BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 25 Sep 2019 16:46 WIB ·

Anak STM Mendunia


 Anak STM Mendunia Perbesar

Anak STM jadi perbincangan di media sosial twitter. Bahkan tagar #STMmelawan tembus ke urutan pertama trending topik dunia, Rabu 25 September 2019 sore pukul 17.00 WIB.

Kemunculannya dikarenakan keterlibatan anak-anak pelajar yang ikut mendukung kakak-kakak mahasiswa yang sedang menuntut DPR beserta pemerintah membatalkan revisi UU KPK serta sejumlah tuntutan lainnya.

Tadi ada yang tanya, kok STM? kenapa enggak SMK?

Istilah STM memang sudah lama ditiadakan. Bahkan usia istilah SMK lebih tua dari reformasi.

SMK pertama kali dipakai tahun 1997 dan lulusan pertamanya tahun 2000. Saya salah satunya 😁

SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) dipakai untuk menggantikan STM (Sekolah Teknik Menengah), SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas) dan sekolah-sekolah kejuruan lainnya.

Jadinya di tahun 1997 itu STM dan SMEA punya nama yang sama. Waktu itu banyak juga loh teman-teman yang kecewa. Suka diledekin pula sama anak STM (kakak kelas).

Meski secara resmi berganti nama menjadi SMK, namun pada kenyataannya, anak SMK jurusan teknik lebih suka menamakan diri sebagai anak STM. Bahkan ternyata hingga hari ini.

~ Anak STM ~

Anak cowok, bandel, bolos bergerombol dan suka tawuran, sudah jadi cap yang sulit dilepaskan dari anak STM. Sebagai alumnus STM, saya juga pernah merasakan hal itu. Hanya satu saja yang gak pernah dirasakan, yaitu pengalaman tawuran. 😁😎�

SMKN 1 (STMN) Karawang dikenal sebagai sekolah baik-baik. Gak suka tawuran. Mungkin karena aturan yang ketat dan kakak kelas tidak mewariskan api permusuhan dengan sekolah lain. Kalau jenis-jenis bandel yang lain sih sama aja. Beneran!

Saat Reformasi 1998, mahasiswa jelas turun aksi. Anak STM saat itu gimana?

Beda dengan anak STM saat ini sih yang terlibat langsung turun aksi. Bisa jadi karena saat itu belum ada media sosial dan alat telekomunikasi (handphone) juga. Jadinya koordinasi antar sekolah sulit dilakukan. Mungkin ada juga yang ikutan, tapi saat sesi rusuhnya dan itu tak terorganisir.

Dalam kelompok-kelompok kecil, kami saat itu juga jadi banyak diskusi soal politik. Juga merasakan krisis moneter, dimana ongkos angkot dan jajanan di kantin naik tiga kali lipat.

Ketika ramai kerusuhan, merasakan juga pulang sekolah naik truk militer. Terus euphoria saat Pak Harto turun. Menurunkan potret beliau di ruang kelas.

Setelah reformasi, guru-guru mata pelajaran umum juga lebih “leluasa” mengajar. Guru Sejarah memberi tugas bikin kliping seputar peristiwa reformasi. Guru Bahasa Indonesia bahkan mengajarkan kami suasana perdebatan dan memberikan nilai lebih bagi yang aktif di organisasi sekolah.

###

Sekarang Anak STM ikut Aksi bareng kakak mahasiswa. Ehm.. kalian naik level. Saya ingin mengacungkan dua jempol, JIKA! jika keikutsertaannya karena paham dengan situasi negeri ini dan mengerti apa yang diperjuangkan.

Cuma satu hal yang ingin saya sampaikan buat adik-adik, tetep damai ya. Jangan mudah terprovokasi. Jangan justru malah memperpanjang stigma negatif itu.

Hidup STM !

Selamat mendunia!
Piss !!!

Enjang Anwar Sanusi
Alumnus SMKN 1 Karawang

Artikel ini telah dibaca 433 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini