BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 4 Des 2019 01:02 WIB ·

KPAD: Anak dengan HIV/AIDS Bukan Sampah


 KPAD: Anak dengan HIV/AIDS Bukan Sampah Perbesar

BEKASIMEDIA.COM – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bidang Kesehatan dan NAPZA Kota Bekasi, dr. Hadyan menyatakan berbicara soal HIV/AIDS erat kaitannya dengan penanggulangan dan stigma yang berkembang di masyarakat.

“Berbicara anak kaitannya dengan HIV/AIDS ini sangat kompleks. Paling utama yang paling mendasar adalah stigma,” ujarnya kepada bekasimedia.com, Rabu (4/12/2019).

Menurut dr. Hadyan, terkait hak pendidikan anak misalnya, banyak anak yang tertolak, ini disebabkan kurang mengertinya masyarakat tentang HIV/AIDS dan penularannya.

“Anak-anak kita banyak hak haknya yang tidak terpenuhi masalah kesejahteraannya. Banyak persoalan pemenuhan hak-hak nak dan bagaimana mengimplementasikannya dengan baik. Hari ini banyak masalah tentang anak, anak cacat, anak dengan HIV, masih menjadi permasalahan serius,” sambungnya.

Pihaknya merasa pemangku kebijakan dan semua stakeholder terkait harus melakukan upaya penanggulanan dengan optimal. KPAD menegaskan anak-anak dengan HIV/AIDS bukan sampah, banyak dari mereka berprestasi. Jangan sampai stigma buruk ini jadi penghalang mereka mendapatkan akses pendidikan dan akses bermain. Anak-anak ini bisa sehat jika rutin kontrol dan pengobatan.

“Jangan dipukul rata pengidap HIV itu orang nakal dan suka “jajan”. Nah kalau anak juga tertular tidak semua dari ibu yang nakal, boleh jadi juga suami yang nakal. Pada akhirnya yang kena dampak anaknya tertular dari ayahnya,” ucapnya.

Indonesia sendiri memang masih identik dengan budaya patriarki. Fenomena jajan ini merupakan stigma juga. cek HIV sebelum nikah juga hal yang tabu, kesannya periksa HIV hanya untuk orang orang yang tidak baik.

Namun ia tidak menampik, bagaimana kondisi pergaulan remaja masa kini. Pintu masuknya virus HIV bisa dari jarum suntik, narkoba dan muncul kemudian seks bebas, sehingga akibatnya penularan masif.

“Anak anak umur 0-2 tahun tertular dari ibunya/ortunya. Kalau bicara orang tua, terkait data ini kita masih tunggu. Tapi itukan dari kota Bekasi tercatat dengan angka tinggi juga, kami juga sedang menghubungi pihak terkait soal ini,” katanya.

Kompleksitas dari HIV tadi juga menyinggung ego sektoral, mau dari pemerintah, ataupun masyarakat harus dibenahi karena ini fenomena luar biasa dan harus mengubah stigma.

“Penanggulangan itu soal komitmen mereduksi, ada implementasi untuk menjalankannya. DPRD hari ini harus turun seperti yang sudah dilakukan KPAD ke sekolah sekolah hanya saja kita tidak boleh latah. PR kita Stigma. kita masuk dan kita jangan campaign tentang kebusukan HIV/AIDS,” jelasnya.

Ia mengingatkan, saat campaign para relawan harus memiliki niat memanusiakan manusia. “Kalau menurut saya begini, bagaimana pemerintah siapkan silabus, BNN punya, ini harus disampaikan jangan stigmanya dulu,” pungkasnya. (denis)

Artikel ini telah dibaca 14 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Wali Kota Bekasi Tegaskan Aparatur bukan hanya Administrator tapi juga Eksekutor

21 April 2025 - 12:06 WIB

Trending di Berita Terbaru