Selasa, April 13, 2021
Beranda Berita Menulis untuk Memecahkan Masalah Secara Kreatif

Menulis untuk Memecahkan Masalah Secara Kreatif

BEKASIMEDIA.COM – Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana bekerja sama dengan Hibermas Consulting melakukan Pelatihan dan Pendampingan Menulis Kreatif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah secara Kreatif.

Para peserta yang terdiri dari remaja dan dewasa itu terlihat antusias mendengar penjelasan Dr. Setiawati Intan Savitri, M.Si yang juga bekerja sebagai Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana. Menurut perempuan yang biasa disapa,  bahwa menulis itu membutuhkan jam terbang tinggi sehingga harus sering melakukan aktivitas menulis.

Salah satunya untuk melakukan aktivitas menulis adalah menulis diberbagai tempat seperti blog, status di media sosial hingga media massa.

“Apapun yang kita lakukan menulis di status media sosial, di majalah dinding, di buku hingga media massa adalah untuk menceritakan sesuatu. Hal ini seperti diungkapkan oleh McAdam bahwa manusia sebenarnya adalah pencerita. Kita selalu punya cerita untuk diceritakan kepada orang lain. Nah, menulis kreatif ada juga yang bermanfaat untuk orang lain,” kata perempuan anggota Satgas Literasi Kemendikbud.

Menurutnya dalam menulis kreatif agak berbeda dengan cara menulis seperti biasanya, karena dipelukan teknik menggugah imajinasi.

“Mengapa perlu menggugah imajinasi? Karena sebenarnya imajinasi itu penting, ketika seseorang bisa berimajinasi berarti bisa merencanakan ke depan. Misalnya kita ingin bertamasya ke suatu tempat. Nah ketika kita ingin bertamasya ke suatu tempat berarti kita telah berimajinasi,” ujarnya menerangkan melalui Zoom, Jumat, 12 Maret 2021.

Cara berimajinasinya adalah, kata Intan, dengan membangkitkan ingatan tentang informasi yang pernah kita baca, kita dengar, yang kita bayangkan dari cerita-cerita orang walaupun kita belum pernah ke sana.
“Jadi imajinasi sebetulnya adalah apa yang kita bayangkan,” katanya.

Setelah mampu untuk menggugah imajinasi peserta juga harus mempelajari bagaimana menggunakan metafora dan personifikasi. Metafora, kata Intan, bisanya kita lihat saat orang menulis, membaca puisi itu menggunakan metafor.

“Yang kelihatannya tidak masuk akal, tapi indah ketika kita dengar,” katanya.

Kreatifitas dalam menulis

Dalam menulis kreatif diperlukan kreatifitas. Kreatifitas adalah kemampuan seseorang untuk berpikir diluar kebiasaan. Salah satu contohnya adalah dalam menulis puisi. Dalam sebuah puisi banyak hal yang diluar nalar manusia. Salah satu contohnya adalah puisi ‘Aku Ingin’ karya Sapardi Djoko Darmono.

 Aku Ingin

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

 

Menurut Intan, dalam puisinya Sapardi, ia menulis cinta itu adalah sederhana, seperti abu dan api. Dengan mengungkapkan cinta seperti abu dan api, artinya Sapardi berpikir tidak biasa.

“Padahal cinta itu kadang-kadang panas-dingin, bila mau ketemu debar jantungngya lebih kuat. Tubuhnya akan merasa hangat,” kata Intan menjelaskan di hadapan 50 peserta zoom.

Intan juga berpendapat, bahwa kreatifitas juga merupakan kemampuan untuk berpikir di luar keumuman. Misalnya, ada orang yang ingin berkirim surat tapi tidak ingin orang yang menerima suratnya tidak tahu. Bisa disisipkan di bawah pintu, bisa memakai nama rahasia. Ketika orang berpikir kreatif dia akan mencari alternatif untuk mencapai tujuannya.

Sebagaimana ketrampilan berpikir lainnya, kata Intan, maka berpikir kreatif adalah kemampuan yang perlu dilatih, membutuhkan waktu dan proses yang panjang untuk dapat bermanfaat bagi kehidupan individu. Salah satu cara untuk melatih berpikir kreatif adalah melalui menulis kreatif.

“Menulis kreatif memiliki berbagai macam bentuk, menulis puisi, menulis cerpen, menulis novel, menulis skenario film yang pada dasarnya melatih proses untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru, melatih fleksibilitas sudut pandang, memperkaya kosakata dan menghasilkan gagasan dan ide-de baru. Dengan demikian, maka melatih berpikir kreatif melalui menulis kreatif menjadi hal yang penting, terlepas dari invidu yang berlatih menulis kreatif akan menjadikan ketrampilan tersebut sebagai profesi, hobi atau pun mendapatkan manfaat bukan pada menulis kreatifnya tetapi pada sisi ketrampilan berpikir kreatifnya untuk menyelesaikan persoalan sehari-hari,” ujar Intan menjelaskan.

Selain itu, kemampuan untuk mengaitkan hal yang tidak berhubungan, kata Intan, itu juga kreatifitas.

“Ketika kita membaca buku cerita, ada orang bisa bertemu di masa lalu dan masa depan. Kemudian penggunaan metafor dan simbol. Daun bisa berbisik, angin bisa bernyanyi lewat pohon bambu. Ini disebut personifikasi dan metafora. Kemudian melibatkan imajinasi,” katanya.

Rumah Kapal, teknologi rekayasa tumbuhan, mobil listrik, arsitektur kontainer, termasuk produk kreatifitas. Menulis, kata Intan, juga seperti itu, karena menghasilkan karya dan produk yang diterima masyarakat. Salah satu contohnya adalah menulis puisi.

“Dalam menulis puisi seseorang bisa mengungkapkan kesedihan, kesenangannya pada tulisan dengan menggunakan metafor dan teknik menggugah imajinasi dengan membayangkan sebuah adegan lima hal yang terlihat, empat hal yang teraba, tiga hal yang didengar, dua hal yang dibaui serta satu hal yang dikecap,” ujarnya menjelaskan.

Intan Savitri memberi contoh dihadapan para peserta untuk membayangkan bagaimana seorang ibu marah. Biasanya adalah matanya melotot, rambut awut-awutan, jarinya menunjuk ke arah anak.

“Namun, dalam menulis kreatif adalah kita harus berpikir di luar keumuman, berpikir bagaimana jika dan menambah metafora ketika membayangkan seorang ibu marah. Maka akan jadilah sebuah tulisan kreatif,” katanya.

       Mata itu berkilau

       Rambutnya meliuk seperti penari, jemarinya lurus menjemput ke arahku

      Perlahan ibu membantu,

     seringkali kerikil, kasar, tajam, tetapi aku menyiramnya basah

     Lalu tumbuh bunga-bunga dari bibirnya dari bibirnya, melati, mawar, kamboja

     Hidungku wangi bunga, dzikirku doa; ibumu, ibumu, ibumu

Menulis Kreatif menghasilkan fokus

Intan mengatakan bahwa dengan menulis kreatif akan menghasilkan fokus, mampu berpikir di luar kotak, punya banyak perspektif dan bisa menemukan pemecahan masalah. Ia pun mencoba mengajak peserta untuk melihat sebuah video tempat dengan banyak pepohonan di dalamnya.

“Coba dibayangkan ketika melihat, mendengar dan mencoba meraba video tersebut. Setelah itu kita kumpulkan apa yang kita lihat di video. Seperi kata debu, hijau, dedaunan, langit, sinar matahari, rintik, gemericik, keras, kasar” katanya

Intan menambahkan dengan mengumpulkan kata-kata tersebut lalu dirangkai menjadi sebuah tulisan. Caranya dengan menggunakan pengandaian, metafora dan personifikasi.

“Pikirkan bagaimana jika dedaunan berbicara. Lalu, bayangkan adegan tentang dedaunan berbicara, siapakah objeknya. Setelah itu, tinggal menentukan kemungkinan adegan berikutnya” katanya.

Salah satu peserta Agustiani mencoba menulis apa yang ia lihat di video, ‘jika daun bisa berbicara ia akan berterima kasih kepada batang, ranting dan tangkai karena batang, ranting dan tangkai akan memberkan kekuatan pada daun’.

“Tidak ada yang salah menulis kreatif. Jadi ketika kita berpikir ‘bagaimana jika’, kita bisa memecahkan masalah dengan berpikir diluar keumuman dan di luar kebiasaan,” kata Intan setelah membacakan tulisan Ibu Agustiani.

Untuk diketahui kegiatan ‘Pelatihan dan Pendampingan Menulis Kreatif untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah secara Kreatif’ yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana Bekasi merupakan salah satu pengabdian masyarakat bekerja sama dengan Hibermas Consulting.

Hibermas Cosulting membutuhkan untuk bekerjasama dengan Fakultas Psikologi Universitas Mercubuana, yang memiliki tenaga ahli dan akademisi yang ahli dalam bidang-bidang psikologi khususnya literasi berpikir kreatif.  Selama ini rekanan Hibermas Consulting
terdari dari berbagai sekolah, komunitas, dan yayasan pendidikan yang tentunya membutuhkan pelatihan yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh institusinya. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Hibermas Consulting pada sekolah-sekolah yang menjadi rekanannya, 30% dari penyelenggarakaan aktivitas kelas, belum memasukkan model berpikir kreatif dalam kurikulumnya. [Lam]

 

RELATED ARTICLES

Most Popular