fbpx

Merdeka Belajar Ala Backpacker Teaching

ilustrasi siswa/ist

Grobogan, 16 Desember 2019 – Backpacker Teaching menyambangi SD N 2 Jatiharjo mulai 6-15 Desember 2019 dalam rangka membantu pemerataan pendidikan di Indonesia.

Backpacker Teaching berkontribusi dalam hal membantu mewujudkan pendidikan yang merata di Indonesia mencakup infrastruktur dan SDM yang ada.

Diikuti 54 orang relawan Backpacker Teaching dan Backpacker Teaching beberapa wilayah seperti Backpacker Teaching Semarang yang diketuai Dinda Eka, Backpacker Teaching Batang yang diketuai Afrilia Sandyta, Backpacker Teaching Yogyakarta yang diketuai Amal Azkia, Backpacker Teaching Bogor yang diketuai M. Rizky Firmansyah, Backpacker Teaching Solo yang diketuai oleh Doni Ardian Wicaksono, bersama masing-masing anggotanya ikut berpartisipasi dalam kegiatan Backpacker Teaching Goes To Grobogan yang diketuai oleh Fajar Anggun Permana.

Relawan Backpacker Teaching ini menjadi agent of change di Sekolah tersebut dengan mengusung metode merdeka belajar. Mulai dari membuat pojok baca untuk meningkatkan literasi siswa di sekolah, melakukan parenting kepada wali murid oleh Dr. Mus Mulyadi MA., M.Pd., dan workshop penilaian otentik kurikulum 13 berbasis kearifan lokal bersama Dr. Dirgantara Wicaksono M.Pd., MM. yang dihadiri sepuluh sekolah di gugus V termasuk guru dan kepala sekolah.

Kegiatan tersebut ditutup dengan pertunjukan siswa-siswi dalam pentas seni yang berisi tampilan anak-anak menari dan bernyanyi, juga drama dan puisi. Tidak hanya itu, Backpacker Teaching juga membuat film dokumenter selama berkegiatan di Sekolah tersebut yang nantinya akan diadvokasikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga komisi X bidang pendidikan untuk segera ditindaklanjuti.

Selama satu minggu, kegiatan belajar mengajar berlangsung menggunakan 2 kelas dan perpustakaan. Dua kelas tersebut digunakan oleh kelas V dan kelas VI. Sedangkan perpustakaan digunakan oleh kelas I sampai kelas III karena kelas-kelas yang seharusnya digunakan sudah rusak berat. Mulai dari atap yang bocor, dinding kayu yang lapuk, serta lantai yang sudah tertutup tanah sangat rawan roboh. Hal tersebut terjadi Selma bertahun-tahun.

Selama Ibu Darwanti menjabat kepala sekolah dari tahun 2015 belum ada bantuan dari pemerintah untuk perbaikan infrastruktur yang rusak.

“Selama saya menjabat disini dari 2015 saya sudah ajukan proposal dan upload data di Dapodik sesuai alur yang ada untuk dana renovasi kelas tapi belum juga diturunkan sampai sekarang,” terangnya.

Selain ruang kelas, kebutuhan guru yang masih kurang menjadi masalah di sekolah ini. Hanya terdapat 3 guru PNS termasuk kepala sekolah yang lain masih honorer.

Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Backpacker Teaching Dr. Dirgantara Wicaksono M.Pd., MM. menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini diharapkan bisa menggugah pemerintah khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera menindaklanjuti permasalahan pendidikan yang tidak merata.

“Kami melakukan perbaikan kurikulum dengan memadukan kurikulum yang ada dengan kearifan lokal setempat,” tutup Beliau. (*)

%d blogger menyukai ini: