fbpx

Workshop Pendidikan Unisma 45 Menyiapkan Peserta Didik dengan Karakter dan Kompetensi Siswa

BEKASIMEDIA.COM – Ketua unit penjamin mutu pascasarjana Unisma 45 Bekasi Dr. Ibnu Muthi, M.Pd menyatakan anak-anak (peserta didik) masa kini harus dipersiapkan untuk kecakapan di masa depan. Kecakapan Abad 21.

Hal itu ia katakan saat menjadi keynote speaker pada acara workshop bertemakan “Kurikulum Tiga Belas Revisi Dalam Penerapan Scientific Approach Tingkat SD/MI” yang berlangsung di gedung pascasarjana Unisma “45” Bekasi, Rawalumbu, kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (1/12/2018).

Workshop Kurikulum Tiga Belas Revisi Dalam Penerapan Scientific Approach Tingkat SD/MI
Gedung Pascasarjana Unisma 45 Bekasi ini menghadirkan juga
Dr. Ibnu Muthi, M.Pd, Dr. Diyah Yuli Sugiarti, SE, M.Pd, Dr. Dirgantara Wicaksono, CH, Cht, S.Pd, MM.

“Jadi inti hari ini kita seminar tentang kurikulum 2013. semangatnya adalah menyiapkan murid kita, anak-anak kita menghadapi masanya nanti. diperkirakan 20-30 tahun lagi saat usia produktif, apa kecakapan abad 21 yang mereka butuhkan,” ujarnya.

Yang pertama yang harus dipersiapkan, kata Dr. Ibnu, adalah
karakter. Di mana karakter ini juga sudah harus dimiliki guru.

“Karakter ini harus dipunyai gurunya. karena tidak mungkin ajarkan karakter jika guru tidak punya karakter yang dimaui untuk ditransfer kepada anak-anak,” tambahnya.

Kemudian, anak disuguhkan kisah-kisah menarik yang bisa dijadikan contoh, dengan kata lain, keteladanan.

“Karena kita mau mentransfer ilmu bukan pengetehuan (knowledge) saja tapi transfer of characters. Percuma nilai tinggi, menghasilkan orang pinter ternyata karakternya maling, koruptor dan lain-lain,” jelasnya.

Kemudian kecakapan yang lain adalah tentang kompetensi. Di mana murid bisa berpikir kreatif, kritis, kemudian bisa kolaboratif dan komunikatif.

“Itu soft skill yang harus dipunyai murid untuk menghadapi bonus demografi,” ungkapnya.

Kemudian yang ketiga adalah literasi. Literasi ini merupakan aplikasi ilmu pengetahuan untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“kita tidak lagi bicara calistung. kita bicara literasi membaca. lebih dalam dari menghitung,
literasi numerik, berhitung, digital. itulah yang kita persiapkan kepada murid-murid kita menghadapi Indonesia Emas 2045,” imbuhnya.

Perbedaan Kurikulum 2013 dengan kurikulum yang dipakai sebelumnya di antaranya; pertama, pendididikan karakter diutamakan lebih dulu sebelum transfer pengetahuan.

Kedua, dulu sumber belajar hanya guru. sekarang banyak sumber belajar.

“Kalau kita cari kepintaran banyak di Google. google bahkan lebih pintar (lebih banyak tahu) daripada guru,” ucapnya.

Kendati demikian, kata Ibnu arah keberhasilan pendidikan lebih ke karakter untuk menghadapi kecakapan Abad 21.
kembali bahwa karakter menjadi hal yang fundamental dalam pendidikan, tanpa itu hanya akan menghasilkan orang pintar tapi jahat,” ujarnya.

Mendidik Generasi Millenial

Dr. Ibnu menyatakan generasi masa kini atau biasa disebut Millenials harus diarahkan karena mereka sangat dekat dengan teknologi informasi.

“Millenial hari ini harus dikelola dengan baik. Sebab kalau tidak dikelola akan menghasilkan manusia yang pintar hanya secara kognitif. Kalau hanya aktif dan asyik di dunia digital, gadget, tanpa ada yang membimbing karakternya maka akan terjadi hal yang tidak kita harapkan,” tukasnya.

Dr. Ibnu menyadari memang pendidik tidak mungkin mengontrol aktivitas generasi millenial selama 24 jam. Namun dirinya optimis perubahan itu bisa disiapkan..

“Karena kita tidak bisa mengontrol millenial sekarang namun perubahan itu kita siapkan maka kita siapkan murid menghadapi masa-masanya nanti. Tidak untuk sekarang, tapi 20-30 tahun mendatang,” pungkasnya.

Dr. Ibnu juga menegaskan ada yang lebih fundamental yakni
transformasi nilai-nilai agama. Karena tanpa itu anak-anak akan tumbuh tanpa adab. (dns)

Be the first to comment on "Workshop Pendidikan Unisma 45 Menyiapkan Peserta Didik dengan Karakter dan Kompetensi Siswa"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: