BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 3 Okt 2019 09:06 WIB ·

Surat Cinta Kepada Pelajar Indonesia: Kami Adalah Followermu


 Surat Cinta Kepada Pelajar Indonesia: Kami Adalah Followermu Perbesar

Oleh: Hariqo Wibawa Satria*

 

Tahun 1969 internet dicetuskan, orangtua kalian belum menikah. 1990 internet merembes ke Indonesia, kalian belum lahir. 1997-1998 muncul weblog dan google, kalian juga belum lahir.

 

2004 facebook didirikan, kalian sudah lahir. 2007 facebook masuk Indonesia, foto kalian dibicarakan di dalamnya. Marc Prensky menyebut kalian “pribumi digital,” karena lahir saat internet berkembang pesat.

 

Selama 11 tahun (2007 – 2018) kalian disepelekan. Dianggap PHUBBING, karena sering main HP ketika kumpul keluarga. Dituding FOMO (fear of missing out), sebab setiap diajak pulang kampung, kalian bertanya “ada internet gak di sana?”. Kalian juga dicap SLACKTIVISM, lantaran hanya bisa like, komen, dan share di medsos, tanpa ada keberanian protes ke jalan, kecuali untuk tawuran.

 

Anehnya, selama 11 tahun direcehkan, kalian tidak turun ke jalan. Kalian baru turun ke jalan ketika para elit politik memproduksi ketidakadilan. Kalian dituding dibayar, padahal yang dibayar besar adalah para pejabat yang menyepakati ketetapan itu.

 

Perjuangan kalian bersama para mahasiswa bisa membuat orang baik di lingkaran kekuasaan menjadi berani. Perjuangan kalian menjadikan para orangtua berubah optimis, karena ternyata generasi penerus Indonesia adalah manusia merdeka.

 

Perjuangan kalian menutupi kekhawatiran kami terhadap kualitas pengawasan anggota DPR/DPRD/DPD hasil pemilu 2019.

 

Namun mengapa saat berjuang, kalian malu dipotret atau diwawancarai?. Aku penasaran, lalu kulacak postingan medsos tahun 2007-2010. Banyak doa dan komentar pada foto kalian saat balita.

 

Semua mendoakan kalian jadi orang bermanfaat, tidak satupun mendoakan agar kalian jadi orang terkenal. Oh.. barulah aku paham, mengapa kalian sembunyikan wajah dengan bendera merah putih yang fotonya viral itu.

 

Wahai para pelajar, berterima kasihlah pada para mahasiswa yang menginspirasimu.

 

Ingat, lawan kalian bukan Jokowi atau oposisi. Lawan kalian bukan TNI dan POLRI, lawan kalian bukan eksekutif, legislatif dan yudikatif, lawan kalian bukan radikalisme, komunisme, tapi lawan kalian adalah ketimpangan ekonomi (rasio gini), oligarki, korupsi yang sumbernya ketidakadilan, akibat pudarnya sifat-sifat Tuhan dalam jiwa para pemimpin.

 

Ketidakadilan bisa muncul dari cara kalian berpikir, maka lawanlah cara berpikir tidak adil itu. Ketidakadilan bisa diciptakan oleh penguasa dan siapapun, maka lawan ketidakadilan itu.

 

Bangunlah parlemen pelajar di seluruh kota/kabupaten di NKRI untuk menghadapi ketidakadilan dan korupsi.

 

Wahai kalian para pelajar. Usia manusia pendek, usia Negara panjang. Teruslah membuat konten prestasi dan konten protes, tapi berani protes itu adalah prestasi. Jika kalian teguh, kami siap jadi followermu. Jadi apa web dan akun instagrammu?, kami ingin follow.

 

Kampus Universitas Indonesia, Depok, 1 Oktober 2019,

 

Hariqo Wibawa Satria, *Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial; 200 Tips Ampuh Meningkatkan Performa Organisasi di Internet dengan Anggaran Terbatas #SMTMedsos – @hariqo81

Artikel ini telah dibaca 18 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini