fbpx

Mengatasi Depresi dengan Terapi Menulis Naratif

caleg gagal di bekasiFoto ilustrasi

BEKASIMEDIA.COM – Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) angka kematian di Korea termasuk cukup tinggi di dunia. Tercatat rasio bunuh diri per 100.000 penduduk di Korea Selatan sebesar 26,9 5. Rasio bunuh diri tertinggi terjadi pada laki-laki sebesar 38,4 %, sedangkan rasio bunuh diri pada perempuan sebesar 15,4 %.

Di tahun 2019 ini contohnya, sudah beberapa artis dari Negeri Ginseng meninggal karena bunuh diri. Sebut saja aktris Jeon Mi Seon, Sulli, Goo Hara dan Cha In Ha.

Pada tanggal 29/6/2019, aktris senior Jeon Mi Seon. Berdasarkan investigasi kepolisian Korea, Mi Seon bunuh diri karena depresi penyakit ibunya dan kematian kerabatnya.
Begitu juga dengan Choi Jin Ri atau biasa kita kenal dengan nama panggung Sulli. Sulli ditemukan meninggal di kediamannya, Senin (14/10/2019). Sulli sendiri pernah mengungkap bahwa ia menderita gangguan panik dan fobia sosial. Baru-baru ini juga terungkap bahwa Sulli sudah lama mengalami depresi berat akibat komentar jahat dari warganet yang sering ia terima.

Depresi Bisa Diatasi dengan Terapi Menulis?

Depresi sebetulnya dapat teratasi, salah satunya dengan terapi menulis naratif. Inilah yang menjadi inspirasi disertasi Doktor Setiawati Intan Savitri.

“Menulis naratif seperti menulis diary, hanya saja ditambahkan dengan teknik tertentu,” katanya saat ditemui setelah Sidang Terbuka Promosi Doktor di ruang auditorium fakultas Psikologi UI, Rabu (11/12/2019).

Teknik yang ditambahkan dosen Mercubuana ini adalah teknik menjaraki diri.

“Menjaraki diri maksudnya berjarak secara mental dari peristiwa negatif yang diingat kembali,” katanya.

Intan menjelaskan bahwa jika dalam menulis fiksi, seorang pengarang biasanya menuliskan nama tokoh, maka nama tersebut dimaksudkan sebagai orang lain (bukan si pengarang).

Berbeda dengan teknik yang dilakukan Intan dalam Disertasinya yang berjudul Pengaruh Jarak Psikologis dalam Menulis Naratif terhadap Refleksi Diri Adaptif. Dengan teknik ini, mereka yang mengalami depresi menulis peristiwa negatif yang pernah terjadi.

“Nah, kali ini tokohnya diri sendiri. Jadi teknik menulisnya, saya melihat diri saya sedang bersedih. Teknik akan mendorong seseorang bisa melihat dirinya sendiri dan jadi objektif,” katanya.

Menurutnya, dengan cara seperti ini, mereka yang depresi akan mengalami penurunan emosi yang signifikan.
“Dia tidak akan terlarut dengan perasaannya karena dia akan berjarak dengan dirinya sendiri. Jadi dia akan memikirkan kemungkinan-kemungkinan baru di masa depan ketika dia melihat dirinya sendiri,” tambahnya.

Hindari Media Sosial

Hanya saja, kata Intan, menulis naratif seperti ini tidak dianjurkan jika ditulis di media sosial.

“Karena di sosial media, semua orang akan membaca dan berkomentar terkait apa yang kita alami. Bila tidak kuat, akan menambah depresi,” kata perempuan yang merupakan salah satu tokoh sastra di Indonesia ini.

Ini seperti yang terjadi pada artis Korea Choi Jin Ri atau biasa kita kenal Sulli. Bahwa Sulli ternyata sudah lama mengalami depresi berat akibat komentar jahat dari warganet yang sering ia terima.
Intan menganjurkan untuk menulis naratif di buku diary, catatan harian.

“Karena itu personal dan tidak dibaca untuk umum,” katanya.

Hanya saja menulis naratif ini, kata Intan, harus menulis minimal tiga hari berturut-turut.

“Ketika kita sedang mengalami problematik yang kita bikin kita sedih sebaiknya dicurahkan lewat tulisan. Itu bisa meredakan emosi dan menurunkan kesedihannya. Sebetulnya tiga hari berturut-turut itu minimal, yang dicari itu adalah berjarak dirinya sendiri. Ketika kita menulis itu kan ada jarak dirinya sendirinya.
Memang secara teori ketika pertama menulis, kata Intan, kita tidak ada jarak karena mencurahkan perasaan.

“Tapi dengan terus menerus menulis itu dia akan berpikir sendiri, kenapa saya harus bersedih. Oo oke aku bersedih dan rasanya seperti ini, terus kira-kira kenapa aku harus sedih terus. Nah itu akan terpikirkan ketika dia menulis dan akan ada perubahan kognitif. Orang kan tidak akan menceritakan yang sama terus menerus,” katanya.

Karena itu ia menganjurkan bagi yang belum terbiasa menulis seperti ini untuk membangun kebiasaan terlebih dahulu.
“Sebetulnya ketika seorang senang menulis ketika dia nggak menulis itu merasa membutuhkan. Itukan habit itu harus dibangun,” kata perempuan yang pernah menjadi Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) periode 2009-2013 ini.

Intan memberi saran, saat kita mengalami masalah dan belum bisa cerita kepada orang lain sementara kita sudah sangat stress dan tidak tahu apa yang harus dilakukan sebaiknya dituliskan. Karena menulis itu membantu menstruktur cara berpikir.

Dalam menulis naratif ini, seorang mengalami stres, kondisi fisiknya, kata Intan harus sedang fit dan tidak boleh terlalu capek.

“Karena menulis itu kan berpikir juga. Ketika kita lagi capek banget, bukannya tersalurkan malah bertambah stresnnya,” katanya.

Dalam disertasinya, Intan Savitri melakukan pengujian terhadap 1.444 orang. Dengan umur 18-25 tahun, kemudian dia pernah mengalami peristiwa negatif dan bersedia ikut eksperimen.

“Sebelum menulis, ada tes, untuk mengecek psikologisnya dia. Setelah itu dites kemudian dicek lagi psikologi. Pertama diukur dulu, soal ingatan masa lalunya seberapa emosional dia. Kemudian akan terukur, ada suatu angka tertentu yang dia laporkan, tingkat kesedihan dia sekian. Mereka menulis, ketika sudah menulis kita tes lagi. Jadi dia menilai dirinya sendiri, seberapa sedih saya setelah menulis. Itu ada ukurannya,” tukasnya. (*)

%d blogger menyukai ini: