BEKASIMEDIA.COM – Angka putus kuliah nasional di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pada laporan Statistik Pendidikan Tinggi 2020 (PTS) sangat tinggi (79,50%) dibandingkan dengan angka putus kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (16,90%). LLDIKTI III atau DKI Jakarta juga memiliki angka putus kuliah yang bisa dikatakan cukup tinggi 14% atau 102.507 mahasiswa putus kuliah dari 707.707 mahasiswa terdaftar. Angka putus kuliah tertinggi berasal dari provinsi Sulawesi Utara yakni 27% atau 23.154 mahasiswa putus kuliah dari 86.595 mahasiswa terdaftar. Sedangkan angka putus kuliah terendah adalah provinsi Banten (2%) atau 21.903 mahasiswa putus kuliah, dari 86.595 mahasiswa terdaftar . Berdasarkan data ini, dapat dikatakan bahwa meskipun DKI Jakarta memiliki fasilitas pendidikan yang terlihat lebih baik dibandingkan provinsi lain, namun masih memiliki angka putus kuliah yang cukup tinggi. Faktor-faktor apa yang menyebabkan tingginya putus kuliah, bahkan di provinsi yang memiliki fasilitas yang lebih baik seperti DKI Jakarta?
Dalam penyelesaian tugas akhir skripsi, sebuah studi yang dilakukan pada 5 perguruan tinggi yang memiliki fakultas psikologi di kota Semarang (Hariyadi dkk, 2017) dikatakan bahwa salah satu yang dapat mendorong dan membantu mahasiswa untuk dapat menyelesaikan tugas akhir skripsi adalah ketika topik atau judul skripsi diberikan keleluasaan pada mahasiswa untuk memilih dan mendapatkan dukungan dukungan dosen yang kompeten pada topik yang dipilih oleh mahasiswa.
Menurut Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana (UMB) Intan Savitri minat mandiri mahasiswa dan dorongan atau monitoring dari dosen yang berkompeten memang menjadi hal penting.
“Mengambil topik berdasarkan minat mahasiswa sendiri tentu membutuhkan kemampuan untuk melihat dan merumuskan masalah yang merumakan aspek pertama dari ketrampilan berpikir kritis,” katanya.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh (Reynders et.al, ) menyatakan bahwa melatih ketrampilan berpikir kritis dapat dilakukan dengan strategi peningkatan kemampuan belajar dengan berpikir kritis, yakni memberikan persoalan nyata (fenomena) di masyarakat untuk kemudian diberikan arahan untuk melakukan evaluasi (menilai seberapa relevan, dan dapat diandalkan sebuah informasi) fenomena tersebut, menganalisa (menginterpretasikan dan mengekstraksi hal relevan) terkait fenomena tersebut, melakukan sintesa (mengaitkan berbagai informasi tersebut untuk mendukung argumentasi baru), berargumentasi (menyatakan pendapat yang didukung logika dan data) untuk menyajikan solusi.
Berdasarkan permasalahan tersebut, Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana melakukan kegiatan pengabdian masyarakat Workshop Berpikir Kritis bekerjasama dengan University of Malaysia Sabah (UMS) Malaysia yang juga memiliki persoalan yang hampir sama. Kegiatan dilakukan secara daring pada tanggal 13 Maret 2022 di Malaysia dan 25 Maret 2022 di Indonesia. Dengan pembicara, Dr. Setiawati Intan Savitri, M.Si dan Dina Syakina S.Psi., M.Si serta Dr. Getrude Cosmas dan Dr. Walton Wider dari INTI University Malaysia.
“Kegiatan yang dibiayai penuh oleh skema Pengabdian Masyakarat Kerjasama-Luar Negeri. Dari Universitas Mercubuana ini di hadiri total 80 mahasiswa dari yang berkuliah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan Sabah Malaysia. Bahkan, salah satu peserta Peserta menyatakan bahwa kegiatan ini perlu diadakan lebih sering, karena mahasiswa terkendala dengan model-model kuliah yang kurang fleksible tidak menekankan pada pemikiran kritis dan pembelajaran berbasis pengalaman,” ujar perempuan yang juga merupakan penulis buku ini.
Ia berharap dengan adanya kegiatan ini dapat membawa dampak positif bagi para mahasiswa, khususnya tingkat akhir untuk mampu berpikir kritis dan memiliki kreatifitas dan keberanian dalam segala hal.
“Sebab hidup di era digital, tidak hanya membutuhkan kecerdasan tetapi juga daya pemikiran kritis, kreatifitas dan keberanian untuk konsistensi mewujudkannya,”pungkasnya











