fbpx

Vanessa Angel Bebas, Psikolog Forensik Minta KUHP Direvisi

VANESSA ANGEL

BEKASIMEDIA.COM – Vanessa Angel, artis sinetron yang diciduk polisi karena terlibat kasus prostitusi daring, pada Sabtu (5/1/2019) lalu, akhirnya menghirup udara bebas dan hanya dijadikan sebagai saksi. Kenapa pelaku prostitusi tidak dikenakan sanksi hukum dan justru dinilai sebagai korban?

Psikolog Forensik dan juga Komisioner Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Reza Indragiri Amriel angkat bicara.

Dalam pesan tertulis yang diterima bekasimedia.com, Selasa (8/1/2019) kemarin, Reza mengatakan hukum di Indonesia tidak memosisikan pelacur sebagai pelaku melainkan sebagai korban. “Ini berangkat dari pandangan bahwa pelacur adalah manusia tak berdaya yang dieksploitasi pihak lain.”

Padahal faktanya, kata Reza, saat ini orang yang menjadi pelacur adalah orang yang memilih berdasarkan bisnis untung rugi. “Si pelacur berkehendak dan memutuskan sendiri untuk menjadi pelacur. Dia adalah pelaku aktif dalam pelacuran.”

VOLUNTARY PROSTITUTION

Reza Indragiri menjelaskan hal ini kemudian dirumuskan dalam sebuah konferensi perempuan di Beijing Tiongkok beberapa tahun lalu. Ada yang disebut dengan Voluntary Prostitution dan ada Involuntary Prostitution.

“Mereka yang ditangkap dalam pemberitaan yang lagi ramai itu adalah contoh Voluntary Prostitution. Boleh jadi pilisi menyidiknya Karena voluntary semestinya dipidana,” tegasnya.

Sayangnya, menurut Reza, dua tipologi pelacuran tersebut belum diadopsi kedalam hukum positif di Indonesia.

“Itu sebabnya, sebagaimana pada kasus pelacuran-pelacuran terdahulu, saya skeptic mereka bakal dipidana sebagai pelaku. Alhasil, penangkapan dan pemberitaan seolah menjadi promosi gratis saja. Proses revisi KUHP di DPR patut memuat poin tentang pemidanaan bagi pelacur tipe pertama (voluntary prostitute).”

 

SANKSI SOSIAL

Pada sisi lain, kata Reza, sanksi sosial bisa saja ditegakkan. “Jangan kasih mereka order sinetron (panggung). Sebut pelacur (jangan pakai sebutan eufemistik). Masyarakat, utamanya anak-anak jangan sampai mendapat pelajaran ngawur bahwa pelacur sekaligus artis yang diamankan polisi justru semakin laris. Komisi Penyiaran Indonesia perlu buat ketentuan untuk memastikan para pelacur daring tidak muncul di layar kaca. Juga, untuk memastikan bahwa mereka tidak menjadi agen HIV-AIDS maupun penyakit menular seksual lainnya. Mereka dikenakan wajib lapor secara rutin,” tegasnya.

“Bolehlah ditanya ke mereka, apa sesungguhnya pekerjaan utama mereka? Pelacur yang menyambi sebagai artis ataukah artis yang menyambi sebagai pelacur?” pungkas Reza. (eas)

Be the first to comment on "Vanessa Angel Bebas, Psikolog Forensik Minta KUHP Direvisi"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*