fbpx

Menjadi Suami & Istri karena Ilmu bukan karena Menikah (Bagian 2)

Sudah dibahas di bagian pertama tentang apa yang perlu dipersiapkan untuk menikah, yaitu mental. Jika secara rohani siap, tetap ada hal-hal lain yang harus dipersiapakan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Oleh karena itu hal ini harus menjadi bahan perhatian sebaik-baiknya untuk para laki-laki atau perempuan yang berencana menikah kelak.

Menjadi suami dan istri itu bukan karena menikah. Menjadi orangtua itu bukan karena mempunyai anak. Kedua hal tersebut yang menjadi hal-hal yang perlu dipelajari, dipahami dan dipraktikkan.

Pengalaman saya sebagai konsultan pasutri selama ini, beberapa klien yang datang memiliki kesulitan berkomunikasi dengan pasangannya. Semakin lama menikah semakin renggang intensitas komunikasi di antara keduanya. Bukannya semakin dekat, malah menjauh. Seolah-olah sudah paham apa yang ada di dalam pikiran pasangannya (mind reader). Ditambah zaman sosmed sekarang menjadi salah satu alasa komunikasi antar pasutri semakin renggang.

Adapun tips komunikasi pasutri yang baik adalah sebagai berikut :

1. Jadikan pasangan sebagai teman bicara bukan lawan bicara. Sehingga yang terjadi adalah komunikasi ke arah diskusi bukan debat kusir.

2. Komunikasi adalah keahlian mendengar bukan berbicara. Dengan banyak mendengar menandakan bahwa kita berempati dengan pasangan, dan pada saat kita berbicara, pasangan akan mendengar apa yang kita bicarakan.

3. Komunikasi persuasif, pelajari itu. Komunikasi yang menggunakan cara pasangan kita berkomunikasi, berkomunikasi dengan karakter pasangan.

Komunikasi dengan pasutri akan menentukan sekali cara berkomunikasi dengan buah hati kita, yaitu anak-anak. Komunikasi dengan anak, ini merupakan pengetahuan yang penting untuk para orangtua, ini yang sering disebut-sebut sebagai Parenting.

Parenting adalah pola asuh orangtua terhadap anak. Pola Asuh penting sekali menggunakan komunikasi. Permasalahan anak-anak biasanya muncul dari cara komunikasi orangtuanya.

Berbicara atau berkomunikasi dengan anak, gunakan perasaanya, bukannya memaksakan cara pikir orang tua. INGAT anak-anak belum pernah jadi orangtua, tapi orang tua pernah jadi anak. So, jadilah orangtua yang bijaksana, karena anak bukanlah obyek, tapi subyek. Komunikasi yang baik bisa membuat karakter anak menjadi lebih baik di masa depan. Jadilah orangtua idola buat anak-anak kita.

(bersambung)

Penulis: Kang Iman – Konsultan & Terapi Keluarga, Klinik Aromata Smile House Bandung, Info layanan hub. 0822 4066 6891 / 0822 1744 1162

Be the first to comment on "Menjadi Suami & Istri karena Ilmu bukan karena Menikah (Bagian 2)"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: