BEKASIMEDIA – Gramedia Asri Media bersama Penerbit Al Qosbah menyelenggarakan Muslim Festival untuk menyambut Bulan Ramadhan. Bertempat di Gramedia World Harapan Indah mengundang Muzammil Hasballah pembicara.
Dengan tema “Lebih dekat dengan Al Qur’an, Muzammil menceritakan pengalamannya bagaimana ia bisa mencintai Kalamullah.
“Dekat dengan Al Qur’an bisa dilakukan dimulai dari irama. Ini pengalaman saya saat masih kecil. Namun, semakin saya belajar, semakin dahsyat kalau kita tadaburri maknanya. Kalau kita mengerti pesannya. Itulah level keimanan para sahabat,” katanya saat ditemui, Ahad (12/3/2023)
Ia menceritakan bagaimana saat sahabat Rasulullah SAW yang berjaga di malam hari. Salah satu sahabat yang berjaga, Amar saat itu sedang sholat. Namun, tiba-tiba musuh menembakkan anak panahnya ke tubuhnya.
“Ia tidak memutus bacaannya, malah semakin merdu. Ketika, sudah selesai. Ia baru membangunkan kawannya. Kawannya protes, mengapa kau baru membangunkanku? Amar pun menjawab, saya tidak ingin memutus bacaan quran saat sedang sholat kata Amar,” Muzammil menjelaskan.
Berdasar cerita itu, menurut Muzammil para sahabat nabi ketika membaca quran itu paham. Bahkan, mengetahui bahwa kitabullah mempunyai banyak sekali mukjizat. Salah satunya bahasa, sangat indah mengalahkan syair-syair.
“Quran itu indah, quran itu luar biasa. Indah ketika kita hayati maknanya. Jadi, bagaimana kita cinta quran, kita harus masuk lebih dalam. Lebih berusaha memahami makna al quran. Dengna begitu Alloh akan memberi petunjuk sehingga kita dapat hidayah dan dengan iman kita bisa merasakan nikmat alquran,” kata lulusan dari Institut Teknologi Bandung ini.
Ia mencontohkan sekarang Al Qur’an banyak variasinya dan memudahkan pembaca. Salah satunya adalah Al Qosbah.
“Setiap musaf punya inovasi masing-masing. Secara umum, Quran Al Qosbah ini banyak variasinya. Contohnya, Al Qosbah mempunya varian Al Qur’an Kisah. Qur’an ini sangat bermanfaat untuk anak-anak, karena banyak kisahnya,” katanya.
Menurut Muzammil, selain untuk semangat membaca juga menumbuhkan iman. Sebab, kata Dia, iman harus kita tanam sehingga mereka (anak-anak) tidak trauma dengan syariat, ketika mereka besar.
“Sholat bukan beban tapi kesadaran. Penting mengenalkan gerakan sholat, tapi lebih penting mengenalkan mereka saat sujud, menyembah siapa. Jadi kisah itu dahsyat sekali. Memotivasi, pembangun jiwa,” katanya.
Selain, Al Qur’an untuk anak, ada Duo Latin untik pemula yang baru kenal huruf Al Qur’an atau pemula.
“Ada juga untuk santri, yaitu Hafaan. Jadi dari yang saya lihat banyak variasi. Jadi, apapun Kebutuhannya banyak yang difasilitasi,” katanya.











