fbpx

Isra Mi’raj, Tahun Politik dan Politik Keummatan

Oleh : Aa Dym

Kembali kita bertemu dengan sebuah momentum kenabian bukti kerasulan nabi akhir zaman nabi kita Muhammad SAW. Isro’ Mi’roj 27 Rajab 1440 H tahun ini bertepatan dengan 3 April 2019, tepat dua pekan atau 14 hari jelang PEMILU serentak 2019 yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 April 2019.

Kita tahu berdasarkan kajian para ahli sejarah perjalanan kenabian dan kerasulan Nabi Muhanmad SAW tidak semuanya mulus tanpa halangan, tantangan dan rintangan. Perjalanannya diwarnai onak dan duri sehingga para ahli sejarah menyebutkannya dengan amul huzni atau tahun kesedihan.

Peristiwa Isro Mi’roj juga menjadi ujian keimanan dan ketaatan bagi para pengikut nabi kaum muslimin saat itu maupun saat ini. Sehingga secara hikmah dan faidah peristiwa itu sangat erat kaitannya dengan proses pempentuan dan pembentukan “ummah” itu sendiri.

Apalagi peristiwa ini juga berkaitan erat dengan turunnya perintah ibadah shalat. Sedangkan shalat dalam ajaran Islam menempati posisi yang utama dan sentral dari keseluruhan ibadah. Baik sebagai tiang agama, sebagai ibadah pertama yang akan dihisab atau sebagai ibadah harian yang berkelanjutan.

Shalat lima waktu juga menjadi pembeda antara mukmin dan kafir. Selain dari ibadah khusus antara seorang hamba dengan Tuhannya, berbeda dengan zakat kalau shalat itu hubungan vertikal kepada Robb atau Ilahnya sedangkan zakat adalah hubungan horizontal antara sesama hamba Allah SWT.

Sehingga dapat digambarkan bahwa isro atau berjalan yang tentu berkaitan dengan diperjalankannya Rosulullah dari masjidil Harom di Makkah ke Masjidil Aqsho di Palestina juga adalah gerakan horizontal. Sedangkan mi’raj adalah naik atau dinaikkannya nabi secara jasad dan ruh ke langit atau sidrotul muntaha bertemu sang kholiq adalah gerakan vertikal.

Dengan demikian maka dua ajaran penting dalam Islam itu mengisyaratkan suatu syarat kemenangan yang mutlak untuk dimiliki yakni hablum minallah dan hablum minannas. Sebagaimana firman-Nya dalam Al Quran surat Ali Imron. Sedangkan dalam konteks yang lain ikhtiar lahir (usaha) tidak lengkap tanpa ikhtiar bathin (doa).

Dimensi lain dari turunan dua ajaran Islam di atas adalah agar kita hendaknya selalu hidup bersama jamaah. Lima ajaran penting dalam Islam yang dikenal dengan RUKUN ISLAM. Lima perintah ini ternyata merupakan perintah kepada nabi-nabi sebelumnya dalam sebuah hadits yang panjang Imam Ahmad meriwayatkan dari Al-Harits Al-Asy’ary bahwa Nabi SAW pernah besabda:

“Sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan Yahya bin Zakaria As dengan lima perkara yang harus dia amalkan. Dan memerintahkan Bani Israel agar mereka mengamalkannya, namun (Yahya bin Zakaria) hampir saja lamban mengamalkannya.

Maka Isa As berkata kepadanya: Sesungguhnya engkau telah diperintahkan dengan lima perkara agar engkau mengamalkannya dan memerintahkan Bani Israil mengamalkannya, apakah engkau sendiri menyampaikan atau aku yang menyampaikannya?

Kemudian Yahya berkata: Hai saudaraku, sesungguhnya aku takut jika engkau mendahuluiku, aku akan diazab atau aku ditenggelamkan ke dalam bumi. Setelah itu Yahya bin Zakaria mengumpulkan Bani Israel di Baitul Maqdis sehingga mereka memenuhi masjid, lalu ia duduk di tempat yang tinggi, kemudian memuji dan mengagungkan Allah SWT, dan selanjutnya ia berkata:

Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadaku lima perkara yang harus aku amalkan dan aku perintahkan kalian untuk mengamalkannya;

PERTAMA hendaklah kalian beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya …

KEDUA Allah juga memerintahkan hendaklah kalian mengerjakan shalat …

KETIGA Dia juga memerintahkan untuk berpuasa…

KEEMPAT Allah juga memerintahkan untuk bersedekah …

KELIMA aku juga diperintahkan untuk memperbanyak dzikir…

Sedangkan dalam hadits yang lain Rosul bersabda SAW telah menyatakan:

Aku memerintahkan kepada kalian lima perkara, sebagaimana Allah telah memberikan kepadaku yaitu: Jamaah, mendengarkan (patuh), taat (tunduk), hijrah dan jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya orang yang keluar dari jamaah sejengkal, berarti ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya kecuali ia kembali.

Dan barang siapa menyeru dengan seruan jahiliyah maka ia termasuk penghuni jahannam.

Para sahabat bertanya: meskipun ia menerjakan shalat dan puasa?

Beliau menjawab: Meskipun ia shalat dan puasa dan mengaku bahwa ia muslim. Karena itu serulah orang-orang Islam dengan nama mereka masing-masing sebagimana Allah menyebut orang-orang muslim yang mukmin sebagai hamba Allah. (HADITS INI HASAN)

Sebagaimana ditulis dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir hal.100 (Jilid 1 Terjemahan).

POLITIK KEUMATAN

Politik keumatan telah berlangsung lama sejak dahulu, bahkan semenjak NKRI ini lahir, oleh sebab itu tidaklah berlebihan jika Hidayat Nur Wahid (HNW) sebagai politisi PKS menyatakan bahwa negeri ini berdiri tidak terlepas dari peran para ulama umatnya, peran kiyai dengan para santrinya, para habaib dengan dzuriyahnya.

Politik keumatan yang dimaksud bukan politik yang memecah belah atau membenturkan antara pancasila dengan khilafah, antara agama dengan negara, antara ideologi bangsa yakni 4 pilar bernegara (Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika) dengan ideologi partai-partai Islam (Berasas Islam, Berbasis Massa atau Ormas Islam) antara politik dunia (pramatis) dan politik akhirat (idealis).

Majunya politik keumatan akan berdampak pada majunya bangsa dan negara ini, mundurnya politik keumatan akan berdampak pada mundurnya bangsa dan negara ini. Jika ada pihak yang ingin menghalang-halangi atau menghambat politik keumatan maka akan berhadapan langsung dengan jamaah dan ummah.

SELAMAT BERLIBUR SELAMAT MENGKAJI KEMBALI SEJARAH KHUSUSNYA HIKMAH DAN SEJARAH ISRA MI’RAJ 1440/2019 DI TAHUN POLITIK YANG PENUH INTRIK

Wallahu a’lam. [DM]

Be the first to comment on "Isra Mi’raj, Tahun Politik dan Politik Keummatan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: