fbpx

Budaya Kearifan Santri Menjawab Problematika Pemilu Transaksional

BEKASIMEDIA.COM – Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Barat, Abdullah Dahlan menyatakan budaya kearifan santri yang kuat menjadi modal penting dalam membangun penguatan nilai-nilai dalam pemilu. Hal itu penting untuk menjawab Problematika pemilu yang transaksional.
Selain itu, kata Abdullah, santri menjadi pilar penting, memberi nilai baru dalam kontestasi pemilu.

Hal tersebut dikatakan Abdullah dalam acara Sosialisasi Pengawasan Partisipatif bagi Santri se-Jawa Barat yang dilaksanakan di Hotel Merbabu, Rawalumbu, kota Bekasi, Senin (18/2/2019). Acara tersebut diikuti sekitar 100 santri dari 10 pesantren yang ada di kota Bekasi.

“Budaya kearifan santri yang kuat menjadi modal penting dalam membangun penguatan nilai dalam pemilu. Problem serius pemilu kita ini kan money politik,” jelasnya saat ditemui usai acara.

Pondok pesantren, kata Dahlan, punya basis yang kuat. Peran santri diharapkan mampu menebarkan nilai baik dalam konteks membangun nilai kontestasi yang lebih berkeadaban. Menjawab problem pemilu yang transaksional.

Dari sosialisasi ini, kata Dahlan, diharapkan juga para santri sadar akan hak politiknya. “Apalagi mereka banyak pemilih pemula juga. Sehingga penting juga memberikan penjelasan hal-hal baru soal pemilu,” imbuhnya.

Bawaslu sebagai pengawas pun berharap ada dukungan dari para santri dalam mengawal pemilu.

“Ketika ada pelanggaran, kecurangan dan lain-lain. Justru kita harapkan bukan hanya sadar hak politiknya tapi juga berperan aktif sebagai pengawasan partisipatif. Kalau ada pelanggaran, mereka berani laporkan,” tegasnya.

Selain itu, Abdullah menilai pondok pesantren dan santri ini memiliki fundamen nilai yang baik membangun aras pemilu yang lebih baik.

“Mereka bisa menjadi basis nilai. Di mana kalau pada aras ideal, ketika nilai agama kuat, aspek kuatnya muncul. Teruji. Kita tadi bahas problem pemilu,” tambahnya.

Dengan landasan agama yang kuat, Bawaslu Jabar mengimbau kepada para santri ini agar tidak mudah tersulut isu, termakan isu dan terprovokasi.

“Dengan prinsip nilai yang ada, mereka Tabayyun, tidak langsung menelan info yang beredar,” tegasnya.

Adapun sosialisasi ini, kata Dahlan, dilakukan secara masif di seluruh kota kabupaten di Jawa Barat. Karena Jawa Barat terkenal dengan basis santrinya yang kuat.

“Ini menjadi tugas penting kami di pengawasan pemilu. Merangkul kekuatan ini, sebagai suatu kesadaran politik yang kritis, instrumen pengawasan dan sebagai mitra Bawaslu.
Justru kita ingin modal kultural kita kuat di kalangan santri. Maka wajib bagi Bawaslu bersinergi. Karena ini modal dalam struktur sosial masyarakat. Ciri khas Jabar terkenal ciri khas santrinya,” tukasnya.

Ia berharap para santri bisa punya satu pemahaman isu-isu kepemiluan. Tepat menggunakan hak politiknya dan bisa bersinergi. (Dns)

Be the first to comment on "Budaya Kearifan Santri Menjawab Problematika Pemilu Transaksional"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*