fbpx

Suka Duka Relawan Koppaja Bekasi Asuh Anak Jalanan

Komunitas ini didirikan sebagai bentuk keprihatinan kita terhadap dunia pendidikan yang tidak dapat dirasakan bagi mereka yang hidup di jalanan.

Tak banyak yang peduli dengan nasib anak-anak jalanan. Bahkan masih banyak orang yang enggan untuk menyapa dan berbincang dengan mereka. Jalanan memang bukanlah tujuan, tapi tuntutan hidup memaksa mereka bergelut dengan kerasnya kehidupan.

Di tengah hingar bingar kota Bekasi, masih ada sekelompok orang atau komunitas yang peduli dengan nasib anak-anak jalanan, salah satunya Komunitas Peduli Pendidikan Anak Jalanan (Koppaja). Komunitas ini dibentuk pada tahun 2012 atas dasar keprihatinan terhadap nasib pendidikan anak-anak jalanan. Komunitas yang saat ini diketuai oleh Krisna memiliki sekretariat di Perumnas 1 Jl. Belimbing 3 No. 21A RT 08 RW 06 Kel. Kranji Kec. Kota Bekasi.

Koppaja merupakan komunitas yang concern dengan nasib pendidikan anak-anak jalanan. Komunitas ini menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) setiap hari sabtu dan minggu. Pesertanya adalah anak-anak jalanan sekitar daerah Kranji dan area Bekasi Cyber Park (BCP).

“Kalau hari sabtu kegiatan KBM kami adakan di sekretariat, yang diikuti sekitar 15 anak-anak jalanan. Sedangkan hari minggu KBM kami adakan di ruko samping BCP,” ujar Ketua Koppaja Krisna kepada Sabekasi.com, Sabtu (2/1).
Koppaja memiliki 19 pengajar tetap dan 50 relawan. Adapun materi yang diberikan pada kegiatan belajar mengajar adalah mengedepankan bimbingan akhlak baru kemudian mengajarkan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah pada umumnya.

Mengubah Stigma Negatif

Jorok, nakal, susah diatur, adalah beberapa stereotip yang melekat pada diri anak-anak jalanan. Pandangan negatif tersebut tak berlaku bagi komunitas Koppaja. Menurut Krisna, mereka jangan hanya dipandang sebagai anak-anak jalanan, tapi juga anak-anak yang perlu mendapatkan perhatian dan bimbingan.

Banyak anak-anak jalanan yang memiliki cita-cita dan ingin sukses. Namun keterbatasan ekonomi orang tua membuat mereka putus sekolah. “Mereka turun ke jalan bukan karena mereka nggak mau sekolah, tapi karena mereka nggak punya modal,” tegasnya.

Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih pada anak-anak jalanan dengan menyediakan pendidikan gratis. Sebab usia mereka seharusnya sekolah, bukan berada di jalanan.