Selasa, Juni 22, 2021
Beranda Komunitas Halal Bihalal, FLP Bekasi Belajar Jurnalisme Kemanusiaan

Halal Bihalal, FLP Bekasi Belajar Jurnalisme Kemanusiaan

BEKASIMEDIA.COM ─ Kali kedua, Forum Lingkar Pena Bekasi (FLP Bekasi) menyelengarakan halal bi halal secara daring (06/06/2021). Acara rutin tahunan yang diselenggarakan di bulan Syawal sebagai wadah silaturahmi antar anggota dan antar tingkat. Acara dilaksanakan dari pukul 9:00-12:00 WIB. Pada Kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah jurnalisme kemanusiaan disampaikan oleh Enjang Anwar Sanusi (39) atau akrab disapa Kang Enjang, merupakan anggota senior FLP Bekasi yang juga aktif menulis artikel di media massa online dan offline seperti koran Sindo, Kompasiana, Bekasimedia, dan lain-lain.

Seperti kegiatan jurnalistik pada umumnya, jurnalisme kemanusiaan disusun tak lepas dari kode etik jurnalistik.

“Jurnalisme kemanusiaan mementingkan sisi humanis dan lebih condong membela masyarakat, serta tidak tunduk pada keinginan penguasa,” tukas Enjang menitikberatkan ciri jurnalisme kemanusiaan di awal materi. Jurnalisme kemanusiaan terbagi menjadi beberapa jenis. Pada kesempatan ini, Enjang menyampaikan tiga jenis jurnalisme kemanusiaan, yaitu jurnalisme bencana, jurnalisme damai, dan jurnalisme perang.

Jurnalisme bencana, jenis kegiatannya meliput dan memberitakan suatu peristiwa bencana dengan menerapkan prinsip serta fase liputan bencana. Jenis jurnalisme ini banyak digunakan di Indonesia mengingat intensitas bencana yang cukup sering terjadi di Indonesia. Pendekatannya dengan melihat sisi lain efek dari bencana yang bisa menimbulkan rasa empati. Dalam meliput peristiwa bencana ada hal-hal yang perlu ditekankan. Pertama, jangan memaksa korban jika ia tidak berkenan diwawancarai. Jangan mengulang-ulang pertanyaan yang sama yang membangkitkan kenangan korban pada bencana. Selanjutnya segera akhiri wawancara Ketika korban sudah enggan diwawancarai. Kemudian pewawancara harus mengolah tulisan dengan mengendapkan rasa optimis, yang dapat menimbulkan rasa simpati bagi pembaca. Terakhir, redaktur harus membaca kembali tulisan dan mempertimbangkan dampak tulisan terhadap korban.

Jurnalisme damai, berfokus untuk mencari solusi dari suatu konflik dengan memetakan konflik, mengidentifikasi semua pihak yang terlibat, dan menganalisisnya. Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya konflik atau perang.

Jurnalisme perang, lebih fokus pada pemberitaan tentang suatu konflik dan menampilkan kejadian kekerasan.
“Penyajian jurnalisme kemanusiaan bisa dalam bentuk straight news dan feature,” Ayah dari tiga putra ini menjelaskan untuk jenis straight news biasa digunakan dalam penyampaian berita di media massa. Kalimat pembuka sudah mewakili 5W+1H. Bahasanya lugas dan struktur penulisan ketat menggunakan prinsip piramida terbalik. Untuk jenis feature tulisan terkesan lebih kreatif dengan menitikberatkan pada human interest. Tujuan penulisan feature tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga untuk menghibur dan mencerahkan pembaca.

Penyampaian materi dengan durasi satu jam ini cukup memikat para peserta halal bi halal untuk bertanya. Salah satu penanya, anggota FLP Bekasi Angkatan 16, Lita (44), “Adakah tips atau kiat menulis jurnalisme kemanusiaan bagi seorang pegawai pemerintah agar tidak menyinggung penguasa?”

Enjang menanggapi, bisa dengan menggunakan nama pena dan memilih jenis jurnalisme kemanusiaan yang lebih netral seperti jurnalisme damai.

Tujuan akhir dari jurnalisme kemanusiaan yaitu mengembalikan sisi humanisme berupa empati yang merupakan fitrah pada setiap manusia yang saat ini mulai pudar.

Melalui materi jurnalistik kemanusiaan di acara halal bi halal ini, wejangan dari Ketua FLP Bekasi Lia Z Anshor dan Dewan Penasehat FLP Bekasi Wiwiek Sulistyowati, bahwa inilah saatnya untuk bermuhasabah sejauh mana kontribusi anggota FLP Bekasi baik sebagai bagian dari organisasi atau berdiri sendiri sebagai manusia, memberi manfaat bagi sekitarnya. [NURULIFA]

RELATED ARTICLES

Most Popular