnya itu, juga sebagai antisipasi biaya berobat ke depannya. Ana juga menilai program ini sebagai program amal, karena tanpa sadar iuran yang sudah dibayarkan peserta JKN yang sehat bisa digunakan untuk peserta lain yang sedang membutuhkan pengobatan.
“Contohnya begini l, kita bayar iuran kemudian belum sakit. Tapi di saat itu ada seorang kepala keluarga yang membutuhkan pengobatan besar. Kalau dihitung-hitung secara logika, berdasarkan dari iuran yang sudah dia bayarkan sendiri, itu pasti belum cukup untuk menangani biaya pengobatan tersebut. Tapi ada iuran saya dan masyarakat lain yang belum menggunakan iurannya untuk berobat, sehingga pengobatan dia bisa dijamin, bisa sembuh, bisa menafkahi keluarganya lagi. Insyaallah itu pahala buat kita,” lanjutnya.
Ana mengatakan, dipungkiri masih ada beberapa temannya yang belum rajin membayar iuran atau bahkan belum terdaftar. Menurutnya hal tersebut yang merugikan diri sendiri. Karena selain iurannya membengkak karena akumulasi, bisa juga malah tidak dijamin di fasilitas kesehatan karena kartunya tidak aktif. Ana pun menyayangkan hal seperti itu, karena namanya musibah dan sakit menurutnya tidak bisa diprediksi. Menurutnya setelah melewati 2 tahun pandemi, kini masyarakat Indonesia lebih peduli terhadap kesehatan.
“Ada teman saya yang tidak rajin bayar, ada juga yang ketika sakit, barulah dia daftar jadi peserta JKN. Sedangkan yang saya tahu ada masa aktivasi 14 hari. Pasti repot. Sudah sakitnya sekarang kemudian kartunya baru bisa digunakan dua minggu lagi. Malah akhirnya dia menjadi pasien umum, biayanya lumayan besar, tidak sebanding kalau bayar iuran. Oleh karena itu daftarlah sebelum sakit. Tidak ada ruginya. Demi kita juga kok ke depannya. Apalagi setelah beberapa tahun sejak pandemi kemarin. Sudah banyak yang sadar akan kesehatan, jadi mulai banyak yang peduli terhadap jaminan kesehatan,” ujarnya menutup pembicaraan. (ADV)











