fbpx

Lebih Hancur dari Muslim Uighur

“Saya pikir saya lebih baik mati dari pada melewati segala siksaan itu, dan saya memohon kepada mereka untuk membunuh saya,” (Mihirigul Tursun)

Muslim Uighur Babak Belur

Muslim Uighur babak belur hatinya. Kesaksian Mihirigul Tursun, muslimah Uighur yang pernah merasakan siksaan kamp detensi Pemerintah China sungguh memilukan. Tursun harus merelakan seorang anaknya meninggal dan dua lainnya terganggu kesehatannya. Begitulah yang ia dapati saat keluar dari kamp yang berkedok pendidikan kembali untuk mencegah separatisme oleh Pemerintah China.

Muslim Uighur babak belur raganya. Tawanan Uighur di kamp re-edukasi tak mendapat makanan yang cukup. Para tahanan dibui tanpa dakwaan dan dirantai bak binatang. Tawanan dipaksa meneriakkan slogan Partai Komunis bila masih ingin mempertahankan nyawa. Luka dan darah menjadi hal yang biasa.

Muslim Uighur babak belur jiwanya. Tak boleh ada yang tahu kabar mereka di kamp rasa neraka. Tak cuma wartawan, utusan organisasi internasional tak mudah menembus kamp ala penjara. PBB mendesak China untuk memberi akses masuk ke dalamnya. Komisioner Kebijakan HAM Jerman, Barbel Kofler ditolak saat hendak memeriksa. Apakah laporan aktivis kemanusiaan benar adanya? Kalau memang tak ada alat penyiksa mengapa sulit bertemu penghuni di sana. Mirip kamp rahasia saja.

Muslim Uighur babak belur batinnya. Berharap dalam ikatan agama mereka punya saudara. Indonesia terutama, mengingat negeri mayoritas muslim penduduknya. Setali tiga uang dengan Pemerintah China yang tak bergeming dengan kritik para aktivis, Indonesia sendiri dinilai bersikap pasif. Bonar Tigor Naipospos, wakil ketua organisasi pegiat hak asasi manusia Setara Institute menilai pemerintah Indonesia sangat berhati-hati apalagi menghadapi kekuatan besar China, pemain penting di ekonomi dunia.

Yang Lebih Hancur dari Muslim Uighur

Yang lebih hancur dari muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan tali ikatan Allah bernama ukhuwah Islamiyah. Kita yang memalingkan muka dari pujian Nabi akan kesatuan umatnya yang kokoh bak satu bangunan, bahkan utuh bak satu tubuh. Mulut kita tak lagi menjerit saat kuku-kuku tangan Uighur tercabut. Atas nama urusan dalam negeri China kita tutup mata pada luka Uighur yang menganga dengan organ yang lenyap entah dimana.

Yang lebih hancur dari Muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang telah memakai standar ganda menilai sebuah berita. Saat media internasional memasang headline Paris berduka, kita latah berbelasungkawa. Sayangnya, ketika media yang sama memberitakan Uighur yang menderita, kita tuduh ini adalah propaganda. Pembelaan terhadap Barat begitu gegap gempita. Namun pembelaan terhadap muslim saudara dituding hoax belaka.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur, sebenarnya adalah kita. Kita yang telah kebablasan mendefinisikan toleransi beragama. Saat nyaring azan dan takbir hari raya menuai sengketa, kita mendengungkan dalih pluratlitas manusia agar muslim Indonesia mengalah saja. Sayagnya, saat muslim Uighur yang jadi korbannya, kita mendiamkan larangan puasa atas nama perbedaan negara.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan syariat sebagai pegangan. Kita yang tak lagi peka mana kemaksiatan dan mana kebaikan . Saat muslim Uighur gigih bertahan dalam mempertahankan aqidah Islam, kita justru gagah membanggakan budaya-budaya syirik yang terkubur di masa silam.

Yang lebih hancur dari muslim Uighur sebenarnya adalah kita. Kita yang kehilangan keberanian melawan kezaliman. Ajaran jihad tak lagi mengobarkan iman, tak lagi menggelorakan keyakinan akan kemenangan. Lalu kemanakah pasukan perdamaian selama ini dikirimkan?

Kita tak akan bisa berbuat apa-apa. Kepada Uighur yang babak belur, Palestina yang merana, Suriah yang berdarah, atau Yaman yang kelaparan. Sampai berdiri kokoh iman kita, berkumpul utuh ukhuwah di dada, terterap syariah yang sempurna, dan kerinduan jihad yang membahana. Kita mesti mengerahkan segala daya agar kondisi itu nyata.

Oleh:

Triana Arinda Harlis,

Pemerhati kondisi ummat Islam

Be the first to comment on "Lebih Hancur dari Muslim Uighur"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: