fbpx

KPAD: Anak dengan HIV/AIDS Bukan Sampah

BEKASIMEDIA.COM – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bidang Kesehatan dan NAPZA Kota Bekasi, dr. Hadyan menyatakan berbicara soal HIV/AIDS erat kaitannya dengan penanggulangan dan stigma yang berkembang di masyarakat.

“Berbicara anak kaitannya dengan HIV/AIDS ini sangat kompleks. Paling utama yang paling mendasar adalah stigma,” ujarnya kepada bekasimedia.com, Rabu (4/12/2019).

Menurut dr. Hadyan, terkait hak pendidikan anak misalnya, banyak anak yang tertolak, ini disebabkan kurang mengertinya masyarakat tentang HIV/AIDS dan penularannya.

“Anak-anak kita banyak hak haknya yang tidak terpenuhi masalah kesejahteraannya. Banyak persoalan pemenuhan hak-hak nak dan bagaimana mengimplementasikannya dengan baik. Hari ini banyak masalah tentang anak, anak cacat, anak dengan HIV, masih menjadi permasalahan serius,” sambungnya.

Pihaknya merasa pemangku kebijakan dan semua stakeholder terkait harus melakukan upaya penanggulanan dengan optimal. KPAD menegaskan anak-anak dengan HIV/AIDS bukan sampah, banyak dari mereka berprestasi. Jangan sampai stigma buruk ini jadi penghalang mereka mendapatkan akses pendidikan dan akses bermain. Anak-anak ini bisa sehat jika rutin kontrol dan pengobatan.

“Jangan dipukul rata pengidap HIV itu orang nakal dan suka “jajan”. Nah kalau anak juga tertular tidak semua dari ibu yang nakal, boleh jadi juga suami yang nakal. Pada akhirnya yang kena dampak anaknya tertular dari ayahnya,” ucapnya.

Indonesia sendiri memang masih identik dengan budaya patriarki. Fenomena jajan ini merupakan stigma juga. cek HIV sebelum nikah juga hal yang tabu, kesannya periksa HIV hanya untuk orang orang yang tidak baik.

Namun ia tidak menampik, bagaimana kondisi pergaulan remaja masa kini. Pintu masuknya virus HIV bisa dari jarum suntik, narkoba dan muncul kemudian seks bebas, sehingga akibatnya penularan masif.

“Anak anak umur 0-2 tahun tertular dari ibunya/ortunya. Kalau bicara orang tua, terkait data ini kita masih tunggu. Tapi itukan dari kota Bekasi tercatat dengan angka tinggi juga, kami juga sedang menghubungi pihak terkait soal ini,” katanya.

Kompleksitas dari HIV tadi juga menyinggung ego sektoral, mau dari pemerintah, ataupun masyarakat harus dibenahi karena ini fenomena luar biasa dan harus mengubah stigma.

“Penanggulangan itu soal komitmen mereduksi, ada implementasi untuk menjalankannya. DPRD hari ini harus turun seperti yang sudah dilakukan KPAD ke sekolah sekolah hanya saja kita tidak boleh latah. PR kita Stigma. kita masuk dan kita jangan campaign tentang kebusukan HIV/AIDS,” jelasnya.

Ia mengingatkan, saat campaign para relawan harus memiliki niat memanusiakan manusia. “Kalau menurut saya begini, bagaimana pemerintah siapkan silabus, BNN punya, ini harus disampaikan jangan stigmanya dulu,” pungkasnya. (denis)

%d blogger menyukai ini: