fbpx

Sapto Waluyo: Gak Sehat Kalau Politik Dipenuhi Kata-kata Kekerasan

BEKASIMEDIA.COM – Jurnalis senior Sapto Waluyo mengkritik perilaku politisi yang acap kali mengeluarkan kata-kata yang tak pantas di media belakangan ini. Menurutnya hal ini juga yang menjadikan internet kurang sehat.

“Ngeri kalau politik kita dipenuhi dengan kata-kata kekerasan. Potong leher jika calon saya kalah di Madura dan sebagainya,” ungkap Sapto saat diskusi bertema, “Internet Sehat Generasi Milenial” berlokasi di Pondok Dahar Mbah Beres, Jakasampurna, Bekasi Barat, Sabtu (15/12/2018).

Pernyataan Sapto yang kenyang pengalaman sebagai jurnalis di media nasional pada tahun 90an ini mengoreksi perkataan salah satu pendukung Jokowi, La Nyala Matalitti.

Sapto yang dulu kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan pernah beraktivitas di Pulau Madura sangat mengerti betul bagaimana budaya masyarakat pulau penghasil garam tersebut.

“Itu pernyataan berbahaya dan gak pantas menjadi konsumsi publik. Saya mengerti betul budaya masyarakat Madura. Janganlah berpolitik seperti itu. Bagaimana kalau misalnya kejadian Prabowo-Sandi yang menang di Madura?” ungkap Sapto.

Selanjutnya, berkaitan dengan alur informasi Sapto Waluyo yang kini menjadi caleg PKS untuk DPR RI dari daerah pemilihan Kota Bekasi-Kota Depok ini mencermati kondisi dunia pers saat ini.

“Fakta adalah salah satu elemen penting dalam jurnalistik. Bagi seorang jurnalis itu sakral. Itu gak boleh direkayasa. Pada akhirnya fakta itu akan menghukum jurnalis jika ia merekayasa,” katanya.

Sapto kemudian menceritakan pengalamannya saat menjadi jurnalis Tempo di tahun 90an. Saat itu ketua Komnas HAM Baharuddin Loppa ingin membebaskan tokoh-tokoh yang menjadi tahanan politik di era Soeharto.

Tokoh yang ingin dibebaskan diantaranya Xanana Gusmao dan Sri Bintang Pamungkas. Ia lantas mewawancarai Baharuddin Loppa. Namun reportasenya itu sebelum turun cetak harus terlebih dahulu dikonfirmasi ke pihak terkait.

Ia kemudian menghubungi Departemen Kehakiman, Dirjen Lapas dan pihak lainnya. Hal ini dilakukan hingga begadang tiga hari tiga malam.

Majalah Tempo harus terlambat cetak beberapa jam karena hal ini. Hingga naik cetakpun masih ada pihak-pihak yang belum mengkonfirmasi tetapi jurnalis sudah berusaha keras untuk itu.

“Kalau jurnalis tidak memegang aturan ini, mereka bukan jurnalis. Bisa jadi mereka pekerja media yang tunduk kepada pemilik atau penguasa,” katanya.

Dihadapan kaum milenial yang menjadi peserta diskusi, Sapto mengajak mereka untuk menghormati sekaligus mengkritisi peran media dan jurnalis.

Sapto mencontohkan peran Al Jazeera di timur tengah yang saat ini menjadi kunci penting angin perubahan.

Untuk Indonesia yang lebih baik di masa depan, Sapto mengajak tiga elemen untuk kembali kepada jalurnya.

“Jurnalis, Mahasiswa dan kaum muda harus kembali kepada fungsinya sebagai pengawas,” pungkasnya.

Empat pembicara hadir dalam diskusi ini antara lain Pegiat Internet Sehat Bekasi, Saiful Fathan Azizi, Pengamat Pendidikan Kota Bekasi, Dr. Dirgantara Wicaksono, Pakar jurnalistik Nasional, Sapto Waluyo serta pemerhati perempuan dan pendidikan keluarga, Rizki Ika Sahana. (eas)

Be the first to comment on "Sapto Waluyo: Gak Sehat Kalau Politik Dipenuhi Kata-kata Kekerasan"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*