fbpx

Covid-19 Makin Menyebar, Kisah Nyata Seorang Anak Mengurus Ibunya ke Rumah Sakit

BEKASIMEDIA.COM – Kondisi Pandemi Covid-19 di Kota Bekasi memasuki pekan terakhir di bulan Agustus 2020 ini makin meluas.

Informasi per tanggal 24 Agustus 2020, 261 RW di 53 kelurahan se Kota Bekasi masuk zona merah. Bahkan beberapa laporan warga menyebutkan RW lingkungannya belum masuk data tersebut namun sudah ada yang positif Covid-19.

Aktivis sosial media yang juga warga Kota Bekasi Gatot Prasetyo melalui akun Twitter @gatse8 berbagi pengalamannya mengurus ibunya yang sedang sakit dan betapa repotnya ketika harus dirawat.

Ia berpesan kepada seluruh warga masyarakat agar menjaga kesehatan. “Usahakan jangan sakit!” katanya kepada bekasimedia.com, Rabu (26/8/2020).

Berikut ini kisah lengkap Gatot Prasetyo yang ia tulis di akun media sosialnya.

Jangan sakit, dan kalo sakit usahakan dirawat dulu di rumah. Jangan sampe ada demam karena RS akan sangat preventif Ini gw ngalamin sendiri. Ga pake katanya..

14 Agustus lalu, nyokap gw harus dibawa ke RS karena kondisinya ngedrop, beliau sakit Diabetes dan tumor di kepala. Lengannya bengkak Krn luka yang akhirnya bikin Ibuk jadi demam, kondisi gula darah pada saat itu 70 Akhirnya kita bawa ke RS, dan harus dilarikan ke IGD.

Sesampainya di IGD, karena ada demam, petugas RS mengarahkan agar dibawa ke IGD Covid, shock dong kami, krn kami ini pasien rawat jalan di RS tersebut dan tau persis riwayat sakit ibu. Tapi, kami malas berdebat..demi keselamatan ibu, kami menurut saja, kemudian ibu di bawa sebuah ruangan ICU gitu, 1 ruangan dua pasien, dan baru tau setelah pulang kalo yang satu ruangan bareng kami itu adalah pasien Covid.

Akhirnya ibu menjalani proses pemeriksaan thoraks dan lainnya sesuai Protokol Covid IGD untuk memastikan semuanya.

Sore hari, Dokter jaga memutuskan bahwa ibu harus di Swab dan Isolasi selama menunggu hasil swab, baru setelah itu akan diputuskan dirawat di ruangan mana.

Kami sekeluarga awalnya setuju menerima keputusan dokter, tapi…jam 11 malam kami baru tau bahwa yang dimaksud isolasi itu artinya bersama pasien Covid yg sudah positif, padahal ibu baru suspek..kaget dong, kok bisa sih..Dokter bilang Krn keterbatasan ruangan.

Akhirnya, 23.30 Wib kami memutuskan pulang ke rumah, karena khawatir kalo diisolasi kondisi ibu bisa terpapar Covid.

Kami menyanggupi untuk swab dan isolasi mandiri. Alhamdulillah dokter IGD sangat komunikatif dan membantu kami, soal tempat itu diluar kewenangan dia.

15 Agustus akhirnya kami Swab ibu, hasil tes baru keluar 19 Agust malam. Alhamdulillah negatif hasilnya, karena tanggal 20 Agustus itu tgl merah, kami memutuskan untuk membawa ibu ke RS hari Jum’at di 21 Agustus, Krn ada jadwal dokter penyakit dalam yg memeriksa ibu

Tepat pukul 09. 30 wib, kami berangkat ke RS menuju IGD dgn segala persiapannya, dari mulai rekam medis, hasil swab dan pakaian ibu.

Begitu sampe IGD, gw nunjukin hasil tes Swab ibu yang negatif dan rekam medis, tapi….sSetelah menunggu sebentar, petugas IGD tetap mengarahkan kami ke IGD Covid, padahal gw udh nunjukin hasil tes Swab yg negatif, menurut mereka Krn ibu gw ada riwayat demam, justru itu alasan ibu di swab, Krn ada riwayat demam & kabut pada paru-paru. Kita menunggu 3 hari untuk itu.

Dalam keadaan shock dan nahan nangis, akhirnya gw bawa nyokap ke ruangan IGD lagi, nyokap ini blm bisa duduk, dia harus berbaring..gw lapor petugas IGD untuk diverifikasi hasil tes yang gw kasih, petugas IGD nyamperin nyokap yang udh lemas di mobil dan sambil cek tekanan darah…

Setelah di cek petugas itu bilang, ” Maaf pak, ruang isolasi sedang penuh, silakan cari RS lain”. Duaaarrr..kaget dong, kenaapaaa ga dari proses awaaaall, kenapa harus nunggu dicek dan diarahkan ke IGD Covid…Aseli, ga bisa nahan nangis gw disitu, nyokap gw lagi sakit dan lemas, tetiba ngalamin sendiri harus diperlakukan seperti ini.

Gw paham dengan kondisi saat ini, tapi ga bisa juga diperlakukan seperti ini. Mau marah juga buat apa, kita sama-sama lagi capek ngadepin pandemic

Akhirnya, nyokap kita bawa balik ke rumah, setelah kita bingung mau kemana lagi, dan mau diapakan lagi. Karena, kondisi ibu yang makin mual dan Lemas

Ksaat ituJujur gw shock, ibu gw diperlakukan seperti itu. Ga ada rujukan RS dan hanya diminta cari RS lain. Iya, ibu gw emang dr rumah, tapi kita sedang mematuhi protokol untuk isolasi mandiri

Kenapa gw ga cari RS lain?? Kita bingung mau kemana dan RS mana, apa nanti akan diperlakukan sama atau tidak..itu yang kami pikirkan

Sore nya, rencananya kita ingin coba cari RS lain. Tapi, ibu ga mau, ibu trauma dgn apa yang terjadi, 2 kali gagal dirawat di RS dan harus swab lagi, ibu nangis.

Baik bu..Kami mengikuti apa yang ibu mau, dengan segala konsekwensinya. Tapi, Insya Allah kami akan tetap berjuang dgn segenap kemampuan kami agar ibu bisa sembuh. Pasti sembuh bii idznillah.

So, buat kalian yang masih sehat, jaga kesehatan dan jangan sampai sakit. Patuhi protokol kesehatan, jangan merasa hebat apalagi merasa kuat. Ini tentang kita, keluarga dan orang disekitar kita.

Pakai masker Krn Covid itu ada dan merepotkan kita semua !!

Ini bukan tentang petugas medis, salam hormat saya buat mereka yang terus berjuang untuk kita. Ini tentang kebijakan RS yang mungkin merepotkan kita

Kisah ini nyata, dan gw merasakannya sendiri. Staf safe ya Gaesss

 

(ss)

%d blogger menyukai ini: