fbpx

Pengamat Pendidikan Kota Bekasi: Pelajaran Agama Jadi Benteng Pancasila dari Paham Komunis

pelajaran agama

BEKASIMEDIA.COM – Pengamat pendidikan Kota Bekasi Arvianto Sadri menanggapi wacana penghapusan mata pelajaran Agama di sekolah yang dilontarkan oleh pendiri Kawasan Industri Jababeka Cikarang, SD Darmono.

“Konglomerat tersebut baru-baru ini melaksanakan bedah buku dan mendapatkan tanggapan positif dari beberapa kalangan. Namun yang menarik, ada pernyataannya saat bedah buku yang kontroversial bahwa pelajaran agama sudah tidak diperlukan lagi diajarkan di sekolah, karena menyebabkan radikalisme dan menghambat proses berkembangnya peradaban Indonesia. Tentu pernyataan ini menarik dan mengundang pendapat beragam dari berbagai kalangan, ini salah satu hal yang tidak baik,” ujar Arvianto Sadri dalam rekaman yang ia bagikan di akun youtube-nya, Ahad (7/7/2019).

Menurut Arsad (panggilan karibnya), pernyataan bahwa agama atau pelajaran agama menjadi faktor radikalisme merupakan sebuah upaya sistematis, halus, terencana untuk disebarkan di tengah-tengah masyarakat dalam rangka mengubah sila pertama Pancasila.

Menurutnya, sila pertama Pancasila sangat penting. “kita pernah punya kenyataan pahit saat PKI hendak mengubah Pancasila. itu pernah mereka lakukan, ingin mengubah dasar negara.  Bukan tidak mungkin kembali dilakukan hanya dengan cara yang lebih smooth, langkahnya halus. Pada satu titik mereka punya kekuatan untuk mengubah ini.

“Kenapa ini menjadi perencanaan yang halus karena alurnya seperti ini, saya sebagai angkatan 90-an tidak mengalami peristiwa G30 SPKI. Tapi saya tertanam bahwa peristiwa itu berbahaya, kejam dan jangan sampai kembali terulang. karena kami, generasi 90-an peristiwa itu terus diputar film itu. tapi sekarang? millenials tidak tahu dan tidak paham akan bahaya akan kekejaman peristiwa G30S PKI. (upaya paksa mengubah dasar negara),” lanjut Arvianto yang juga praktisi pendidikan dasar dan menengah ini.

Selain itu, Arsad mengingatkan jika pelajaran agama dihilangkan dari sekolah, maka masyarakat akan cenderung menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta/pondok pesantren untuk belajar agama. Hal ini tidak akan mengurangi permasalahan karena tetap aka nada anak bangsa yang tidak tersentuh pelajaran agama.

“Nah ketika anak bangsa seperti ini banyak, maka anak-anak akan anti agama, tidak yakin adanya Tuhan, tidak peduli terhadap agama, keyakinan agama, maka akan meningkat radikalisme orang-orang yang anti agama. Akan menguatnya keinginan mengubah dasar negara karena jumlah mereka yang sudah banyak atas efek dihilangkannya pelajaran agama di sekolah,” tegasnya.

Atas dasar hal ini, Arsad mengingatkan semua pihak untuk terus menjaga Indonesia, “jaga bangsa kita dari orang-orang yang ingin mengubah dasar negara terutama sila pertama,” pungkasnya. (eas)

Be the first to comment on "Pengamat Pendidikan Kota Bekasi: Pelajaran Agama Jadi Benteng Pancasila dari Paham Komunis"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: