fbpx

Dilema, Rencana Kembalinya Kegiatan Belajar Mengajar Secara Luring

Pandemi virus corona masih saja menghantui semua manusia saat ini, khususnya Indonesia. Dilansir dari KOMPAS.com, Pada 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Namun, Pakar Epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebutkan virus corona jenis SARS-CoV-2 sebagai penyebab Covid-19 itu sudah masuk ke Indonesia sejak awal Januari.

“Sejak awal Januari kemungkinan besar virus (SARS-CoV-2) itu sudah masuk ke Indonesia,” kata Pandu dalam diskusi daring bertajuk “Mobilitas Penduduk dan Covid-19: Implikasi Sosial, Ekonomi dan Politik” pada Senin (4/5/2020).

Hal ini pun berdampak pada dunia pendidikan di seluruh dunia. Mungkin sebagian dari kita merasakan dampak tersebut. Yang paling berdampak yaitu pada kegiatan belajar mengajar. Sejak pandemi masuk ke Indonesia, pemerintah mengimbau proses belajar mengajar untuk dilakukan secara daring atau online.

Kebijakan yang dicanangkan oleh pemerintah pun menuai pro dan kontra, karena banyaknya keluhan dari masyarakat mengenai proses belajar mengajar melalui daring. Selama lebih dari 6 bulan melakukan pembelajaran online, pemerintah akhirnya kewenangan penuh kepada pemerintah daerah untuk kembali membuka sekolah dan melakukan proses pembelajaran tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021.

“Pemerintah hari ini menyesuaikan kebijakan untuk memberikan kewenangan pada pemerintah daerah, kantor wilayah, kantor kemenag, untuk menentukan pemberian izin tatap muka di sekolah yang berada di bawah kewenangannya,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, dalam sesi jumpa pers virtual, Jumat (20/11).

Lagi-lagi, kebijakan pemerintah dalam rencana kembalinya kegiatan belajar mengajar secara luring atau tatap muka ini, menuai pro dan kontra dari semua kalangan, termasuk para pelajar sendiri. Sebagian mengatakan bahwa mereka sangat perlu pembelajaran secara tatap muka kembali, karena apa yang dilakukan secara daring sangat tidak efektif. Namun, sebagian juga mengkhawatirkan status penyebaran virus corona di Indonesia yang masih terus bertambah.
Dikutip dari BBC News Indonesia,”Pemberian izin bisa serentak atau bertahap, tergantung kesiapan masing-masing daerah sesuai diskresi kepala daerah, berdasarkan evaluasi daerah mana yang siap, mana yang tidak, dan setiap kemampuan sekolah untuk memenuhi check list dan melakukan protokol kesehatan sangat sehat,” ujarnya.

Menurut Nadiem, perbedaan besar dari kebijakan pada Agustus lalu, pembukaan sekolah per Januari mendatang tidak lagi didasarkan pada zonasi yang disusun Satgas Covid-19.

“Peta zonasi risiko dari Satgas Covid-19 tidak lagi menentukan pemberian izin pembelajaran tatap muka tapi pemda, sehingga mereka bisa memilah daerah-daerah yang lebih mendetil,” papar Nadiem.

Kegiatan belajar mengajar secara luring sangatlah diperlukan bagi para pelajar dan juga orang tua. Ini disebabkan pembelajaran dari rumah juga memberi kesadaran kepada orangtua bahwa mendidik anak itu ternyata tidak mudah. Para pelajar juga mengeluhkan banyaknya tugas yang harus dikerjakan serta pemaparan materi yang kurang dipahami.

Sebenarnya, kegiatan belajar mengajar daring bisa menjadi efektif dan mudah jika fasilitas-fasilitas terpenuhi dan memahami cara pengajaran yang baik. Namun, sangat disayangkan dengan belum meratanya fasilitas yang ada ke seluruh pelosok negeri. Inilah yang menyebabkan banyaknya kendala dalam proses belajar mengajar daring di Indonesia.

Lalu, bagaimana menurutmu mengenai rencana pemerintah untuk membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka?

Penulis: Yanti

Yanti atau biasa dipanggil Yansoo oleh orang-orang terdekatnya, memiliki hobi membaca dan fotografi. Lahir di Jakarta, 23 Desember 1998 dan sekarang tinggal di Bekasi. Tengah menempuh pendidikan jurusan Sastra Inggris bidang Minat Terjemahan di Universitas Terbuka. Tertarik akan hal-hal kerelawanan khususnya dibidang pendidikan dan kesehatan. Temukan ia di instagram @yansoofgg.