Peran Santri Dari Masa Ke Masa

Perjalanan panjang bangsa ini menapaki jejak sejarah mulai dari masa penjajahan, masa pra kemerdekaan dan masa kemedekaan telah meninggalkan jejak salah satu anak bangsa yang bernama “santri”. Kosa kata “santri” terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi Keempat Departemen Pendidikan Nasional hal.1224 kolom sebelah kanan baris ke-34. Santri adalah pertama, orang yang mendalami agama Islam, kedua, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh; orang yang shaleh. Santri wanita disebut santriwati, santri laki-laki disebut santriwan. Proses orang sedang belajar untuk menjadi santri dinamakan “menyantri” nama tempatnya disebut “pesantren”.

*Lembaga Pendidikan Tertua*

Dibandingkan dengan lembaga pendidikan yang bernama “kampus” dan “sekolah” atau “madrasah” dalam bahasa Arab yang mulai ada dan berkembang di masa kemerdekaan, lembaga pendidikan yang bernama “pesantren” telah ada dan tumbuh berkembang lebih dahulu. Maka pesantren termasuk kategori lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Di dalam pondok pesantrenlah para santri dididik, diajar, dibina, dilatih dan dikembangkan. Melihat kenyataan demikian sejatinya santri menjadi pelopor, penggerak dan pemberdaya serta berkontribusi dalam pembangunan negeri ini bersama komponen bangsa yang lainnya yaitu kalangan pelajar (sekolah) dan mahasiswa (kampus).

*Dikotomi Santri dan Non Santri, Masih Adakah?*

Sejak pemerintah menetapkan hari Santri Nasional yaitu setiap tanggal 22 Oktober sejak tahun 2014 lalu, awalnya ada yang mengkritisi kebijakan ini, alasannya takut terjadi dikotomi santri dan non santri. Namun dalam kenyataannya dikotomi itu tetap ada, yang seharusnya sudah tidak ada. Sebagai contoh saat pencapresan baik kubu Prabowo maupun kubu Jokowi masing-masing pihak tidak mau ketinggalan membidik santri.

Terpilihnya Kyai Makruf Amin sebagai Cawapres Jokowi dan terpilihnya Sandiaga Salahudin Uno sebagai Cawapres Prabowo menunjukan bahwa santri masih menjadi bagian penting dari komoditas politik di negeri ini, terutama bagi kubu Jokowi. Sedangkan dari pihak Prabowo berharap agar dikotomi santri dan non santri seharusnya sudah tidak ada lagi, alasannya pelajaran agama telah merata diberikan sesuai UU Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) No.20 tahun 2004, pendidikan di Pesanten Kampus dan Sekolah atau Madrasah telah diakui oleh negara ini, Meskipun dari kubu pak Prabowo melaui PKS sempat menyatakan bahwa Cawapres Prabowo adalah santri, artinya tidak ada yang salah dengan pernyataan ini bagi mereka yang menganggap bahwa sudah tidak ada dikotomi antara santri dan non santri. Sementara mereka yang memprotes pernyataan salah satu tokoh PKS bahwa Sandiaga S Uno pada hakikatnya ia juga santri berarti mereka masih mendikotomikan santri dengan non santri.

Terlepas dari diskursus di atas kita sepakat bahwa santri, pelajar dan mahasiswa adalah bagian dari aset bangsa bukan hanya milik satu ormas saja. Karena dalam kenyataanya hampir setiap ormas memiliki lembaga yang bernama “pesantren”. Muhammadiyah memiliki pesantren, NU punya banyak pesantren, begitu juga Persis, DDII, PUI, Al-Irsyad, Mathlaul Anwar, Al-Washiliyah, Wahdah Islamiyah, Ikadi, dll.

Selamat Hari Santri Nasional yang pada hari ini (22 Oktober) kita peringati bersama, semoga santri bukan hanya menjadi komoditas politik semata tetapi menjadi pelaku dalam berpolitik yang santun, bermartabat dan taat azas, taat nilai dan taat godaan. Tema kemandirian yang diangkat pada tahun ini sangat tepat jika dikaitkan dengan situasi politik kita agar bangsa ini mandiri, berdikari, dan jauh dari intervensi kekuatang baik asing, aseng atau asong. Semoga santri ke hari ini dan ke depan menjadi santri yang mandiri dalam tradisi keilmuannya, mandiri dalam ekonomi keummatannya, dan mandiri dalam politik amar makruf dan nahi munkarnya, Wallahu a’lam.

Jatimulya Melati Ujung,
Bekasi, 22 Oktober 2018

Dimyat, M.Pd.I

Ketua Bidang Kepemudaan DPD PKS Kota Bekasi

Be the first to comment on "Peran Santri Dari Masa Ke Masa"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*