Oleh: Ayu Pebrina
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Sejak tinggal di luar Sumatera, saya baru menyadari bahwa logat kami memiliki “kemampuan super”: membuat orang merasa dimarahi, bahkan ketika kami sedang berbicara santai. Ketika saya berkata, “apa?”, yang terdengar di telinga orang lain bisa menjadi “APA?!”. Saat saya mengatakan, “sebentar”, responsnya justru, “kok marah?”. Padahal tidak ada nada emosi yang saya maksudkan. Di kampung halaman, cara bicara seperti itu dianggap wajar. Namun di luar Sumatera, intonasi yang sama kerap dimaknai sebagai kemarahan. Yang berbeda ternyata bukan perasaan, melainkan cara mendengar.
Pengalaman paling nyata soal salah paham intonasi ini saya alami di kampus. Suatu hari, saya dan teman-teman mengantre untuk mengonfirmasi nilai kepada dosen. Situasinya ramai dan antrean bergerak cepat. Saya berlari kecil, berhasil mendapatkan posisi, lalu memanggil teman saya yang masih di belakang, “ANAAA, SINI!” Ia langsung mendekat, tetapi dengan wajah murung ia berkata pelan, “Iya… jangan marah-marah dong.”
Saya terkejut. Saya tidak sedang marah—justru senang karena berhasil mengamankan antrean untuknya. Saya pun menjelaskan bahwa saya sama sekali tidak kesal. Namun melihat ekspresinya yang tetap canggung, saya akhirnya meminta maaf. Bukan karena saya berteriak, melainkan karena saya lupa bahwa nada yang terdengar biasa bagi saya bisa terdengar keras bagi orang lain. Inilah nasib memiliki suara lantang: berbicara normal, dianggap marah.
Dari peristiwa itu, saya mulai memahami bahwa dalam komunikasi, yang bekerja bukan hanya mulut penutur, tetapi juga pikiran pendengar. Psikolinguistik memandang bahasa sebagai proses mental: bunyi diterima, diolah, lalu diberi makna. Ketika saya berbicara dengan nada antusias, saya memaknainya sebagai bentuk kepedulian. Namun bagi pendengar dengan latar kebiasaan berbahasa berbeda, nada yang sama bisa diinterpretasikan sebagai kemarahan. Ini bukan soal siapa yang terlalu sensitif, melainkan soal perbedaan pengalaman berbahasa.
Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu berkelindan dengan budaya, pengalaman sosial, dan kebiasaan kolektif. Cara seseorang menilai intonasi dibentuk oleh lingkungan tempat ia tumbuh dan berinteraksi. Karena itu, kesalahpahaman lintas dialek bukan semata soal “salah bicara”, melainkan perbedaan sistem makna yang bekerja di kepala penutur dan pendengar.
Sayangnya, kesalahpahaman ini kerap berujung pada stereotip. Orang Sumatera sering dicap galak, keras, atau mudah marah, padahal yang terjadi hanyalah perbedaan kebiasaan berbahasa. Di media sosial, tak sedikit komentar seperti “kok galak banget?” atau “nggak usah ngegas” muncul ketika orang Sumatera berbicara dengan nada khasnya. Dalam percakapan sehari-hari, terutama di ruang publik atau pesan singkat, prasangka semacam ini mudah sekali muncul.
Label tersebut, jika terus diulang, dapat berdampak pada cara seseorang memandang dirinya sendiri. Tidak sedikit perantau yang akhirnya menurunkan volume suara, menahan ekspresi, bahkan merasa bersalah hanya karena berbicara dengan cara yang telah melekat sejak kecil. Bahasa yang seharusnya menjadi ruang ekspresi perlahan berubah menjadi sumber kecemasan sosial.
Penyesuaian berbahasa memang penting dalam komunikasi lintas budaya, dan saran untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru tentu ada benarnya. Namun penyesuaian seharusnya tidak menjadi tuntutan sepihak. Pemahaman perlu berjalan dua arah. Jika hanya penutur yang terus menahan diri, sementara pendengar tidak pernah diajak memahami perbedaan, maka bahasa akan menjadi beban, bukan jembatan.
Mungkin, yang perlu kita pelajari bukan hanya cara berbicara dengan baik, tetapi juga cara mendengarkan dengan lebih adil. Tidak semua nada tinggi berarti marah, dan tidak semua suara keras mengandung emosi negatif. Kadang, itu hanyalah cara seseorang mengekspresikan antusiasme dan kedekatan. Pada akhirnya, bahasa bukan hanya tentang apa yang kita ucapkan, tetapi juga sejauh mana kita mau memahami cara orang lain memaknainya.






