fbpx

Agar Tak Sakit Kepala Ketika Membaca Berita Pandemi Covid 19

SAKIT

Sudah beberapa bulan ini saya tidak mencari tahu tentang perkembangan penyebaran virus Covid-19. Namun, kemarin saya akhirnya mencari tahu beritanya setelah tetangga sebelah rumah ternyata ikut menjadi korban virus mematikan ini.

Mencari tahu berita tentang virus Covid-19 sebenarnya sangatlah mudah. Kita cukup mengetikkan kata ‘berita corona terbaru’ di mesin pencari maka akan muncul berita terbaru tentang virus yang viral sejak bulan Maret lalu itu. Betapa terkejutnya saya, karena justru hari ini penambahan kasus positif Covid-19 terus meningkat.

Setelah membaca satu berita singkat di media daring beberapa menit saya buru-buru menutupnya. Kepala saya langsung sakit dan ada perasaan menyesal. Saya sudah menduga penambahan kasus Covid-19 ini pasti meningkat karena beberapa teman kantor dan saudara sudah menjadi korban. Saya merasa makin lama virus itu makin mendekat. Dulu korbannya jauh, tidak ada yang saya kenal. Akhir-akhir ini virus itu telah menyebar di lingkungan terdekat. Rasa takut dan khawatir tentu saja makin menjadi.

Seperti biasa, kemudian saya pun merasakan gejala-gejala terkena Covid-19. Mendadak tenggorokan menjadi gatal, batuk, dan bersin-bersin, setelah membaca berita itu. Wah, saya sudah terkena gangguan psikosomatik, nih.

Salah satu alasan mengapa saya menghindari mencari informasi mengenai wabah ini adalah supaya kesehatan fisik dan mental saya tidak terganggu. Menghindari pemberitaan dan media sosial menjadi pilihan terbaik saat ini. Saya merasa berita dan informasi yang beredar lebih banyak berita yang kurang baik atau bahkan menyeramkan daripada berita yang baik dan positif.

 

Psikomatik

Berita baik, seperti berita pasien yang berhasil sembuh atau maraknya aksi kemanusiaan untuk berdonasi jarang saya temui. Justru berita tentang gosip para selebriti atau berita yang berbau politik yang membuat kepala berdenyut-denyut makin merajalela. Katanya, kalau berita bisa berpengaruh pada kondisi mental dan memicu timbulnya keluhan fisik itu kita sudah terkena gangguan psikosomatik.

Gangguan psikosomatik bisa diartikan sebagai keluhan fisik yang disebabkan oleh karena pikiran atau emosi. Biasanya, kondisi ini berawal dari stres, cemas, takut, atau depresi. Nah, kalau gangguan psikosomatik akibat ketakutan terhadap virus Corona, gejala yang bisa muncul antara lain batuk-batuk, sesak napas, bahkan demam, seolah-olah kita sudah menjadi korban.

Reaksi ini muncul karena adanya peningkatan hormon adrenalin dan hormon stres. Saat kita terus-menerus membaca berita yang kurang baik, misalnya gugurnya tenaga medis atau bertambahnya jumlah pasien yang positif terinfeksi Covid-19 mungkin akan merasa cemas, takut, dan stres.

Perasaan ini akan membuat tubuh kita merasa sedang dalam bahaya, lalu mengeluarkan hormon adrenalin dan kortisol. Secara alami, kedua hormon ini diproduksi saat tubuh merasa terancam, misalnya ketika sedang dikejar anjing. Tujuannya adalah untuk meningkatkan respons tubuh agar siap untuk menghadapi bahaya.

Namun, bila hormon ini keluar di saat sebenarnya kita dalam keadaan aman, justru kita akan merasakan keluhan-keluhan yang ditakutkan terjadi. Seperti dalam kasus infeksi virus Corona, tibatiba bisa saja merasa sesak napas, batuk-batuk, atau meriang, padahal sebenarnya kita baik-baik saja.

 

Tips

Salah satu cara menenangkan perasaan sebaiknya memang membatasi dulu membaca atau mencari berita mengenai Covid-19 untuk sementara waktu. Pemberitaan yang negatif atau tidak benar berkontribusi besar terhadap kepanikan yang tidak perlu. Padahal, kasus penyakit lainnya yang juga menyebabkan kematian dengan angka tinggi, tetapi hal itu tidak banyak diberitakan.

Lebih baik kita memperkuat antibodi sebagai senjata utama menghadapi virus. Selalu mengikuti anjuran untuk tindakan pencegahan seperti menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak, berjemur, istirahat yang cukup, dan menkonsumsi makanan bergizi serta minum vitamin E dan C.

Melakukan hal-hal yang positif seperti olahraga yang cukup, menyalurkan hobi yang aman, mengobrol dengan teman melalui telepon, membaca buku, atau menulis sesuatu yang baik untuk mengimbangi berita-berita yang negatif tentu jauh lebih baik.

Oleh : Lita Nufus

Lita Nufus, ibu dari 4 anak ini kesehariannya mempunyai kegiatan sebagai abdi negara dan keluarga. Terlahir di Madiun 43 tahun yang lalu ini sekarang berdomisili di Bekasi. Ia mempunyai hobi memasak dan membaca. Kini sedang mendalami hobi barunya di dunia literasi dan telah menghasilkan beberapa buku antalogi berupa kumpulan tulisan non fiksi, kumpulan cerpen dan puisi. Aktivitas media sosialnya bisa diintip di:

Faceboook: Litafuss

Instagram: Litafuss

Blog: litafuss.blogspot.com

,