fbpx

Peduli Minat Baca Tulis, Ma’had Khairul Bariyyah Adakan Workshop Literasi

BEKASIMEDIA.COM – Minat baca dianggap sangat penting bagi santri. Tingginya minat baca akan berdampak pada meningkatnya kemampuan mengemukakan gagasan, baik secara verbal maupun melalui tulisan. Dalam rangka mengupayakan hal itu, Ma’had Khairul Bariyyah Cimuning-Mustikajaya menyelenggarakan Workshop Literasi untuk santri tingkat Madrasah Aliyah. Kegiatan bertema “Menjadi Milenial yang Membaca dan Dibaca Dunia” tersebut dilaksanakan pada Ahad (26/1/2020).

 

Sebanyak 94 santri yang menjadi peserta tampak begitu antusias dan bersemangat mengikuti kegiatan tersebut. Kegiatan dibagi menjadi tiga sesi, yaitu sesi penyampaian materi, tanya-jawab, dan focus group discussion (FGD). Sesi penyampaian materi dimoderatori oleh Hendriyan Rayhan yang merupakan Pembina OPKB (Organisasi Pelajar Khairul Bariyyah).

“Dalam kesempatan ini kita bakal belajar gimana caranya untuk menjadi milenial yang membaca dan dibaca dunia. Membaca dunia tentu dengan menggali informasi, terutama dari buku-buku. Dibaca dunia caranya adalah dengan menulis,” tutur moderator jebolan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut saat membuka sesi. Setelah itu dua narasumber yang merupakan penerima Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag RI diundang ke atas panggung yang bertempat di Aula Hj. Nurdjani Djaja.

Materi pertama disampaikan oleh Ghinaa Aliyya Fathinnahda. Setelah moderator membacakan curriculum vitae, mahasisiwi kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menyampaikan presentasi berjudul “Literasi dan Minat Baca”. Gaya penyampaian yang interaktif dengan peserta membuat suasana menjadi hidup. Mula-mula Ghinaa meminta pendapat peserta tentang pengertian literasi, lalu dijawab oleh beberapa peserta. Setelah itu Ghinaa menyebutkan bahwa literasi berasal dari bahasa Latin yaitu literatus yang berarti kemampuan dan keterampilan berbahasa.

“Saya kutip perkataan Pramoedya Ananta Toer. Beliau mengatakan bahwa, orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” tutur Ghinaa yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta.

Materi kedua tentang trik mudah membaca dan memahami isi buku hingga menuangkan ide ke dalam tulisan disampaikan oleh Retno Palupi Miftahul Aniyah. Penulis buku “Senjaku Tak Bernama” itu menjelaskan beberapa trik untuk membaca, di antaranya dengan memulai dari genre yang paling disukai dan buku yang bahasanya mudah dipahami. Lupi, begitu panggilannya, juga membahas target lima tahun ke depan dari para santri peserta.

“Jadi, penulis itu bukan cita-cita, karena apapun cita-cita kalian, jadilah penulis. Kalau kalian jadi guru, jangan jadi guru yang biasa saja, caranya dengan menulis. Misalnya seperti saya yang akan menjadi ahli medis. Saya ingin menulis agar orang-orang yang membaca tulisan saya bisa menghindar dari penyakit,” tutur lulusan Pondok Pesantren Minhajut Tholabah yang juga aktivis Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tersebut.

Setelah penyampaian materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sebanyak lima peserta mengajukan pertanyaan. Selanjutnya pada kegiatan FGD peserta dibagi ke dalam sepuluh kelompok. Dua narasumber yang juga Kru Majalah SANTRI CSSMoRA Nasional memberikan arahan kepada peserta untuk praktek menyusun majalah. Setiap kelompok menulis sepuluh judul rubrik dan sebuah isi tulisan dari salah satu rubrik. Setelah selesai, hasil karya kelompok itu dipresentasikan, meskipun hanya dua kelompok yang berkesempatan presentasi karena terbatasnya waktu. Kegiatan diakhiri tepat pukul 12.00 WIB dan peserta tampak bergembira mengikuti kegiatan. (HR)