Jelang Ramadhan, Nur Supriyanto ‘Nyekar’ ke Makam Mertua

BEKASIMEDIA.COM – Menjelang Ramadhan, Calon Wali kota Bekasi, Nur Supriyanto nyekar, ziarah bersama Istrinya Ida Rustini di Tempat Pemakaman Umum Padurenan, Mustika Jaya, Bekasi.

Sehari sebelum Ramadhan Pria asal Tegal tersebut selalu melakukan nyekar-an. Hanya saja selama dua tahun terakhir ini ia melakukan nyekaran ke peristirahatan terakhir almarhum mertuanya.

“Iya, sebelum ramadhan biasanya, saya sekeluarga ziarah ke orangtua. Namun, selama dua tahun terakhir di sini” katanya, Rabu (16/5/2018).

Nur Supriyanto beralasan selalu melakukan ziarah dan ini ia ajarkan ke anak-anaknya sejak mereka kecil.

“Hari Minggu kemarin saja, anak-anak saya sudah ziarah ke makam mertua. Namun, kami enggak bisa ikut. Baru hari ini bisa,” ujar pria asal Tegal ini.

Diketahui mertua calon Wali kota Bekasi Nur Supriyanto meninggal saat menempati rumahnya yang baru di Perumahan Taman Nirwana. Ibu dari istrinya, H Kartini meninggal saat bulan Ramadhan di tahun 2016. Setahun setelah itu dibulan Ramadhan juga menyusul suaminya, Muhammad Idrus.

Bagi pasangan suami istri, Nur Supriyanto. Mertua mereka sangat mereka hormati. Bukan itu saja ternyata punya rahasia tersendiri yang baru diketahui saat mereka meninggal.

“Saat bapak mertua meninggal banyak orang berdatangan ke rumah mencari bapak. Ternyata mereka adalah orang-orang yang dibantu bapak tanpa sepengetahuan keluarga,” katanya.

Mereka beralasan, kata Nur Supriyanto, selalu diberikan bantuan oleh H. Muhammad Idrus. Namun, tiba-tiba bantuan tersebut berhenti.

“Bertanyalah mereka dan menceritakan kebaikan-kebaikan bapak,” katanya.

Bagi Nur Supriyanto, mertuanya mempunyai peran penting dalam kehidupan dan keluarganya.

“Anak-anak kami sangat dekat dengan kakeknya. Khususnya Afif itu sangat dekat dengannya,” tambahnya.

Sedangkan ayahnya sendiri, Nur Supriyanto menyataka kedekatannya saat beliau muda.

“Ayah meninggal sebelum saya menikah. Jadi istri dan anak-anak tidak mengetahui sosoknya dan karakternya seperti apa,” katanya.

Namun, ia menceritakan bahwa ayahnya itu adalah seorang yang agamis dan dekat dengan keluarga.

“Sedari kecil, Ayah saya selalu mengajak ke Masjid dan mengaji,” curhatnya.

Itulah mengapa karakter Nur Supriyanto yang agamis dan dekat dengan keluarga. Karena dibentuk oleh orang-orang terdekatnya seperti mertua, dan ayahnya. Mereka memang sudah meninggal tetapi menimbulkan kesan mendalam bagi Nur Supriyanto. (i)

Be the first to comment on "Jelang Ramadhan, Nur Supriyanto ‘Nyekar’ ke Makam Mertua"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*