fbpx

Ahmad Ushtuchri: Dunia Islam Jangan Menutup Diri dari Keragaman Budaya

BEKASIMEDIA.COM – Politisi PKB kota Bekasi, Ahmad Ushtuchri mengatakan dunia Islam tidak boleh menutup diri dari perbedaan dan keragaman budaya. Hal itu ia katakan saat menyambut kedatangan United State Air Force, Band of the Pasific di pondok pesantren Annur, Jalan KH Mochtar Thabrani, Kaliabang Nangka, Bekasi Utara.

“Dulu juga duta besarnya pernah datang ke sini. Dunia Islam itu juga tidak boleh menutup diri, pesantren itu sebagai salah satu perwakilan yang sangat representatif mengenai dunia ‘pendidikan Islam’. Mereka silakan datang ke sini melihat bagaimana bahwa sesungguhnya pendidikan itu bukan hanya ala barat semua, kearifan lokal, timur dan Islam itu yang merekatkan dan mencerdaskan bangsa,” ujarnya kepada bekasimedia.com, Sabtu, (29/2/2020)

Kedua, kata Ustuchri, persoalan utama anak-anak Indonesia ini bukan tidak pintar, tapi mental block. Ketemu orang asing langsung jatuh mentalnya, gugup, down dan sebagainya. “Nah di sini kita ingin biasakan mereka para santri bertemu dengan orang asing biasa saja, bergembira bersama, berdialog dan lainnya. Jadi sebetulnya ini sesuatu yang sangat berharga dan tidak harus ke Bali dulu untuk melihat orang asing. Kemudian juga mereka ini bule yang terdidik, mereka air force terampil dan memiliki karakter sehingga mereka bisa saling tukar pemahaman, kebudayaan dan yang paling penting adalah mereka berani bicara dengan bahasa internasional tidak minder di hadapan orang orang asing,” ujarnya.

Band militer asal Amerika ini datang bertujuan sebagai perkenalan antar budaya di samping ingin mengetahui kehidupan pesantren. Ustuchri mengatakan, pihaknya juga sangat terbuka bagi embassy lainnya seperti Arab Saudi, China, Jepang, dan Turki.

“Tidak dipungkiri memang ada persoalan besar antara dunia Islam dengan barat, akan tetapi hubungan individu tidak boleh terhenti. Saya juga dapat banyak masukan dari event hari ini bahkan ada yang sampai menanyakan bukankah musik itu haram? nah ini kan jadi membuka wawasan dan diskusi, tidak apa apa di dunia pesantren itu sangat berkembang,” imbuhnya.

Anak-anak pesantren sendiri terlihat menikmati penampilan band militer yang menbawakan alunan musik jazz dan mengapresiasi kehadiran para musisi tersebut. “Ini merupakan keterampilan, mental set yang paling berharga di dunia internasional, jangan sedikit-sedikit kita marah, dengan yang beda kita hakimi tapi kita lihat dahulu dan tetap kita punya karakter,” pungkasnya. (denis)

%d blogger menyukai ini: