BEKASIMEDIA.COM – Founder Rumah Autis Cagar Foundation, Ismunawaroh berharap dengan adanya Komisi Nasional Disabilitas (KND), bisa memperjuangkan hak-hak juga kesetaraan bagi penyandang disabilitas di tanah air khususnya kota Bekasi. Hal itu Isti sampaikan dalam Diskusi Publik Komunitas Media Online (Komodo), pada Jumat (17/6/2022) di Balelo Food Garden Bekasi Timur.
“Harapan besar bagi kita semuanya dengan hadirnya komisioner ini bisa menjadi jembatan karena banyak sekali, sebelumnya sudah ada undang-undang, PP kemudian bahkan di Bekasi juga sudah ada peraturan walikota tapi memang semua punya kepentingan yang sama insya Allah punya visi misi yang sama dalam memperjuangkan kesetaraan bagi sahabat-sahabat kita teman-teman kita, adik-adik kita yang berkebutuhan khusus,” kata Isti.
Selain itu kepada Komodo, Isti berharap rekan media juga menjadi partner terbaik dalam memberikan informasi dan kemudian menjadi partner dalam menyuarakan perjuangan, hak-hak dan pemenuhan para penyandang disabilitas di Indonesia terutama di kota Bekasi.
Kiprah Isti dan rekan-rekan guru dan profesional yang ada di Cagar Foundation dengan lembaga programnya rumah autis itu secara hukum secara legal formalnya berdiri di Bekasi pada tahun 2004 dan rumah autis sudah berkiprah hampir 17 tahun.
“Kami adalah LSM atau lembaga sosial pertama di Indonesia yang bergerak untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus terutama autisme dari keluarga prasejahtera dan saat ini untuk rumah Autis sendiri yang berdiri tahun 2004 sudah ada di 7 cabang-cabang pertama dari di Bekasi tepatnya ada di jalan Ratna daerah Jatibening terus kemudian cabang kedua kami ada di gunung Putri Bogor kemudian ada di rumah autis Tangerang, Tanjung Priok, Depok, bogor kota dan cabang Karawang,” jelasnya.
Saat ini, Rumah Autis memang memberikan layanan terapi bagi ABK, namun tidak hanya autisme, layanan lainnya juga ada untuk ADHD, down syndrome dan intellectual disability.
“Saat ini cagar foundation dengan lembaga pertamanya rumah autis. 2011, Pak Deka Kurniawan mendirikan Sekolah sibghah Akhlak Quran. Sekolah inklusi, kami berkomitmen mengedepankan karakter Sibghah akhlak Quran. Kami sejak awal berdiri mendeklarasikan diri menjadi sekolah inklusi,” katanya.
Di sana, pihaknya menerima anak-anak berkebutuhan khusus dan terus berkomitmen memenuhi hak pendidikan bagi ABK di sekitar sekolah Sibghah akhlak Quran.
“Kami terima usia TK, SD, kelas 1 sampai 6, satu atau dua siswa ABK. Kami sudah tak akan memperdebatkan, karena prinsipnya mereka istimewa yang perlu diperjuangkan haknya,” ujarnya.
Namun, sampai saat ini Isti mengatakan permintaan membludak. Karena pilihan Sekolah inklusi di Bekasi masih minim terutama yang negeri. Adapun sekolah swasta ada, hanya, biayanya memang tidak murah. Sementara banyak anak yang membutuhkan layanan di sekolah reguler namun belum terakomodir dengan baik.
“Oleh karena itu, saya mewakili lembaga sosial berkomitmen menjadi partner pemerintah. Saat ini kebutuhan sekolah, intervensi awal, terapi sangat dibutuhkan. Kami melayani anak-anak prasejahtera, dhuafa bahkan ada yang murah dan bahkan gratis,” ujarnya.
“Kebutuhan terapi minimal sehari 8 jam. Padahal biayanya luar biasa.
Dan memang itu sesuatu tanda bahwa semakin banyak ABK di Bekasi. Sementara kami kapasitasnya hanya bisa 70 orang dan banyak yang masih status waiting list. Kapasitas SDM dan ruangan terbatas. Sehingga pelayanan masih kurang optimal,” tambahnya.
Keberadaan Rumah Autis, kata Isti merupakan sebuah alternatif untuk terapi dan sekolah khusus. Diperuntukkan anak-anak di atas usia 12 tahun yang tidak bisa ke sekolah umum. Karena SLB juga kapasitasnya terbatas belum bisa menampung banyak ABK, apalagi ABK dewasa.
“Harapan kita dengan acara ini informasi yang dibutuhkan bisa tersebar. Kami sebagai LSM memberikan layanan kepada orangtua. Kami juga advokasi, sosialisasi, seminar-seminar dan bahkan setiap tahun kami selalu coba deklarasi Bekasi peduli autisme. Harapannya suara kami semakin terdengar. Tapi pada akhirnya harapan itu belum maksimal kami rasakan. Karena di Bekasi sendiri belum semua dilaksanakan. Sehingga dengan forum ini bisa berkelanjutan suara-suara para penggiat terutama anak ABK. Semakin bisa didengarkan,” ujarnya.
Isti mengaku di kota Bekasi juga sudah mendapat dukungan PLT wali kota. Namun memang butuh kekuatan yang lebih besar lagi untuk mendorong pemenuhan hak dasar pendidikan ABK.
“Kita pernah deklarasi Bekasi ramah inklusi dan lain-lain. Namun sampai hari ini perubahan belum maksimal kami rasakan. Ke depan kami berharap melalui Komisi Nasional Disabilitas (KND) bisa mengawal undang-undang yang ada,” katanya.
Dirinya juga berharap lembaga kesejahteraan sosial di bidang ABK semakin banyak dan komitmen untuk konsisten melayani siswa siswanya, mendukung dan bisa jadi pusat informasi, juga bisa jadi partner pemerintah, dan bisa mengimplementasikan UU yang ada. (*)











