BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 11 Jul 2022 08:55 WIB ·

Komisi 4 Kembali Ingatkan Pemkot untuk Galakkan Aksi Preventif Cegah DBD


 Komisi 4 Kembali Ingatkan Pemkot untuk Galakkan Aksi Preventif Cegah DBD Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Anggota Komisi 4 DPRD Kota Bekasi Daradjat Kardono mengatakan demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi momok bagi masyarakat kota Bekasi. Meskipun tidak menjadi pandemi seperti kasus covid-19, DBD tetap menjadi penyakit berbahaya karena menyebabkan kematian.

“DBD memang berbahaya dan kita tidak boleh menutup mata dan karena saya juga pernah terkena, saya belajar dari itu. Saya baca-baca dari beberapa literatur ternyata benar ini bukan penyakit yang sembarangan dan kita tidak boleh menyepelekan karena tingkat keparahannya ya kalau dalam manajemen risiko itu ada tingkat severity menyebabkan kematian itu risiko yang paling berbahaya. Di kota Bekasi sudah ada. Data dari Dinkes kalau ada kematian, berarti kita tidak boleh main-main,” katanya saat menjadi pembicara pada Diskusi Publik bersama Komodo (Komunitas Media Online), di Balelo Food Garden, Bekasi Timur, Jumat (8/7/2022).

Anggota fraksi PKS ini menyatakan bahwa setiap nyawa berharga. Karena itu penyakit apapun yang mengancam nyawa warga, sebaiknya dicegah dengan serius.

“Karena kita harus menghargai nyawa. Nyawa warga kita mahal. Nyawa warga kota Bekasi harus dihargai. Karena dia adalah aset bagi pembangunan kota Bekasi. Jadi harus dijaga, dipelihara,” ujarnya.

Daradjat mengatakan, DBD bisa menyebar karena sistem drainase di kota Bekasi juga belum rapi. Banyak aliran air yang tidak terintegrasi sehingga menimbulkan banyak genangan. Karena itu jentik nyamuk bisa hidup di sana.

“Di kota Bekasi memang banyak nyamuk, sistem drainase tidak rapi. Banyak genangan, cluster aliran airnya tidak terintegrasi, jadi banyak genangan. Makanya itu bahaya yang bisa mengancam,” katanya.

“Makanya kita harus melakukan reduksi resiko penularan tersebut,” tambahnya.

Dirinya percaya pada pihak Dinas kesehatan yang sudah melakukan antisipasi untuk itu, hanya, kata dia, perlu ditekankan kembali bahwa semua belum optimal masih butuh penyempurnaan di sana sini.

“Tapi kita harus tekankan aspek kuratif, Penyembuhan. Pendekatan kuratif.
Lebih penting lagi adalah pendekatan preventif. Pencegahan. Yang namanya Kuratif biayanya tinggi. Biaya perawatan, spesialis, lab dan lain-lain, efeknya luar biasa. Kalau preventif lebih murah karena mencegah,” ujarnya.

Aspek preventif inilah yang sedang pihaknya dorong untuk digalakkan.

“Bagaimana Dinkes mengedukasi masyarakat? Dari mana datangnya jentik nyamuk, kembang biaknya bagaimana? Karena sampah kita bertebaran. Kaleng bekas, ban bekas, pot bekas, nyamuk itu jentiknya di air menggenang. Di air genangan yang bersih. Kemudian, di musim panas, dari pemilik AC tetesan air AC juga air bersih, dan kalau tidak dialirkan dengan baik, bakal jadi genangan. Jangan dikira,
Di komplek elite itu bukan tidak ada nyamuk, itu ada. Tapi kita harus waspada, sampah, genangan, tidak boleh dibiarkan,” tegasnya.

Pihaknya berharap Pemkot melalui Dinkes tidak bosan melakukan edukasi ke masyarakat karena elemen yang terlibat banyak.

“Dari pemkot sangat lengkap perangkatnya. Dia punya kecamatan, kelurahan, Posyandu, PKK, RT, RW, itu jaringan yang perlu dioptimalkan, diberdayakan supaya masyarakat teredukasi. Nah ini yang perlu kita bangun awareness. Langkah preventif harus digalakkan,” katanya.

“Di website Dinkes isinya minim banget. Padahal bisa dieksplorasi. PKK, posyandu adalah ujung tombak penyampai pesan kepada masyarakat, yang paling dekat dengan masyarakat.
Jadi di sana sebagai simpul-simpul berkumpul masyarakat yang menyampaikan isu kesehatan. Sehingga perlu dikomunikasikan jadi Piranti itu harus diberdayakan. Agar masyarakat lebih berhati-hati menjaga lingkungan agar tidak timbul penyakit termasuk penyebaran Abate,” katanya kemudian.

Dirinya yakin sebetulnya banyak hal yang bisa dilakukan. Sehingga masyarakat terbangun kesadaran. Apalagi di tengah era teknologi informasi.

“Artinya banyak hal yang bisa kita lakukan. Jangan sampai menunggu banyak korban. Kenapa masalah berulang?ini jadi PR kita bersama. Kita perlu knowledge management. Artinya pengetahuan harus dikelola sehingga kasus dari masa lalu tidak akan berulang,” tukasnya. (*)

Artikel ini telah dibaca 4 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Wali Kota Bekasi Tegaskan Aparatur bukan hanya Administrator tapi juga Eksekutor

21 April 2025 - 12:06 WIB

Trending di Berita Terbaru