BEKASIMEDIA.COM – JAKARTA- Presiden Joko Widodo menerima penghargaan dari Internasional Rice Research Institut (IRRI) atas prestasinya dalam mewujudkan swasembada beras dan juga meningkatkan level ketahanan pangan. Penghargaan tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Jenderal IRRI Jean Ballie di Istana Negara pada tanggal 14 Agustus 2022 yang menurutnya merupakan kado terindah hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 77.
Menurut FAO perwakilan Indonesia status swasembada ini diperoleh karena indonesia telah memenuhi 90% rasio produksi beras terhadap permintaan/konsumsi beras nasional.
Pemberian penghargaan tersebut mendapatkan reaksi beragam dari beberapa kalangan salah satunya datang dari ketua perhimpunan petani nelayan seluruh indonesia (PPNSI), drh. Slamet.
Menurut Slamet parameter yang diukur sehingga memberikan kesimpulan mengenai status swasembada dan peningkatan ketahanan pangan Indonesia harus dijelaskan secara terperinci. Karena menurutnya jika melihat fakta yang ada pemerintah masih terus melakukan importasi beras bahkan tahun 2021 impor beras mencapai 407.741 Ton lebih tinggi dari impor tahun 2020 sebesar 356.286 Ton.
“Dan selama pemerintahan presiden Jokowi sudah pernah terjadi importasi beras terbesar sepanjang sejarah yaitu pada tahun 2018 sebesar 2,25 juta ton. Disisi yang lain indeks keamanan pangan nasional juga terus mengalami penurunan di mana menurut Global Food Security Index posisi indonesia melorot 12 peringkat dibandingkan tahun 2020,” ujarnya.
Selain itu data Global Hunger Index juga menunjukan score 18 untuk Indonesia dengan level moderate/mendekati level kelaparan serius.
“Maksud kami penghargaan tersebut bagus sebagai bentuk apreasiasi kepada pemerintah. Namun jangan membuat pemerintah abai, karena beberapa indeks lain menunjukkan kondisi yang sebaliknya,” sambungnya.
Anggota komisi IV DPR RI ini juga menjelaskan lebih jauh bahwa ada hal yang harus diwaspadai terkait fenomena beras di Indonesia. Data BPS 3 tahun terakhir 2019 -2021 menunjukkan produksi beras fluktuatif bahkan pada tahun 2021 mengalami penurunan jika dibandingkan tahun 2020. Menurut data BPS produksi Gabah kering giling tahun 2020 sebesar 54.649.202 ton dan tahun 2021 sebesar 54.415.294 ton atau berkurang sebesar 233.908 ton.
Fenomena lain yang patut diwaspadai adalah switching konsumsi beras ke konsumsi gandum. Menurut ketua umum asosiasi bank benih dan teknologi tani indonesia Prof. Dwi Andreas santosa yang dikutip dari CNBC Indonesia terdapat peningkatan konsumsi gandum secara nasional yaitu 27% pada tahun 2010 naik menjadi 27% pada tahun 2022.
Perubahan ini dirasakan cukup berbahaya karena akan menyebabkan ketergantungan pada gandum semakin besar yang nota bene belum bisa diproduksi di dalam negeri. Selain itu sejak 2015 terjadi peningkatan yang sangat siginifikan importasi gandum di Indonesia.
Terakhir drh. Slamet juga mengkhawatirkan kesejahteraan petani ditengah euphoria penghargaan tersebut justru pada tingkat petani tidak menunjukkan pengembangan berarti. Harga gabah stagnan bahkan cenderung mengalami penurunan bahkan selalu dibawah HPP.
“Meskipun pemerintah memperoleh penghargaan swasembada dan peningkatan level ketahanan pangan namun beberapa gambaran persoalan real di lapangan perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah jangan sampai terlena dengan penghargaan namun melupakan tujuan dari penyelenggaraan pemerintahan yaitu untuk melindungi segenap bangsa indonesia,” tukasnya. *)











