fbpx

Redupnya Intelektual Kader HMI

image
Oleh: Muhammad Faqih*
Sejarah
Bulan Oktober 1946 berdiri Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY), sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa di Yogyakarta waktu itu yang anggotanya meliputi mahasiswa BPT Gadjah Mada, STT, STI. Di Solo tahun 1946 berdiri Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI). Kedua organisasi itu berIdeologi komunis dan tidak satupun diantara organisasi mahasiswa itu yang berorientasi Islam.
Lafran Pane, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) yang kini menjadi Universitas Islam Indonesia (UII) yang baru duduk di semester 2 mengadakan obrolan bersama kawan-kawan mengenai gagasan pembentukan organisasi mahasiswa Islam.
Yang kemudian Lafran Pane mengundang mahasiswa Islam yang ada di Yogyakarta baik yang ada di STI, Balai Tinggi Gadjah Mada, Sekolah Tinggi Teknik (STT), untuk menghadiri rapat membicarakan maksud tersebut.
Maka tepat pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 H atau sederhananya 5 Februari 1947 setelah 2 tahun indonesia merdeka, lahirlah organisasi islam yang konsisten berjuang untuk bangsa hingga sampai saat ini dan menjadi umur panjang hmi selama 68 tahun yang lalu menjadi tonggak bersejarah berdirinya HMI.
Perjalanan 68 tahun Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah menuangkan tinta sejarah di pentas lokal dan nasional. Banyak tokoh nasional dan lokal telah dilahirkan oleh organisasi yang lahir dari salah 1 gagasan insan akademis “Lafran Pane” HMI pun diharapkan tetap konsisten memberikan kontribusinya dalam mengisi, mengawal dan megarahkan arah perjalanan bangsa.
Saat masa Orde Baru tantangan HMI memang lebih nyata HMI berhadapan dengan hegemoni negara yang berusaha untuk menjadikan semua sumber civil society terkontrol oleh negara melalui ideologisasi Pancasila. Gerak organisasi kemahasiswaan juga terbatasi dengan adanya program normalisasi kampus yang digalakkan menteri pendidikan saat itu meski terpecah antara garis pro-asas tunggal dan kontra-asas tunggal, model gerakannya tidak sampai anarkis.
Justru pada saat ruang gerak ormas kemahasiswaan terbatas, nuansa intelektual gerakan HMI menjadi lebih terasa. Banyak muncul kader baru dengan kemampuan intelektual yang mapan. Inilah yang kemudian mengharumkan nama HMI dengan melahirkan para tokoh di zaman Orde Baru dan HMI menjadi salah satu organisasi kemahasiswaan yang paling siap menyediakan kader pemimpin intelektual yang dibutuhkan negara.
Di satu sisi, mereka mendapat tekanan dalam mengembangkan diri di kampus. Di pihak lain, produknya dibutuhkan negara untuk mengisi berbagai posisi strategis #LuarBiasa.
Tapi itu semua telah hilang entah kemana perginya arah pengkaderan HMI justru makin tidak jelas orientasinya. Eksistensinya justru terpusat di alumninya sementara HMI sebagai organisasi pengkaderan malah seperti kehilangan arah. Sampai sekarang, belum muncul tokoh sentral dalam jagat nasional. Jika dulu mantan ketua umum PB HMI selalu menjadi tokoh nasional, kini belum muncul lagi. Nurcholish Majid, Akbar Tanjung, dan Anas Urbaningrum adalah contoh aktivis HMI yang kemudian menjadi tokoh sentral di jagat politik nasional.
Lahirnya tokoh-tokoh itu barangkali karena mereka tidak hanya mapan dalam ”kerajinan” politik, tapi juga punya landasan intelektual yang memadai. Siapa lagi ketua umum PB HMI pasca-Reformasi yang muncul sebagai tokoh intelektual maupun politik? Sepertinya tidak kelihatan sama sekali. Output pengkaderan HMI kini kalah dengan PMII dan GMNI yang berhasil menempatkan para teknokrat yang belakangan banyak menduduki posisi strategis.
Kuatnya para alumni HMI tampaknya juga menjadi semacam ”berkah merugikan” bagi pengkaderan HMI. Aktivis HMI sekarang cenderung terjebak dalam ketergantungan kepada alumni. Akibatnya mereka banyak yang terseret dalam pertarungan politik alumni, sungguh ironis HMI di masa kekinian.
Harapan Kader Di Milad Ke 69
Kini tinggal menghitung Jam Himpunan Mahasiswa Islam beranjak Ke umur yang lebih tinggi di acara Miladnya yang ke 69 semoga Tradisi intelektualisme HMI kembali menjadi arus utama pengkaderan. Bahwa setelah menjadi alumni memilih sebagai politisi maupun teknokrat, birokrat, maka intelektualisme justru menjadi modal dasar mereka dalam jagat praktis.
HMI sebagai organisasi perjuangan harus mampu membangun citra dirinya sebagai organisasi penggerak. Mengartikulasikan cita-cita masa depan merupakan agenda utama gerakan kader  hari ini baik di tingkat (PB, BADKO, CABANG dan KOMISARIAT) Bangun kembali aktifitas gerakannya dengan inovasi gerakan merupakan langkah sederhana guna mencapai visi besar gerakan yang termaktub dalam AD/ART Pasal 4 “Terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT”.
Juga HMI harus turut tergugah untuk membangun ide besar tentang mimpi yang setinggi-tingginya, karena jika HMI tanpa visi maka kadernya juga tidak akan jelas arah geraknya, visi tanpa aksi hanya mimpi-mimpi yang tidak dapat terealisasi.
Dalam konteks gerakan HMI harus memiliki blue print gerakan perjuangan yang disusun dari aspek konsepsi hingga pada perangkat teknis. Dengan adanya blue print intelektual dan gerakan HMI akan terhindar dari gerakan-gerakan perjuangan yang sporadis dan reaksioner. Selama ini HMI terjebak pada model gerakan yang berbasis pada isu-isu politik insidental, sehingga hanya bersifat momentum dan rawan penunggangan.
Gerakan HMI seringkali insidental karena diburu oleh momen politik. Bahkan tidak jarang HMI hanya menari dalam isu yang dikreasikan kelompok lain karena pada dasarnya gerakan HMI selama ini tidak lahir dari intelektual HMI yang berdimensi strategis.
Oleh karenanya penulis sangat berharap kepada seluruh kader HMI se-Nusantara di hari Milad yang ke 69 ini terlebih Cabang Ciputat yang sampai saat ini menjadi Cabang yang istimewa harus menjadi pionir dalam wilayah intelektual dan gerakannya dan jangan lupa PuraPuraBahagia.
Penulis adalah Kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Cabang Ciputat.

Be the first to comment on "Redupnya Intelektual Kader HMI"

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: