BEKASIMEDIA.COM

Menu

Mode Gelap
Heri Sholihin Menang, Kota Bekasi Punya Wali Kota Baru Soal Kisruh Data PKH Ini Penjelasan, Anggota DPRD Enie Widhiastuti Ketua Fraksi PKS Kota Bekasi Terkait TKK Minta Pemkot Lakukan Langkah Ini Bawaslu Kota Bekasi Ingatkan di Masa Sosialisasi Para Caleg dan Partai Pahami Aturan yang Berlaku Islamic Book Fair 2023: Memperkenalkan Buku sebagai Pilar Peradaban

Berita Terbaru · 10 Agu 2018 04:20 WIB ·

Ekspektasi & Obsesi dalam Pernikahan


 Ilustrasi Pasutri (Today.kz) Perbesar

Ilustrasi Pasutri (Today.kz)

Pernikahan merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh pria dan wanita lajang di mana pun, betul? Pernikahan juga merupakan momen yang membahagiakan bagi setiap pria dan wanita yang ingin segera mengikat janji cinta sehidup semati, bahkan sesurga, katanya.

Pernikahan sendiri bagaikan sebuah kapal laut baru yang besar, yang berlayar di tengah samudera kehidupan kehidupan dan cinta. Suami sebagai nahkodanya dan istri sebagai asisten nahkodanya.

Luar biasa pernikahan itu karena ia juga menjadi sebuah momen yang berpahala, untuk membentuk sebuah keluarga. Keluarga yang harmonis, keluarga yang dinamis dan keluarga yang tidak hanya mampu mengisi kapal laut yang besar juga bisa merawat, sehingga tujuannya bisa tercapai.

Pernikahan itu selayaknya sebuah cara untuk membuat pribadi-pribadi di dalamnya menjadi lebih baik. Dimulai dari ayah dan bunda sebagai suami dan istri, selalu dapat mengevaluasi diri (obsesi), tidak selalu menuntut pasangan menjadi lebih baik (ekspektasi). 

Apabila menikah dengan berharap kepada pasangan, dengan kata lain “jika kamu, maka saya”, selalu menuntut pasangan ini dan itu, yang terjadi biasanya kekecewaan yang ujung-ujungnya perselisihan dan bisa mengakibatkan perceraian.

Menikah itu dengan niat mampu memperbaiki diri sendiri baik sebagai suami atau istri. Bisa dibayangkan dan dirasakan apabila hidup dengan pasangan yang bisa mengevaluasi dirinya sendiri, akan membuat pernikahan menjadi lebih manfaat dan berkah. Suami memperbaiki dirinya sendiri, begitu juga istri, saling bertukar pikiran, bertukar perasaan, bukan bertukar masalah, alhasil menjadi suami dan istri yang harmonis, betul?

Mulai sekarang dan seterusnya jadilah pasangan suami dan istri yang memiliki obsesi untuk selalu memperbaiki diri, tidak menuntut satu sama lainnya. Kelak menjadi pembelajaran untuk anak-anak apabila mereka menjadi suami atau istri.

Penulis: Kang Iman – Konsultan & Terapi Keluarga, Klinik Aromata Smile House Bandung, Info layanan hub. 0822 4066 6891 / 0822 1744 1162

Artikel ini telah dibaca 188 kali

badge-check

Jurnalis

Baca Lainnya

Puluhan Organisasi Wartawan Solid, HPN Bekasi Raya 2026 Siap Digelar di GCC

18 April 2026 - 18:37 WIB

Protes Status Tersangka Tukang Ojek Akibat Jalan Berlubang, F-Speed Pandeglang Tuntut Keadilan

24 Februari 2026 - 16:21 WIB

Kelola 77 Persen Sampah, Banyumas Siap Jadi Percontohan Nasional

4 Februari 2026 - 07:29 WIB

947 Peserta Ikuti Seleksi PPPK Tahap II Kota Bekasi di BKN Jakarta

6 Mei 2025 - 08:42 WIB

Pemkot Bekasi Bekukan Sementara Worldcoin dan World ID Buntut Pemindaian Retina

5 Mei 2025 - 10:12 WIB

Wali Kota Bekasi Tegaskan Aparatur bukan hanya Administrator tapi juga Eksekutor

21 April 2025 - 12:06 WIB

Trending di Berita Terbaru