fbpx

Merger, Nama “Bank Syariah Indonesia” Diambil

BEKASIMEDIA.COM – Rencana penggabungan usaha PT Bank BRI Syariah Tbk. (BRIS), PT Bank
Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS) kian dimatangkan. Hari ini, perubahan Ringkasan
Rancangan Penggabungan Usaha (merger) yang memuat tambahan penjelasan ihwal struktur, nama,
dan logo bank baru telah dilakukan. Publikasi Perubahan Ringkasan Rancangan Penggabungan Usaha
dilakukan sesuai regulasi yang berlaku dan mengikuti persetujuan regulator.

Bilamana seluruh prosesnya telah tuntas dan persetujuan dan regulator-regulator terkait telah
diperoleh, sesuai dengan Perubahan Ringkasan Rencana Merger yang disampaikan, Bank Hasil
Penggabungan akan bernama PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Nama ini akan digunakan secara efektif
oleh PT Bank BRIsyariah Tbk. selaku Bank Yang Menerima Penggabungan. Perubahan nama tersebut
juga diikuti dengan pergantian logo. Kantor pusat Bank Hasil Penggabungan akan berada di Jl. Abdul
Muis No. 2-4, Jakarta Pusat, yang sebelumnya merupakan kantor pusat BRIS. Bank Hasil Penggabungan
akan melakukan kegiatan usaha pasca merger di kantor pusat, cabang, dan unit eksisting yang
sebelumnya dimiliki BRIsyariah, Bank Syariah Mandiri, serta BNI Syariah.

Perubahan Ringkasan Rencana Merger juga memuat rancangan perubahan struktur organisasi Bank
yang Menerima Penggabungan yakni BRI Syariah. Pasca merger, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki
susunan kepengurusan yang diperkuat oleh 10 Direksi. Nama-nama tiap Direksi, Dewan Komisaris dan
Dewan Pengawas Syariah (DPS) Bank Hasil Penggabungan akan dibahas dalam RUPSLB BRIS diperkirakan
akan dilaksanakan pada 15 Desember 2020.

Dirinci lebih jauh, 10 posisi Direksi yang akan mengelola jalannya usaha Bank Hasil Penggabungan terdiri
dari Direktur Utama, dua posisi Wakil Direktur Utama, dan masing-masing satu Direktur Wholesale &
Transaction Banking, Retail Banking, Sales & Distribution, Information Technology & Operations, Risk
Management, Compliance & Human Capital, serta Finance & Strategy.

Hery Gunardi, Ketua Project Management Office Integrasi dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN,
mengatakan seluruh proses dan tahapan-tahapan merger akan terus dikawal hingga penggabungan
ketiga bank syariah BUMN selesai dilakukan. Dia memastikan segala rencana perubahan dan
penyesuaian operasional telah sesuai dengan tujuan dan kegiatan operasional bank hasil merger, yang
memiliki visi menjadi Top 10 bank syariah terbesar di dunia dalam 5 tahun ke depan dan sebagai Top 10
bank terbesar di Indonesia.

“Kehadiran Bank Syariah Indonesia akan menjadi tonggak kebangkitan ekonomi dan keuangan syariah di
Indonesia. Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, entitas baru ini tentu memerlukan identitas yang
kuat dan Direksi yang berpengalaman untuk menjalankan operasionalnya. Dengan Direksi yang akan diisi
oleh orang-orang berpengalaman di bidangnya, visi Bank Syariah Indonesia untuk menjadi salah satu
bank syariah terbesar di dunia akan semakin mantap dan yakin bisa kita wujudkan,” ujar Hery yang kini
menjadi Dirut Bank Syariah Mandiri.

Direktur Utama BRISyariah Ngatari menambahkan, masih ada sejumlah tahapan yang harus dilalui
hingga penggabungan tiga bank ini tuntas, termasuk memperoleh persetujuan dari regulator- regulator
terkait. Seluruh proses akan dilakukan secara saksama sesuai regulasi yang berlaku.

“Alhamdulillah, saat ini kami telah memiliki rancangan nama baru untuk menjadi identitas bank hasil
merger nanti. Identitas baru ini semakin memicu semangat kami untuk menuntaskan merger dan
integrasi sebaik mungkin, dan mulai beroperasi memenuhi segala kebutuhan nasabah dan masyarakat.
Kami menjamin semua proses merger sampai tuntas nanti akan dilakukan dengan mengedepankan para
karyawan, nasabah, dan mitra usaha. Perlu dicatat bahwa saat ini merger belum efektif. Kami masih
menjalankan sejumlah proses agar dapat memperoleh semua persetujuan dari regulator. Hingga proses
tersebut selesai, semua operasional dan layanan tetap berjalan normal dan optimal,” ujar Ngatari.

Direktur Utama Bank BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menambahkan, penetapan nama dan
struktur kepengurusan baru bagi Bank Hasil Penggabungan sejalan dengan upaya Pemerintah
membentuk ekosistem halal serta mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.
“Dengan struktur yang baru ini, gerak bank hasil merger kami yakini akan semakin lincah dan mampu
menjawab tantangan serta segala kebutuhan masyarakat, nasabah, serta pelaku usaha di Indonesia
maupun dunia. Pengelolaan bank hasil merger yang akan dilakukan oleh para profesional yang
berpengalaman di bidangnya akan membantu mewujudkan salah satu tujuan dari penggabungan ini,
yakni menjadikan Bank Syariah Indonesia sebagai jangkar dalam ekosistem industri halal dan
mendukung visi untuk memposisikan Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi Syariah dunia,” ucap
Firman.

Bank Hasil Penggabungan nanti akan memiliki aset mencapai Rp214,6 triliun dengan modal inti lebih
dari Rp20,4 triliun. Jumlah aset dan modal inti tersebut menempatkan Bank Hasil Penggabungan dalam
daftar 10 besar bank terbesar di Indonesia dari sisi aset, dan TOP 10 bank syariah terbesar di dunia dari
sisi kapitalisasi pasar dalam 5 tahun ke depan.

Selain memiliki aset dan modal inti besar, Bank Hasil Penggabungan juga akan didukung dengan
keberadaan lebih dari 1.200 cabang, 1.700 jaringan ATM, serta didukung 20.000 lebih karyawan di
seluruh Indonesia, Bank Hasil Penggabungan akan mampu memberikan layanan finansial berbasis
syariah, layanan sosial bahkan spiritual bagi lebih banyak nasabah.

Di segmen ritel, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki ragam solusi keuangan dalam ekosistem Islami
seperti terkait keperluan ibadah haji dan umrah, zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF), produk layanan
berbasis emas, pendidikan, kesehatan, remitansi internasional, dan layanan dan solusi keuangan lainnya
yang berlandaskan prinsip syariah yang didukung oleh kualitas digital banking dan layanan kelas dunia.
Di segmen korporasi dan wholesale, Bank Hasil Penggabungan akan memiliki kemampuan untuk masuk
ke dalam sektor-sektor industri yang belum terpenetrasi maksimal oleh perbankan Syariah. Selain itu,
Bank Hasil Penggabungan juga diyakini akan dapat turut membiayai proyek-proyek infrastruktur yang
berskala besar dan sejalan dengan rencana Pemerintah dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia.
Di samping itu, Bank Hasil Penggabungan akan menyasar investor global lewat produk-produk Syariah
yang kompetitif dan inovatif.

Di segmen UKM dan Mikro, Bank Hasil Penggabungan akan terus memberikan dukungan kepada para
pelaku UMKM melalui produk dan layanan keuangan Syariah yang sesuai dengan kebutuhan UMKM baik
secara langsung maupun melalui sinergi dengan bank-bank Himbara dan Pemerintah Indonesia.
Bank Hasil Penggabungan akan tetap berstatus sebagai perusahaan terbuka dan tercatat di Bursa Efek
Indonesia dengan ticker code BRIS. Komposisi pemegang saham pada Bank Hasil Penggabungan adalah
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) 51,2%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) 25,0%, PT
Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI – Saham Syariah 2% dan publik 4,4%.
Struktur pemegang saham tersebut adalah berdasarkan perhitungan valuasi dari masing-masing bank
peserta penggabungan.

Tambahan Informasi dan/atau Perubahan Ringkasan Rencana Merger telah disampaikan kepada seluruh
regulator terkait, baik di sektor pasar modal dan perbankan. Tahapan dan proses-proses selanjutnya
akan sepenuhnya dilaksanakan sesuai dengan regulasi dan perundang-undangan yang berlaku. Seluruh
pihak saat ini terus mengawal proses penggabungan termasuk memperoleh persetujuan dari seluruh
regulator terkait untuk mencapai tanggal perkiraan efektif penggabungan sebagaimana tercantum
dalam Perubahan Ringkasan Rencana Merger, yakni 1 Februari 2021.

Dari sisi layanan, tidak ada perubahan operasional dan layanan selama proses ini berlangsung. Bagi para
nasabah, ketiga bank menjamin sepenuhnya operasional tetap berjalan normal dengan kualitas layanan
yang tetap optimal dan prima.