fbpx

Soal Penghapusan Pendidikan Agama, Stafsus Presiden Tak Setuju Usulan Bos Jababeka

BEKASIMEDIA.COM – Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim menanggapi pernyataan Setyono Djuandi Darmono yang viral beberapa pekan lalu, terkait penghapusan pendidikan agama di sekolah. Menurutnya, pengusaha pendiri Kawasan Industri Jababeka itu terlalu berlebihan, ia tidak mengerti sejarah Pendidikan Agama di Indonesia.

“Oo dia ekstrem. Sudarmono itu tidak mengerti sejarah, pendidikan agama di Indonesia sudah lama,” katanya kepada bekasimedia.com, Kamis (25/7/2019).

 

Sudarnoto menjelaskan para tokoh-tokoh, ulama-ulama Indonesia belajar di Mekah Arab Saudi.

 

“Mereka pergi haji, ada yang mukim lima sampai sepuluh tahun, jadi tokoh dan ulama di Indonesia,” kata mantan Wakil Rektor UIN sejak 2011-2019 ini.

 

Kemudian, kata Sudarnoto, mereka memerdekakan Indonesia.

 

“Lalu membuat pengajian-pengajian, membuat sekolah-sekolah di desa-desa, di kota-kota seperti Muhammadiyah dan NU, dan sebagainya,” tambahnya.

 

Apalagi, pria penggagas President University itu, kata Sudarnoto, ingin bertemu dengan Presiden agar menerima usulannya.

 

“Saya kira, pak Jokowi nggak bakal setuju dengan usulannya. Nggak mungkin lah,” katanya.

 

Ia menyarankan agar pendidikan agama itu bukan dihapus, tapi tetap diawasi.

 

“Bukan hanya pendidikan Agama Islam ya, tapi agama lain juga Kristen, Budha, Hindu juga. Saya rasa agama harus moderat, ya,”katanya. (ham)

Be the first to comment on "Soal Penghapusan Pendidikan Agama, Stafsus Presiden Tak Setuju Usulan Bos Jababeka"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: