Selasa, April 13, 2021
Beranda Berita Kota Bekasi Belum Ada Rencana Induk Pengelolaan Sampah Terpadu

Kota Bekasi Belum Ada Rencana Induk Pengelolaan Sampah Terpadu

BEKASIMEDIA.COM – Masalah sampah di Kota Bekasi sudah dari dulu. Dibukanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang sejak tahun 1989 menimbulkan masalah baru bagi kota yang disebut sebagai kota para pendatang ini.

Banyak studi kasus untuk mengatasi permasalahan sampah agar tidak sampai menggunung di Bantar Gebang. DKI saja menyumbang 7.702,07 ton per hari dengan ketinggian sampah di setiap zona berbeda. Sedangkan Bekasi menyumbang 1.900 ton perhari.

Berdasarkan infografis yang tersedia, dari empat zona sampah, tiga di antaranya sudah mencapai ketinggian di atas 40 meter. Seperti dalam bagan di zona 5 dari 25,05 hektare yang disediakan ketinggian di sana telah mencapai 46,99 meter.

Sementara itu, di zona 2 dari 22,41 hektare yang disiapkan, ketinggian telah mencapai 44,50 meter. Begitupun dengan zona 3 dari 19,67 hektare ketinggian telah mencapai 48,99 meter. Praktis hanya zona satu saja yang ketinggiannya baru mencapai 33,59 meter di lahan 25,05 hektare.

Ketua DPRD Kota Bekasi Chairoman J. Putro saat ditemui oleh Bekasimedia di Yayasan Kranggan Peduli Farm mengatakan bahwa pengelolaan sampah hari ini yang dikatakan pengelolaan terpadu butuh tumbuh kembang.

“Yang dibutuhkan adalah pengelolaan sampah secara komunitas. Di mana mayoritas sampah yang aktualnya sampah organik seharusnya didorong ke arah composting, bisa ke arah pengembangbiakkan maggot. Sehingga mayoritas sampah justru dikelola bukan dengan cara dibakar. ini harapan baru, sudah lama sesungguhnya tapi belum menjadi gerakan yang masif,” katanya sambil menunjukkan Maggot yang dipegangnya, Sabtu, (6/3/2021).

Pengelolaan berbasis masyarakat ini, kata dia, bisa dilakukan dengan mengoptimalkan peran peran elemen masyarakat, dimulai dari pemilihan sampah.

“Pengelolaan sampah seharusnya dari hulu ke hilir bukan sekadar dari mengumpulkan sampah dan mengangkutnya ke TPA tapi mengelolanya,” tambahnya.

Dari pemilihan sampah organik dan anorganik, lanjutnya, setelah itu reuse, reduce dan recycle dilakukan oleh masyarakat baru bisa kita lakukan pengelolaan sampah yang baik.

“Nah, kita membutuhkan sistem pengelolaan sampah terpadu dan hari ini baru dapat kita rasakan perlunya rencana induk pengelolaan sampah terpadu di Kota Bekasi,” kata lulusan dari Jepang ini.

Menurutnya, Yayasan Kranggan Peduli Farm yang disurveinya hari ini merupakan salah satunya, mudah-mudahan bisa muncul plasma-plasma pengelolaan sampah baru berbasis komunitas dengan menggunakan maggot.

Ditemui di tempat yang sama, Anim Aminudin mengatakan Koperasi Kranggan melalui Yayasan Kranggan Peduli membuat pengelolaan sampah terpadu melalui budidaya maggot.

Menurutnya Yayasan Peduli Kranggan Farm ini baru beroperasi sejak enam bulan yang lalu.

“Kami bekerja sama dengan mereka yang mempunyai keahlian dalam pengelolaan sampah dan budidaya pertanian. Ini merupakan konsep baru dalam pengelolaan sampah terpadu,” katanya ditemui di lokasi, Sabtu, 6 Maret 2021.

Anim membujuk beberapa orang salah satunya Sulis yang mempunyai pengalaman mengelola sampah dengan Maggot di Bogor, lalu suaminya, Misiyan yang ahli beternak unggas dan Titin dalam hidroponik.

“Di sini semuanya dari hulu ke ilir. Sayur mayur dari sampah rumah tangga untuk pakan maggot. Setelah besar, maggot menjadi pakan burung puyuh dan lele. Sedangkan sisa sampah yang tidak termakan oleh Maggot dapat digunakan untuk memupuk padi hidroponik dan sayuran,” katanya.

Diketahui luas lahan Yayasan Kranggan Farm 700 meter melakukan budidaya Maggot, Padi Hidroponik dan 3000 puyuh petelur. Diharapkan dari budidaya tersebut dapat mengatasi permasalahan sampah di Kota Bekasi. (*)

RELATED ARTICLES

Most Popular