BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Opini · 2 Jan 2019 01:27 WIB ·

Lebih Hancur dari Muslim Uighur


 Lebih Hancur dari Muslim Uighur Perbesar

“Saya pikir saya lebih baik mati dari pada melewati segala siksaan itu, dan saya memohon kepada mereka untuk membunuh saya,” (Mihirigul Tursun)

Muslim Uighur Babak Belur

Muslim Uighur babak belur hatinya. Kesaksian Mihirigul Tursun, muslimah Uighur yang pernah merasakan siksaan kamp detensi Pemerintah China sungguh memilukan. Tursun harus merelakan seorang anaknya meninggal dan dua lainnya terganggu kesehatannya. Begitulah yang ia dapati saat keluar dari kamp yang berkedok pendidikan kembali untuk mencegah separatisme oleh Pemerintah China.

Muslim Uighur babak belur raganya. Tawanan Uighur di kamp re-edukasi tak mendapat makanan yang cukup. Para tahanan dibui tanpa dakwaan dan dirantai bak binatang. Tawanan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis bila masih ingin mempertahankan nyawa. Luka dan darah menjadi hal yang biasa.

Muslim Uighur babak belur jiwanya. Tak boleh ada yang tahu kabar mereka di kamp rasa neraka. Tak cuma wartawan, utusan organisasi internasional tak mudah menembus kamp ala penjara. PBB mendesak China untuk memberi akses masuk ke dalamnya. Komisioner Kebijakan HAM Jerman, Barbel Kofler ditolak saat hendak memeriksa. Apakah laporan aktivis kemanusiaan benar adanya? Kalau memang tak ada alat penyiksa mengapa sulit bertemu penghuni di sana. Mirip kamp rahasia saja.

Muslim Uighur babak belur batinnya. Berharap dalam ikatan agama mereka punya saudara. Indonesia terutama, mengingat negeri mayoritas muslim penduduknya. Setali tiga uang dengan Pemerintah China yang tak bergeming dengan kritik para aktivis, Indonesia sendiri dinilai bersikap pasif. Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua organisasi pegiat hak asasi manusia Setara Institute menilai pemerintah Indonesia sangat berhati-hati apalagi menghadapi kekuatan besar China, pemain penting di ekonomi dunia.

Yang Lebih Hancur dari Muslim Uighur

Yang lebih hancur dari muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan tali ikatan Allah bernama ukhuwah Islamiyah. Kita yang memalingkan muka dari pujian Nabi akan kesatuan umatnya yang kokoh bak satu bangunan, bahkan utuh bak satu tubuh. Mulut kita tak lagi menjerit saat kuku-kuku tangan Uighur tercabut. Atas nama urusan dalam negeri China kita tutup mata pada luka Uighur yang menganga dengan organ yang lenyap entah dimana.

Yang lebih hancur dari Muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang telah memakai standar ganda menilai sebuah berita. Saat media internasional memasang headline Paris berduka, kita latah berbelasungkawa. Sayangnya, ketika media yang sama memberitakan Uighur yang menderita, kita tuduh ini adalah propaganda. Pembelaan terhadap Barat begitu gegap gempita. Namun pembelaan terhadap muslim saudara dituding hoax belaka.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang telah kebablasan mendefinisikan toleransi beragama. Saat nyaring azan dan takbir hari raya menuai sengketa, kita mendengungkan dalih pluratlitas manusia agar muslim Indonesia mengalah saja. Sayagnya, saat muslim Uighur yang jadi korbannya, kita mendiamkan larangan puasa atas nama perbedaan negara.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan syariat sebagai pegangan. Kita yang tak lagi peka mana kemaksiatan dan mana kebaikan . Saat muslim Uighur gigih bertahan dalam mempertahankan aqidah Islam, kita justru gagah membanggakan budaya-budaya syirik yang terkubur di masa silam.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan keberanian melawan kezaliman. Ajaran jihad tak lagi mengobarkan iman, tak lagi menggelorakan keyakinan akan kemenangan. Lalu kemanakah pasukan perdamaian selama ini dikirimkan?

Kita tak akan bisa berbuat apa-apa. Kepada Uighur yang babak belur, Palestina yang merana, Suriah yang berdarah, atau Yaman yang kelaparan. Sampai berdiri kokoh iman kita, berkumpul utuh ukhuwah di dada, terterap syariah yang sempurna, dan kerinduan jihad yang membahana. Kita mesti mengerahkan segala daya agar kondisi itu nyata.

Oleh:

Triana Arinda Harlis,

Pemerhati kondisi ummat Islam

Artikel ini telah dibaca 34 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Rekonstruksi Penanganan Fakir Miskin di Indonesia: Mengganti “Bantuan” dengan “Kemandirian”

18 Maret 2026 - 13:12 WIB

Kosmetik Ilegal di Etalase Digital: Cantik Sesaat, Rusak Selamanya

10 Maret 2026 - 17:56 WIB

Ekonomi Kita Tumbuh, Tapi Siapa yang Benar-benar Merasakan?

29 Januari 2026 - 08:37 WIB

Ketika Rentenir Lebih Dekat daripada Negara

27 Januari 2026 - 10:43 WIB

Surat Terbuka untuk Presiden Republik Indonesia, Saatnya Tobat Ekologis

1 Januari 2026 - 15:52 WIB

Mengapa Anak Sulit Mengungkapkan Pikiran? Perspektif Neuropsikolinguistik

23 Desember 2025 - 14:36 WIB

Trending di Opini