fbpx

Mantan Pengidap Stroke Jalan Kaki Bandung – Jakarta

Dalam rangka hari stroke sedunia, Komaruddin Rachmat, mantan pengidap penyakit stroke melaksanakan aksi jalan kaki Bandung-Jakarta mulai tanggal 25 sampai dengan 29 Oktober 2019.

Berikut pengakuannya melalui rilis yang dikirimnya ke media:

Dalam rangka hari stroke se-dunia, maka saya berketetapan hati untuk melaksanakan aksi jalan kaki Bandung – Jakarta mulai tanggal 25 s/d 29 Oktober 2019.

Start dari Bandung adalah dari gedung Sate Bandung tanggal 25 Oktober bertepatan dengan hari Jumat, jam 06.00 WIB. Dan berakhir tiba diharapkan di Monas Jakarta pada tanggal 29 Oktober sore .

Jalur yang saya lewati adalah Bandung (Gedung Sate), Cimahi, Padalarang, Cikalong Wetan, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Jakarta (Monas).

Perjalanan saya ini ditemani seorang teman yaitu saudara Muzbar, teman saya kuliah satu angkatan di Fakultas Ekonomi Unpad tahun 1974 ( mantan atlit maraton yang sampai sekarang masih aktif lari).

Saya sendiri adalah :

Nama : Komaruddin Rachmat
Tempat tgl lahir : Jakarta/ Bekasi 25 Maret 1954.
Pekerjaan : Tenaga ahli di PDAM Tirta Baghasasi Bekasi.

Saya terserang stroke tanggal 16 September 2012, dirawat di Rumah Sakit (RS) Harum Kali Malang Jakarta Timur. Dokter yang merawat adalah dr Gotot Sumantri Sp.S dan dr Krisbanu as.P, dengan diagnosa ketika itu adalah stroke Haemarohic atau pecah pembuluh darah otak. Dan diagnosa ahirnya adalah CVD HEMORRAGIC dan ASMA.

Kondisi saya ketika pulang dari RS berdasarkan catatan medic mengalami perbaikan.

Kondisi realnya setelah pulang dari RS adalah sebagai berikut :

1. Kaki dan tangan bagian kiri mati rasa dicubit dan dibakar tidak terasa.
2. Kaki seperti kesemutan ekstrim sulit dijejakkan ke lantai.
3. Bahu miring kiri ekstrim dengan tangan terkulai lemah tak bertenaga, jari-jari tangan menggenggam tidak bisa dibuka.
4. Syaraf tangan dan kaki error tidak bisa memegang benda yang saya inginkan dan kaki tidak bisa menggunakan sandal jepit secara otomatis.
5. Mulut mencong kiri ekstrim (keluar air liur).
6. Mata sebelah kiri pedih, sulit menelan air liur dan jidat serta pipi bagian kiri kebas.
7. Dll.

Setelah keluar dari RS, saya rutin berobat ke RS Harum kurang lebih 3 bulan kemudian, karena alasan keuangan saya pindah ke RS Persahabatan Rawa mangun Jakarta Timur dengan menggunakan fasilitas Askes istri saya.

Di RS Persahabatan selain berobat ke poli syaraf (kurang lebih 3 bulan) saya juga mengikuti pengobatan akupuntur, teraphy medic yang semuanya gratis. Di RS Persahabatan saya juga bergabung di club stroke yang program utamanya senam stroke setiap hari selasa pagi.

8. Cara saya berjuang untuk terjadinya perbaikan yang signifikan dalam enam bulan periode emas tersebut, antara lain saya di periode tersebut tidak lepas obat dokter, berjalan kaki dan berjalan sejauh yang saya bisa, membeli dan membaca buku-buku kesehatan, nguping pembicaraan para dokter, mencari orang-orang yang sembuh stroke untuk mencari kiat-kiat sembuh.

Dari semua itu saya berkesimpulan sendiri , membangun logika sendiri sampai akhirnya saya menjadi dokter untuk diri saya sendiri.

Tujuan saya melakukan aksi jalan kaki Bandung Jakarta adalah :
1. Saya ingin memberi motivasi kepada para penyandang stroke dimanapun berada, dalam kondisi apapun menderitanya, bahwa mereka harus selalu optimis dan semangat, karena stroke bisa dipulihkan, contohnya adalah saya bahkan insya Allah mampu jalan kaki Bandung – Jakarta.
2. Stroke insya Allah bisa pulih asal tahu caranya dengan disiplin yang tinggi serta kemauan yang keras, dan dengan biaya murah pula (relatif).
3. Bagi yang belum janganlah sampai terkena stroke, karena penyakit stroke itu penuh penderitaan lahir dan batin, dan karenanya pedulilah pada kesehatan diri.
4. Bagi yang telah terkena stroke waspada tingkat tinggilah karena serangan susulan selalu membayangi bila tidak super hati-hati. Serangan kedua hasilnya dapat dipastikan akan lebih buruk dari yang pertama, serangan ketiga dan berikutnya jarang yang selamat atau cacat permanen.
5. Beratnya orang terkena stroke adalah berakibat menurunnya kualitas hidupnya secara tajam, menurun baik kualitas kehidupan individunya juga terjadi pula pada kualitas hubungan keluarga maupun sosialnya, dan terjadi perubahannyapun tidak tanggung-tanggung mencapai 180 derajat.
6. Tanggal 29 adalah hari stroke se-dunia, bertepatan dengan HUT stroke se-dunia ini, ternyata kita mendapat kenyataan bahwa di Indonesia saat ini stroke sebagai penyakit pembunuh nomor satu.
7. Kondisi ini menimbulkan keperihatinan semua pihak termasuk saya, saya menganggap penyakit stroke itu adalah penyakit individu dengan urusan pribadi masing-masing, tapi ketika sudah menjadi endemi maka hal itu seyogyanya menjadi tanggung jawab negara.
8. Menurut saya pemerintah harus segera menjelaskan kepada publik tentang proses mengapa orang bisa terkena stroke, dan sekaligus juga membuat rumusan peta jalan menuju pulih stroke. Karena penyakit stroke itu sesungguhnya telah teridentifikasi yaitu akibat hypertensi dan kolesterol tinggi, diluar akibat kecelakaan dan faktor genetic.

Lalu bagaimana bisa hypertensi dan kolesterol bisa menyebabkan stroke. Banyak publik yang belum mengetahuinya. Pengetahuan ini harus di share ke publik dan bukan hanya menjadi pengetahuan para dokter saja.

Maksudnya adalah agar kematian akibat stroke dapat dikurangi di Indonesia. Dan Indonesia menjadi negara sehat menurut standar Dunia.

Demikian pers release ini saya sampaikan, atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Kota Bekasi, 24 Oktober 2019.
Hormat saya,

Komaruddin Rachmat
Komunikasi selama perjalanan bisa via hp/WA : 0857 8006 2219

Be the first to comment on "Mantan Pengidap Stroke Jalan Kaki Bandung – Jakarta"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: